OLAHRAGA

Upaya Dispora Kutai Kartanegara Lestarikan Olahraga Tradisional di Tengah Kemajuan Zaman

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kutai Kartanegara Aji Ali Husni. (Foto: Elmo/Kate.id)

OLAHRAGA Tradisional (oltrad) merupakan sebuah permainan asli rakyat pada jaman nenek moyang terdahulu. Oltrad sendiri dapat disebut sebagai budaya yang patut dilestarikan atas nilai tingginya. Salah satunya Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang memiliki banyak oltrad.

Di tengah kemajuan bangsa dalam hal teknologi, budaya ini secara perlahan menggeser dari kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Ketimbang bermain begasing, enggrang dan oltrad lainnya, mereka lebih memilih bermain gadget dan ponsel pintar dengan permainan online.

Stigma pergeseran ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar dalam terus melestarikan oltrad di tengah zaman modern ini. Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), menjadikan oltrad sebagai muatan lokal di tingkat SD dan SMP adalah target mereka dalam melestarikan oltrad.

“Jadi kami berencana menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Sehingga oltrad dapat diimplementasikan bagi anak-anak di SD dan SMP,” ujar Kepala Dispora Kukar Aji Ali Husni.

Dia menjelaskan, oltrad tidak perlu banyak peralatan ataupun lokasi yang memakan banyak biaya. Bermodal alat sederhana yang mudah didapat dengan lapangan luas, oltrad sudah dapat dinikmati.

“Karena oltrad ini juga dapat membuat anak-anak mengenal satu sama lain dan membangum kebersamaan karena berinteraksi langsung. Kalau di game online mereka tidak saling bertemu tapi kalau ini mereka langsung berinteraksi,” tegasnya.

Salah satu upaya melestarikan olahraga ini juga melalui kejuaraan nasional seperti Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas). Yang berada dibawah naungan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kukar.

Senada dengan Kepala Disporas, Ketua KORMI Kukar Lukman juga berharap oltrad dapat masuk dalam kurikulum muatan lokal. Terlebih di seluruh sekolah Kukar, sehingga bila ada bibit-bibit potensi di kecamatan, KORMI dapat membinanya hingga berprestasi bagi daerah.

“Karena olahraga itu tidak hanya melihat prestasi, tetapi ada hal-hal nilai budaya yang harus kita kembangkan. Hampir seluruh Indonesia itu sudah hampir tinggi geliat olahraga tradisional,” tandas Lukman. (lmo)

Editor: Lukman Maulana

Comments

POPULER

To Top