SASTRA

Berharap Pandemi Segera Berakhir, Pemilik Salon di Bontang Bikin Musikalisasi Puisi

Asti Senopati. (Foto: Dok. Pribadi)

PANDEMI Covid-19 yang telah berlangsung setahun lebih telah memunculkan kesedihan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Kesedihan lantaran ditinggalkan anggota keluarga yang meninggal lantaran virus asal Wuhan ini, maupun kesedihan akibat dampak ekonomi dan sosial yang diakibatkannya.

Di satu sisi, kesedihan tersebut memantik kreativitas para peggiat seni sebagai wujud kepedulian di tengah pandemi yang tak kunjung berakhir. Mereka menyuarakan kegundahan dan kepiluan masyarakat melalui karya-karyanya, seraya menyisipkan doa supaya wabah segera diangkat dari muka bumi.

Asti Senopati adalah salah satunya, pemilik salon kecantikan di Bontang, Kaltim ini ikut terketuk untuk berkarya dengan puisi sederhana yang diberi tajuk ‘Covid-19’. Lewat untaian kata-katanya, perempuan penggemar seni sastra ini mengisahkan bagaimana virus yang membunuh jutaan orang tersebut telah menghancurkan sedemikian kehidupan di dunia.

Dengan penuh penghayatan, Asti mendeskripsikan entitas ini dengan bahasa yang yang indah dan getir secara bersamaan. Bagaimana dia menganggap Covid-19 sebagai makhluk, sebagai tentara kecil yang diutus Tuhan ke muka bumi untuk menguji manusia. Meski berukuran sangat kecil, namun telah mampu menciptakan kepanikan di mana-mana.

“Saya tulis tentang Covid ini diawali dengan prihatin Covid yang makin membeludak. Terasa tak terjawab kapan Covid-19 di muka bumi ini selesai. Sungguh kita manusia sangat takut menghadapinya,” beber Asti kepada Kate.id.

Malahan yang lebih menyayat hati, sebut Asti, kematian karena Covid. Pasalnya keluarga hanya sanggup jadi penghantar dari jauh. Semua penderitaan itu disuarakannya dengan begitu menyentuh melalui pembacaan puisinya.

“Saya pribadi jujur juga ketakutan dengan hal ini. Karena usia adalah rahasia Allah. Dan saat saya menulis karya ini adalah bentuk manusia dengan Tuhannya. Memohon selesai untuk semua ini. Tidak bisa dimungkiri sebenarnya kita lelah dengan ujian turunnya Covid-19 ini,” sebut perempuan bernama asli Puji Astuti ini.

Tetapi, sambung Asti, Allah Maha Kuasa. Dalam hal ini manusia hanya sanggup memohon. Dan semenjak adanya Covid, hidup tak lagi berpegangan satu sama lain. “Bahkan sakitpun tak bisa ditemani. Sungguh ini membuat kita menangis dan ketakutan yang tidak bisa dibohongi pada siapapun,” ujarnya.

Dari situlah Asti lantas merenung. Dia mulai menulis untuk menyuarakan betapa masyarakat butuh agar ‘ujian’ Covid-19 di muka bumi ini segera selesai. “Kami ingin hidup normal kembali,” imbuh perempuan 42 tahun ini.

Asti mengaku sengaja menyuarakan kegelisahannya tersebut dalam wujud musikalisasi puisi. Selain ingin totalitas, dia juga ingin karyanya ini bisa disimak dengan cermat, dengan hati yang dalam. Agar bentuk doa dalam puisi ini bisa diaminkan bagi yang mendengarnya.

“Saat menulis saya tidak butuh waktu lama. Karena ini sudah jadi pandangan setiap hari dan tinggal meluapkan pada tulisan yang tersusun untuk jadi puisi. Saat merekam suara pun cukup pakai ponsel saja,” kata dia.

Awalnya, durasi musikalisasi puisi ini sampai sebelas menit. Namun kemudian direvisi menjadi empat menit. “Selesai baru tanggal 6 kemarin. Kalau tayang ada di radio ya, di televisi, dan beberapa media. Untuk lanjutan ke depannya masih saya usahakan untuk lebih lagi, karena ini baru selesai kemarin,” ungkap Asti.

“Harapannya (puisi ini) bisa disimak dengan baik, jadi doa bersama dan insyaallah saya akan ada lanjutan lagi karya tentang Covid, mungkin beda versi,” pungkas perempuan yang sehari-harinya berprofesi sebagai hair stylist dan makeup artist ini. Adapun video musikalisasi puisi karya Asti Senopati bisa disimak dalam video di bawah ini. (luk)

Editor: Lukman Maulana

Comments

BERITA TERBARU

To Top