POLITIK

Milad Sarekat Islam, Generasi Muda Diajak Teladani Perjuangan Samanhudi

Anggota DPR RI Abdul Kharis Almasyhari (batik coklat). (Foto : Ist/mr)

SOLO, Kate.id – Anggota DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengapresiasi penyelenggaraan Bedah Buku Milad 116 Sarekat Islam yang diselenggarakan dengan protokol kesehatan ketat di masa pandemi. Kharis mengatakan, buku Sarekat Islam yang ditulis Adityawan Suharto menggambarkan semangat dan perjuangan Samanhudi dalam mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) untuk mengimbangi pengaruh pedangan asing pada masa itu.

Menurut Kharis, generasi muda saat ini bisa mengambil hikmah dan meneladani semangat Samanhudi. Hal itu disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Bedah Buku Sarekat Islam Surakarta Tahun 1912-1923 yang diprakarsai Museum Samanhudi di Omah Parang Kesit, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (16/10/2021). Bedah buku menghadirkan narasumber Adityawan Suharto (Penulis Buku) dan Ms. Ka’ban (Pemerhati Pergerakan Islam).

“Kami bangga, karena buku ini ditulis oleh anak muda dengan sudut pandang yang berbeda. Mas Adityawan seorang yang masih muda tapi memiliki karya unik, yaitu memandang Sarikat Islam dalam kacamata lokal yaitu Surakarta,” ungkap Abdul Kharis.

Kegiatan dihadiri berbagai elemen masyarakat. Tampak hadir dalam bedah buku ini Bambang Sutrisno (Anggota DPD RI), Perwakilan dari Dinas Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, Pengurus Museum-Museum se-Surakarta dan perwakilan keluarga H. Samanhudi. Hadir pula mahasiwa dari berbagai perguruan tinggi yang memiliki perhatian mempelajari Sejarah Bangsa.

“Membaca buku ini, saya merasakan jadi bagian dari perjuangan Samanhudi dimasa itu. Apalagi Ketika saya jalan kaki keliling menyelusuri Kampung Laweyan, terbayang betapa sulitnya Samanhudi mengajak masyarakat untuk berjuang dan bergerak. Hanya orang-orang yang berjiwa pemberani dan tahan banting saja yang mau bergabung bersama Samanhudi,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI tersebut.

Kharis juga mengaku senang karena banyak mahasiswa yang hadir dalam penyelenggaraan bedah buku tersebut. “Selamat menikmati bedah buku ini, karena buku adalah jendela dunia,” sambung politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Dalam Buku Sarekat Islam Surakarta Tahun 1912-1923, Adityawan sebagai penulis buku lebih menyoroti latar belakang, kronologis, gambaran suasana dan hal-hal yang tidak banyak diketahui orang. Bahkan banyak menyebut tokoh-tokoh lokal yang membersamai perjuangan Samanhudi seperti Bakri dan Marto Harsono.

Sementara itu, Pemerhati Pergerakan Islam, Ka’ban menyampaikan bahwa mengetahui sejarah merupakan proses pencerdasan. Membaca sejarah menimbulkan pencerdasan berpikir. Sarekat Islam merupakan even sejarah kebangkitan perjuangan melawan penjajahan.

“Mengisi babak baru perjuangan melawan penjajah, karena setelah perjuangan Pangeran Diponegoro tahun 1825 nyaris tidak ada gerakan. Dan terbukti banyak tokoh Sarekat Islam menjadi pahlawan nasional. Mereka memiliki saham untuk Indonesia merdeka” papar Ka’ban.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ruh Sarekat Islam Samanhudi adalah membangun ekonomi kaum pribumi. “Sehingga di awal berdirinya menghindari konfrontasi dengan pemerintah Hindia Belanda. Karena sifat perjuangannya membangun ekonomi, maka dapat berkembang dan terus menjadi gerakan penyadaran. Sebuah peristiwa sederhana tetapi melahirkan sesuatu yang besar,” ungkap Ka’ban.

Ka’ban pun mengajak generasi muda untuk terus mempelajari sejarah kehidupan tokoh-tokoh perjuangan, jangan sampai menjadi ironi, dicantumkan sebagai pahlawan nasional, tetapi peninggalannya tidak bisa dirasakan. (luk)

Editor: Lukman Maulana

Comments

BERITA TERBARU

To Top