METROPOLIS

Museum Nelayan Pela, Wadah Edukasi Pesut dan Nelayan Ramah Lingkungan

(Kepala Desa Pela, Supyan Noor bersama Ketua Pokdarwis, Alimin Azarbaijan saat Memandu Pengunjung di Museum Nelayan, Foto : Elmo/Kate.id)

Kutai Kartanegara, Kate.id – Selain menyuguhkan pemandangan alam seperti matahari terbenam di Danau Semayang dan Pesut Mahakam yang berlalu lalang. Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) juga menyediakan Museum Nelayan Pela bagi para pelancong wisata.

Museum ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang menampilkan beragam alat tangkap nelayan air tawar maupun literasi bagi Pesut Mahakam. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pela, Alimin Azarbaijan menyebut lahirnya museum ini berasal dari sosialisasi bersama Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim.

“Waktu kita diskusi diminta tolong di Pela ini ada tempat yang isinya alat tangkap nelayan ramah lingkungan. Kemudian dengan Kades dan Pokdarwis memikirkan apa yang bagus untuk dilakukan. Jadi kami pilihlah Museum Nelayan, sebagai branding di desa kita,” ungkap Alimin kepada Kate.id, Sabtu (14/5/2022) kemarin.

Dalam museum yang berlantai dua ini, ditampilkan berbagai macam alat tangkap nelayan yang ramah lingkungan bagi pengunjung. Tidak hanya alat tangkap nelayan saja, Alimin juga menyediakan konten edukasi berupa literasi berbahasa Inggris dan Indonesia yang dipasang di dinding museum.

“Dalam museum tersebut ada penjelasan dan informasi tentang pesut mahakam dan alat tangkap nelayan yang ramah lingkungan,” terangnya.

Museum ini sendiri dibangun berkat bantuan beberapa pihak. Diantaranya adalah Pertamina Hulu Mahakam dengan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI). Yang dulunya rumah kosong tidak terpakai seorang warga, kini disulap menjadi museum.

“Jadi ini berdirinya di 2020, sedangkan konsep awal di 2018. Dan pada 2021 sudah menggunakan barcode, jadi sudah digitalisasi juga,” ujar Alimin.

Dari cerita Kepala Desa Pela, Supyan Noor. Tujuan berdirinya museum ini juga berhubungan dengan peraturan desa (Perdes) yang dibuatnya pada tahun 2018 terkait nelayan ramah lingkungan. Mengingat orang terdahulu di desa ini yang menggunakan alat-alat tangkap tradisional dan ramah lingkungan yang. Kini sudah mulai bergeser kepada alat-alat tangkap yang baru.

“Walaupun penggunanya sama, cuma fungsi dan bentuknya diperbarui ini juga merupakan pembelajaran untuk generasi yang akan datang,” tutur Supyan.

Semua alat yang dipajang di museum ini adalah alat tangkap yang digunakan nelayan sejak dulu kala. Seperti rawai, bubu, tombak, jala dan rengge. Supyan sebut saat ini secepatnya sudah melakukan edukasi untuk masa-masa yang akan datang.

“Bahwa ini lah alat tangkap kami dulu orang-orang tua kita menangkap ikan dulu, sekarang dengan berkembangnya jaman anak anak kita tidak mengenal lagi. Untuk saat ini saja mereka tidak mengenal lagi alat-alat tangkap tradisional serta fungsi nya, mereka tidak paham termasuk cara pasangnya. Karena ada pergeseran nilai,” ucapnya.

Berbicara tengang alat tangkap tradisional ini, Supyan juga menyebutkan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kutipnya alat ini bersifat monopoli, diantaranya adalah setrum air, pagungan dan sawaran. Rengge juga termasuk apabila dipasang di sembarang tempat. Disitulah perdes yang dibuatnya berfungsi untuk dijadikan dasar sebagai pengawasan nelayan.

“Saat alat itu digunakan ternyata hasil tangkap alat ini berkurang setiap tahunnya akhirnya kita melihat oh ini penyebabnya, makanya kita buatkan peraturan,” urai Supyan.

Dirinya juga berharap kelestarian ikan maupun Pesut Mahakam di Pela ini tetap terjaga dari dimantapkannya perdes. Hal ini juga untuk menggaet kearifan lokal desa dengan melibatkan pemangku adat untuk edukasi bagi masyarakat. (lmo)

Comments

POPULER

To Top