HUKUM & KRIMINAL

Lapas Perempuan Tenggarong Bina Kepribadian dan Kemandirian Napi

Kepala Lapas Perempuan Kelas II A Tenggarong Sri Astiana. (Foto: Istimewa)

KUTAI KARTANEGARA, Kate.id – Lembaga pemasyarakatan (Lapas) di tengah masyarakat biasa dikenal sebagai tempat yang menakutkan sebagai penampung narapidana (napi). Tetapi kenyataannya lapas adalah tempat pembinaan bagi napi, baik kepribadian maupun kemandirian.

Sebagaimana disampaikan Kepala Lapas Perempuan (LPP) Kelas II A Tenggarong Sri Astiana saat ditemui awak media di Ruang Kerjanya, Kamis (2/12/2021) kemarin.

Sri mengatakan, para napi atau warga binaan ini masuk ke lapas karena putusan pengadilan yang menyatakan mereka bersalah. Oleh karena itu di sini mereka diberi pembinaan kepribadian maupun kemandirian.

Mulai dari pembinaan kepribadian, di mana para warga binaan ini lebih diajak untuk menjadi lebih baik pribadinya. Seperti rohani, melalui kegiatan keagamaan. Bagi muslim, meliputi zikir, mengaji, maupun ceramah. Untuk nonmuslim disediakan pendeta, dan ini LPP bekerja sama dengan pihak-pihak dari luar, seperti kementerian agama dan pesantren.

“Hari Senin sampai Kamis dari jam 09.00-11.00 Wita siang mereka belajar mengaji, sedangkan siangnya belajar alkitab bagi nonmuslim. Hari Kamis pagi, ada ustaz yang hadir jadi belajar fikih, doa bersama. Hari Jumatnya, biasanya ada yasinan,” terangnya.

“Kenapa kami galakkan itu, kalau sudah menjadi rutinitas ibadah akan menjadi kebiasaan untuk mereka. Jika sebelumnya suka hiburan malam ataupun jarang ibadah, itu secara perlahan hilang, makanya mereka bilang di lapas ibadahnya bisa tepat waktu,” ungkap Sri.

Kemudian selain itu juga ada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) karena ada yang buta huruf. Bahkan ada pramuka sebagai bentuk kesadaran berbangsa dan bernegara. Selain itu mereka juga mengadakan konseling, terutamanya karena perempuan itu butuh banget didengar karena hobi curhat.

“Pada saat mereka curhat dengan orang yang tidak tepat, bukannya dapat solusi tetapi dapat provokasi. Kalau dia curhatnya tentang kangen keluarga, rindu keluarga dan masalah pribadi, kalau salah-salah orang maka salah juga penyelesainnya,” ujar Sri.

Untuk itu Pihak LPP bekerja sama dengan psikolog di Kukar, secara rutin setiap bulan dilakukan konseling kelompok. “Dari situ terlihat siapa sih yang memang berpotensi dengan kejiwaannya, orang yang tertutup, orang yang menyendiri dan orang yang keras,” jelas Sri.

Pada saat ini pihaknya berkewajiban membina. Mereka juga punya hak dan kewajiban sehingga LPP kolaborasikan antara petugas dan warga binaan dan keluarga.

“Kalau kita sendiri yang bergerak dan tidak ada dukungan dari keluarga, tidak bisa narapidana berubah atau menjalani kehidupan dengan nyaman selama ada di lapas ini,” tuturnya

Ini dikarenakan warga binaan jauh dari keluarga. Jika tidak nyaman kasihan mereka menjalani kehidupan di lapas terasa akan sangat lama.

“Karena masa tahanan mereka ada yang enam tahun ke atas bahkan ada yang seumur hidup,” pungkasnya. (lmo)

Editor: Lukman Maulana

Comments

POPULER

To Top