METROPOLIS

Dinas Ketapang Pastikan Pekarangan Pangan Lestari Kutai Kartanegara Terlaksana Baik

Dinas Ketahanan Pangan Kukar saat Melakukan Pemantauan ke KWT di Samboja yang Mengikuti Program P2L. (Foto: Istimewa)

KUTAI KARTANEGARA, Kate.id – Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kutai Kartanegara (Kukar) memastikan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Hal ini terungkap saat pihak dinas melakukan kegiatan pembinaan, monitoring dan evaluasi ke beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Kukar sebagai penerima manfaat kegiatan P2L.

Kamis  (11/11/2021) pekan lalu, Dinas Ketapang Kukar melakukan kunjungan ke KWT Karya Lestari di Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja  dan KWT Papadaan Semoga Jaya di Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Muara Jawa. Setelah beberapa hari sebelumnya melakukan kunjungan di kecamatan lain.

Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Disketapang Kukar Sri Novi Hartati menyampaikan, kedua KWT tersebut merupakan kelompok penerima manfaat dari kegiatan P2L yang merupakan program Disketapang. Dengan anggaran bersumber dari APBN melalui Badan Ketahanan Pangan Pusat Kementerian Pertanian (Ketapang).

“Untuk tahun 2021 ini ada sebanyak 18 Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Kukar sebagai penerima manfaat kegiatan P2L,” ungkap Novi.

Sementara itu staf seksi Konsumsi Pangan Ismid Rizal mengatakan bahwa kunjungan ke KWT di Kukar ini sebagai evaluasi pelaksanaan P2L. Khususnya  KWT Karya Lestari sebagai kelompok kategori tahap Penumbuhan yang mendapatkan bantuan dana sebesar Rp 60 juta, dan KWT Papadaan Semoga Jaya sebagai kelompok kategori tahap pengembangan dengan bantuan dana sebesar Rp 15 juta.

Rizal selaku penanggung jawab/pengelola kegiatan P2L APBN Kabupaten Kukar mengatakan, kelompok kategori tahap penumbuhan adalah kelompok yang baru pertama kali mendapatkan bantuan dana atau manfaat dari kegiatan P2L. Sehingga hasil monitoring dan evaluasi ini sangat penting sebagai bahan pertimbangan agar bisa diusulkan untuk menerima bantuan dana di tahun 2022 dari APBN.

Sedangkan kelompok kategori tahap pengembangan adalah kelompok yang tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2020 sudah pernah dikategorikan sebagai kelompok tahap penumbuhan. Untuk KWT kategori tahap pengembangan sudah tidak lagi mendapatkan bantuan dana dari  kegiatan P2L di tahun berikutnya, karena sudah menjadi kelompok kategori tahap mandiri. Yaitu kelompok yang keberlanjutan kegiatannya sudah tidak berasal dari APBN lagi.

“Berdasarkan Pembinaan dan Monev yang sudah pernah dilaksanakan di beberapa kelompok lainnya manfaat kegiatan P2L ini. Terbukti dengan beberapa kali kami ke lapangan, sudah banyak manfaat yang didapatkan oleh  KWT,” sebutnya.

“Sebelum kegiatan P2L ini mereka terima,  biasanya kebutuhan sayur-mayur  masih membeli pada pedagang sayur. Sekarang sudah tidak beli lagi, karena sudah tersedia di pekarangan rumah. Bahkan saat ini kebutuhan sayur tersebut tidak hanya dikonsumsi sebagai pemenuhan  gizi dan pangan bagi keluarga, tetapi bisa dijual untuk menambah pendapatakan keluarga,” ungkap Rizal.

Adapun untuk Kegiatan P2L ini, bebernya, terdiri dari empat komponen. Pertama rumah bibit, demplot, pertanaman/pekarangan anggota dan penanganan pascapanen. Pada komponen pasca panen ini KWT berkewajiban melakukan penjualan terhadap hasil panen yang ada di demplot.

“Sehingga uang hasil penjualan tersebut bisa dijadikan sebagai pendapatan kelompok. Salah satunya dengan melakukan pengemasan/packing produk sayur-mayur agar terlihat menarik, seperti yang ada di minimarket,” tutupnya. (lmo)

Editor: Lukman Maulana

Comments

BERITA TERBARU

To Top