METROPOLIS

Pertahankan Pertanian, Ratusan Warga Loa Kulu Tolak Keras Pertambangan

Suasana Aksi Gabungan Warga Menolak Aktivitas Tambang di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu. (Foto: Elmo/Kate.id)

KUTAI KARTANEGARA, Kate.id – Ratusan warga dari Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tergabung dari Desa Sumber Sari, Ponoragan, sepakat melakukan aksi penolakan aktivitas tambang batu bara di wilayah mereka.

Penolakan ini berdasarkan tuntutan para warga yang mayoritas adalah seorang petani. Dengan luas lahan persawahan sekira 1.500 hektare, aktivitas pertambangan dalam jangka panjang dapat mencemari perairan di Sungai Pelay. Yang menjadi penghidupan warga di tiga wilayah Loa Kulu dalam bertani.

“Awalnya saya dapat informasi dari pekan lalu, kami tindak lanjuti dan sudah ada kegiatan di sini. Kemudian kami dari masyarakat tentunya tidak terima dengan adanya kegiatan ini. Kami bersepakat bahwa masyarakat menolak segala aktivitas tambang yang ada di Desa Sumber Sari,” terang Kepala Desa Sumber Sari Sutarno kepada awak media, Rabu (3/8/2022).

Kejadian aktivitas pertambangan ini bukanlah yang pertama kali di Desa Sumber Sari. Agar tidak terjadi hal tidak baik di masa mendatang, gabungan warga menolak tiap pertambangan. Legal maupun ilegal.

Terlebih Desa Sumber Sari menyandang status Desa Wisata sejak 2013. Dan ditetapkan sebagai wilayah lumbung pangan, sebagaimana Desa Sumber Sari adalah kawasan pengembangan tanaman padi.

“Kami sangat menentang adanya aktivitas (pertambangan) ini. Kami ingin tetap menjadi kawasan tanaman pangan, karena 90 persen warga kami adalah petani. Tuntutan kami jelas, yakni tidak ada tambang di Desa Sumber Sari baik legal maupun ilegal,” tegasnya.

Sutarno dan warga setempat meyakini bahwa aktivitas tambang tersebut tidak legal. Karena sejauh ini pihak desa tidak ada menerima adanya laporan, koordinasi, atau pun permohonan izin sama sekali atas aktivitas yang terjadi.

Bahkan alat-alat yang digunakan untuk aktivitas tersebut ada sebanyak 10 unit, namun tidak ada tanda-tanda berlangsungnya pengangkutan benda emas hitam tersebut, karena oknum tidak ada melalui jalur desa.

Setelah ratusan warga menuju lokasi pertambangan yang terletak di perbatasan Sumber Sari dan Loh Sumber untik menemui pihak penambang. Upaya tersebut tidak berhasil. Namun, hasil dari aksi ini berakhir dengan kesepakatan pihak Polsek Loa Kulu yang berjanji memastikan aktivitas penambangan itu tidak lagi berjalan. 

Sementara itu seorang petani asal Desa Sumber Sari Hariyono Kusnan turut menyampaikan dampak yang akan dirasakan setiap petani apabila aktivitas pertambangan ini terus berlanjut. Yakni, sumber air dari Sungai Pelay akan keruh. Ke depan hal itu akan mempengaruhi penyiraman tanaman akibat keruhnya air.

“Kemarin itu kami berkebun pun sudah terasa, kami mau menyiram tanaman air sudah tidak karuan keruhnya, cuman kena air hujan baru jernih lagi,” ungkap Hariyono.

Dijelaskan Hariyono, petani sayur sewaktu-waktu harus menyiram hasil taninya setiap pagi dan sore hari. Oleh karena itu, air adalah keperluan krusial dalam hari-hari pekerjaan seorang petani. Hariyono sendiri biasa bertanam sayuran jenis sawi, bayam, kacang panjang, hingga tomat.

Dan ketika tanaman sayuran tersebut disiram dengan air keruh, maka tanaman akan layu, bahkan kena jamur. Secara tegas Hariyono mengatakan bahwa petani sayur dalam mencari nafkah juga bergantung pada air.

“Di situlah penghasilan kami, jadi kalau ini terganggu pasti terasa. Karena tanaman kalau berkelanjutan pasti layu, rusak dan akan gagal panen,” pungkasnya. (lmo)

Editor: Lukman Maulana

Comments

POPULER

To Top