MIMBAR JUMAT

Maulid Nabi Muhammad SAW: Antara Prinsip dan Sikap

Ilustrasi.

Oleh: Ahmad Syahrin Thoriq, pengasuh Ponpes Subulana Bontang.

KEDEWASAAN beragama seseorang itu tampak dari kemampuannya dalam memadukan antara keteguhan prinsip, dengan keluwesan dalam bersikap. Sebuah contoh yang indah sebagai ibrah, Imam Ahmad pernah ditanya, “Bolehkah saya salat di belakang imam yang tidak berwudhu lagi setelah mimisan?” Karena dalam mazhab beliau bekam atau mimisan adalah termasuk perkara yang dianggap membatalkan wudu.

Mendengar pertanyaan ini sang imam menjawab dengan nada marah, “Apakah kamu tidak mau shalat di belakang Imam seperti Sa’id bin Al-Musayyib dan Imam Malik bin Anas?” Yakni dua ulama mazhab yang berpendapat bahwa orang yang mimisan tidak perlu berwudu lagi.

Sah saja kita mengikut pendapat bahwa suatu perkara semisal Qunut itu hukumnya bid’ah. Asalkan tidak diiringi vonis bahwa yang berqunut shubuh adalah ahli bid’ah dan pasti salah. Tentu sejarah ahlussunnah wal jama’ah seluruhnya akan digenangi oleh darah, jika setiap fatwa haram atau bid’ah semuanya diiringi dengan sikap memusuhi dan membenci.

Tak dipilah antara perkara ushuliyah (pokok) dari furu’iyah (cabang), tak dibedakan mana yang ulama telah mujma’ alaih (sepakat) dengan yang masih ranah khilafiyah (berbeda pendapat).

Mereka yang berpendapat bahwa hukum peringatan maulid Nabi adalah bid’ah, tetapi memiliki sikap toleransi dan saling menghargai, lebih saya hormati. Daripada yang mengaku pro maulid, namun menebarkan kebencian kepada pihak yang kontra.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika beliau berkata :

فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara tahunan, hal ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang. Mereka pun bisa mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam, sebagaimana yang aku telah jelaskan sebelumnya bahwasanya hal itu dianggap baik oleh sebagian orang tetapi tidak dianggap baik oleh mukmin pilihan.”

Lihatlah, meskipun Ibnu Taimiyah dikenal luas menolak segala bentuk peringatan Maulid Nabi, namun hal itu sama sekali tidak menghalangi beliau dari bisa bersikap adil dalam menilai.

Lalu siapa kita jika dibanding para ulama. Sehingga merasa pantas dan puas beragama dengan cara yang keras lagi beringas. Tidakkah kita takut itu telah jauh melampaui batas? (***)

Comments

BERITA TERBARU

To Top