MIMBAR JUMAT

Upaya Zuhud Mencegah Eksploitasi Alam

Ilustrasi.

Khotbah I:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Jemaah Jumat yang berbahagia,

Ucapan syukur sudah semestinya menjadi kalimat pembuka khotbah pada kesempatan siang kali ini. Syukur atas segala limpahan nikmat-Nya yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Selanjutnya, semoga selawat dan salam selalu tersanjungkan kepada Nabi Muhammad saw. Beliaulah suri tauladan bagi setiap manusia.

Tak lupa pula, melalui mimbar Jumat ini, khatib mewasiatkan kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian untuk selalu berupaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab takwa adalah sebaik-baiknya bekal untuk kehidupan manusia selanjutnya setelah alam dunia yang fana ini.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Di tengah maraknya kerusakan akhlak, sikap Zuhud menjadi salah satu solusinya! Zuhud adalah sikap mendahulukan urusan Tuhan dan kemanusiaan daripada urusan duniawi pribadi dan kelompok. Zuhud bukan anti kekayaan dan identik dengan kemiskinan, melainkan sikap menjauhi sifat serakah. Keserakahan dalam mengeksploitasi alam sering menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dan kerusakan alam karena sikap yang tidak ramah lingkungan.

Rasulullah SAW pernah mengigatkan adanya watak manusia yang cenderung serakah dalam menguasai sumber daya alam untuk mendapatkan harta yang banyak:

“Sekiranya anak Adam mempunyai satu lembah emas niscaya ia berambisi memiliki dua lembah emas. Dan tiada yang bisa memenuhi mulutnya selain tanah, dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya.” (Hadis Muttafaq ‘alaihi dari Anas ibn Malik RA).

Dorongan untuk menumpuk-numpuk harta termasuk pengambilan sumber daya alam yang tidak terkendali bersumber dari hawa nafsu yang berlebihan. Dorongan inilah yang kemudian membuat sebagian orang menghalalkan segala cara untuk memperolehnya.

Karena itu, Abu Hasan al-Mawardi menyebutkan, “Adapun hawa nafsu merupakan penghalang bagi kebaikan dan penentang akal pikiran, darinya timbul akhlak yang buruk dan pekerjaan yang hina sehingga membuat reputasi orang menjadi rusak dan jalan menuju kejahatan menjadi lancar.”

Dengan demikian, ketika orang sudah tidak memedulikan halal-haram dalam mencari rezeki, tanpa sadar dia telah menuhankan hawa nafsunya. Abdullah ibn Abbas RA sebagaimana dikutip oleh Al-Mawardi di dalam Kitab Adab al-Duny wa al-Din menegaskan bahwa hawa nafsu bisa menjadi Tuhan selain Allah yang suka disembah manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Maka, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhanya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendenganran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatanya-nya? Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkanya sesat). Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” (QS al-Jasiyah: 23)

Fenomena eksploitasi alam alam secara besar-besaran untuk menghasilkan keuntungan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, sejatinya bisa diatasi dengan kesadaran-kesadaran diri bahwa kenikmatan hakiki bukan pada harta benda yang berlimpah, melainkan pada kekayaan hati.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Kekayaan itu bukan disebabkan banyaknya harta, melainkan pada kekayaan jiwa.” (Hadis Mutafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah RA). Sedangkan, kekayaan jiwa muncul tiada lain kembali pada konsep zuhud yang telah disebutkan tadi.

Hal ini paling tidak seperti yang dicerahkan Imam al-Ghazali bahwa Salman al-Farisi RA bertutur, “Jika seseorang hamba telah mampu berzuhud terhadap dunia, maka hatinya akan bersinar penuh hikmah dan anggota badanya akan saling membantu dan mengerjakan ibadah.”

Untuk itu, Imam al-Ghazali menguraikan bahwa zuhud itu ada dua kategori, yaitu zuhud yang berada dalam kapabilitas manusia dan zuhud yang di luar kapabilitas tersebut. Jika seseorang sudah, pertama, tidak lagi mengejar kesenangan dunia yang luput darinya; kedua, mau berbagi kesenangan dunia yang ia miliki kepada sesama; dan ketiga, hatinya tidak lagi berhasrat dan punya niat untuk meraih kesenangan dunia, yang kesemuanya dimaksudkan untuk meraih rida Allah dan pahala-Nya yang agung dengan banyak mengigat mudarat-mudaratnya.

Maka, ketika itu berarti ia telah dikaruniai rasa ketidakinginan terhadap dunia. Itulah yang menurut al-Ghazali yakni rasa “ketidakinginan” sebagai zuhud yang sebenarnya.

Jika zuhud sudah menjadi kesadaran, ia merasa tiada guna dan manfaatnya melakukan eksploitasi alam secara basar-besaran untuk mendapatkan keuntungan tanpa mementingkan akibat yang terjadi dari kegiatan tersebut.

Sebab, pada kenyataannya, hal paling didambakan setiap orang adalah ketenangan batin. Hidup kian terasa tidak nyaman manakala batin semakin menderita. Walaupun hasil eksploitasi alam itu ia gunakan untuk beribadah haji berulang-ulang, ibarat mandi dengan air kotor, kebersihan hati pasti tidak akan didapatkan.

Kata Syekh Utsaimin, setiap orang yang zuhud pasti memiliki sifat wara’, tetapi tidak setiap orang wara’ menjadi zuhud. Sebab, wara’ hanya menjauhi perkara yang dapat menimbulkan kesulitan atau kemudharatan di akhirat nanti. Sementara, zuhud adalah kemampuan menjauhi perkara yang tidak berguna bagi kehidupan di akhirat.

Jika, zuhud lebih luhur ketimbang sifat wara’ sehingga wajar bila zuhud telah menjadi pendoman hidup seseorang, alih-alih perkara yang haram atau syubhat, bahkan perkara yang tidak memberikan nilai manfaat untuk akhirat saja ia tinggalkan. Walhasil, eksploitasi alam secara besar-besaran untuk diambil keuntunganya tidak akan pernah dilakukan karena tidak hanya merugikan di akhirat, tetapi juga membinasakan di dunai karena sifat keserakahan yang ada.

Itu bukan berarti tidak boleh memiliki kekayaan. Sebab, pada dasarnya Islam menghargai hak milik individu. Namun, kekayaan tidak membuatnya buta terhadap aturan Allah. Abu Bakar ash-shiddiq RA adalah orang kaya, tetapi tidak ada yang meragukanya sebagai orang yang zuhud.

Demikian pula, Usman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf RA juga merupakan sederetan orang kaya pada zaman Nabi. Akan tetapi, mereka tidak pernah melakukan cara-cara yang diharamkan Allah dalam memperolah harta kekayaannya itu. Malah sebaliknya, kekayaannya menjadi wasilah meraih rida Allah.

Terakhir, marilah kita renungkan kembali firman Allah SWT berikut:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ الأَخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ (77)

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS al-Qashash: 77)

باَرَكَ اللهُ لِيْ ولَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ َوَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

Khotbah II:

الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَولَا أَنْ هَدَانَا اللهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ صَادِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنُ.

اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَي مُحَمَّدٍ وآلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ إلَي يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ فَأُوْصِيْنِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sekali lagi, Zuhud bukan berarti kemiskinan, melainkan adab terhadap kekayaan dengan cara yang diridhai Allah ketika mencari, memperoleh, dan menyalurkanya. Zuhud adalah sikap batin di mana hati manusia tidak terjerat oleh godaan-godaan dunia (al-hubb ad-dunya). Dunia ditaruh dalam tanganya, sekedar untuk ibadah kepada Allah SWT, bukan diletakkan dalam hatinya. Sehingga menjadi harapan, jika zuhud sudah menjadi kesadaran, maka manusia merasa ridak ada guna dan manfaatnya untuk melakukan sikap serakah.

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وِالمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إنَّكَ أَنْتَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اللَّهُمَّ أَمِتْنَا عَلَى الإِسْلَامِ وَلإيْمَانِ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَلَمِيْنَ، أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ

*Disusun oleh: Nawang Lukman Priyonggo, Alumni Prodi Akidah Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor. Disalin dari laman Suara Muhammadiyah.

Comments

BERITA TERBARU

To Top