MIMBAR JUMAT

Kisah Hikmah Titik Balik Seorang Pengusaha

Ilustrasi.

ALLAH Al-Jabbar, dengan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Dia akan memaksa manusia agar sadar dan kembali kepada-Nya. Ada berjuta cara yang bisa dilakukan-Nya. Salah satunya terungkap dalam kisah ini, yaitu tentang bagaimana “pemaksaan” dari Allah Ta’ala mampu menjadikan seseorang kembali kepada fitrahnya, yaitu mengenal kembali Rabb-nya setelah sekian lama dia melupakannya.

Alkisah, tersebutlah seorang pengusaha kaya yang hidupnya tampak bahagia. Uang bukan masalah baginya. Usahanya maju, dia jarang rugi, hampir semua bisnisnya mendatangkan keuntungan berlipat. Uang itu seakan mengejar-ngejar dirinya. Dia pun memiliki istri yang cantik dan anak-anak sehat dan lucu.

Akan tetapi, di balik kesuksesannya itu ada banyak perilaku buruk yang dia lakukan Pengusaha ini gemar melakukan maksiat. Karena berkantong tebal, dia dengan mudah bisa gonta ganti pasangan alias main perempuan, melakukan kecurangan dalam bisnis, mengonsumsi makanan dan minuman haram, dan aneka kemaksiatan lain.

Sampai suatu ketika dia mengalami sebuah peristiwa yang mengubah hidupnya. Anaknya yang berusia tiga tahun meninggal dunia karena kecelakaan yang disebabkan keteledoran dirinya. Peristiwa itu membawa perubahan dalam dirinya. Dia bertaubat dan bertekad untuk meninggalkan kebiasaan kebiasaan buruk yang biasa dia lakukan. Dia pun mulai belajar melakukan shalat, pergi ke masjid, melaksanakan puasa Ramadhan, dan sebagainya.

Di tengah upaya perbaikan diri itulah, krisis moneter yang menghantam tahun 1998 telah membawa perubahan drastis dalam bisnisnya. Perlahan tapi pasti dia mengalami kebangkrutan Satu persatu perusahaan miliknya gulung tikar dan berpindah tangan Utangnya membengkak sehingga tabungan dan depositonya di bank serta properti dan kendaraannya habis untuk menutupi utang utangnya itu.

Jika sebelumnya kata “gagal” dan “rugi seakan menjauh darinya, sekarang kedua kata itu seakan lekat dengannya. Jika sebelumnya gelimang rupiah demikian mudah dia dapatkan sekarang uang recehan pun seakan enggan mendekat kepadanya. Telah berulang kali dia mencoba bangkit, merintis kembali bisnisnya, akan tetapi berulang kali pula dia gagal. Tumpukan emosi negatif seakan tumpah ruah di otaknya.

Dalam kesulitan hidup yang menghimpit tersebut, dia mempertanyakan keadilan Tuhan. Saat tenggelam dalam kemaksiatan, dia begitu mudahnya rezeki di dapat, tetapi setelah meninggalkan maksiat, rezeki pun ikut meninggalkan dirinya. Apakah ada yang salah? Ke mana doa doa yang selama ini dia panjatkan. Apakah Tuhan tidak mendengar atau tidak sudi mengabulkan doaku? Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang serta akan mengabulkan doa doa dari setiap hamba-Nya? Begitu keluhnya.

Memang, di tengah kesulitan itu kuantitas ibadah semakin berlipat lipat. Namun, itu semua seakan belum cukup untuk mengembalikannya pada “kehidupan normal” Berkali kali dia mendatangi ustaz dan kini untuk meminta doa dan nasihat. Saat diberi doa atau amalan tertentu, dia akan melaksanakannya dengan sungguh sungguh. Namun, lagi-lagi semuanya berakhir dengan kekecewaan. Dia pun mulai meragukan para kiai dan ustaz tersebut yang katanya hanya pandai berteori. Mana buktinya?

Di ambang keputusasaan, pertolongan Allah Ta’ala pun datang melalui salah seorang kenalannya. Dia adalah seorang dosen agama di sebuah perguruan tinggi ternama. Dosen itu tidak membawakan dia uang, menawarkan kerjasama bisnis atau hal lain yang bersifat materi. Namun dia membawakan nasihat yang mampu mengubah cara berpikir mantan pengusaha kaya ini.

Tidak banyak dalil yang dia ungkapkan. Dia hanya memberikan analogi dan perlambang saja. Katanya, seseorang tidak bisa mengisi botol penuh kecap dengan air putih, sebelum kecapnya dibuang terlebih dulu. Baru setelah itu, kita bisa memasukkan air putih. Itu pun masih ada sisa sisa kecap yang belum terbuang sehingga air yang kita masukkan masih akan bercampur dan berwarna hitam.

Air itu harus dibuang lagi sehingga botol benar benar bersih dari kecap. Baru setelah itu air yang kita masukan benar benar bening karena tidak tercampur lagi dengan kecap. Kecap itu dapat diibaratkan sebagai harta yang kita miliki dan air putih itu adalah doa dan amal ibadah yang kita lakukan. Antara maksiat dan kebaikan tidak akan mungkin bisa bersatu.

Oleh karena itu, ketika seseorang ingin mensucikan dirinya, semua kotoran yang ada dalam diri dan harta harus dibuang dan dibersihkan

Ada banyak skenario Allah untuk membersihkan harta seseorang yang menjadikan harta kotor yang dimilikinya benar benar terkuras, mungkin dibangkrutkan usahanya, kena tipu, dan sebagainya. Andaipun semuanya sudah terkuras, boleh jadi masih ada kotoran yang masih tersisa dalam diri dan harta. Allah Ta’ala akan membersihkannya dengan penyakit, musibah, atau lainnya, sembari Dia menahan rezeki dari orang itu.

Nah, ketika dia sudah benar benar bersih, Dzat Yang Mahakuasa akan membukakan jalan rezeki yang halal kepadanya. Yang jadi masalah, apakah kita sabar atau tidak dalam proses pembersihan itu?

Nasihat ini mampu menjawab pertanyaannya selama ini tentang keadilan Ilahi, tentang ijabah doa, tentang makna pertaubatannya. Allah Ta’ala memaksa orang ini dengan mengambil sebagian besar kekayaannya bukan karena benci, sebaliknya Allah Taala amat sayang dan cinta kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Sebab, bagaimana mungkin mengisikan nasi dan sup yang lezat ke dalam mangkuk yang blepotan dengan kotoran. Tentu sangat bijak, jika mangkuk itu dibersihkan terlebih dahulu. Begitu pula qadha Allah, sebelum menuangkan limpahan rahmat dan ampunan Nya, Dia akan membersihkan orang tersebut dari jelaga kemaksiatan yang masih hinggap dalam diri dan hartanya

Beberapa tahun berlalu, mantan penguasa kaya ini sudah berada kembali di jalur kesuksesan bisnisnya. Walau belum sesukses dahulu, akan tetapi tanda-tanda ke arah itu sudah mulai terlihat di hadapannya Ibaratnya, dia tengah mengisi botol nasibnya dengan air putih keberhasilan, setelah dia menumpahkan hitamnya air kemaksiatan. (***)

*Sumber: Buku Asmaul Husna Agar Hidup Lebih Bermakna

Comments

BERITA TERBARU

To Top