SOSOK

Kisah Suwarni, Kepala Sekolah Inovatif Nasional dari Kutai Kartanegara

Kepala SDN 03 Loa Kulu Suwarni, saat menerima penghargaan sebagai Kepsek Inovatif tingkat Nasional. (Foto: Ist)

TENAGA pendidik Kutai Kartanegara (Kukar) mampu mencetak prestasi nasional. Sebagaimana ditorehkan Kepala SDN 03 Loa Kulu Suwarni yang mendulang prestasi emas terpilih sebagai Kepala Sekolah Inovatif tingkat Nasional.

Penghargaan ini diterima dari Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI akhir November lalu. Yang menjadi pertimbangan Kemendikbud memberikan penghargaan karena Suwarni telah membuka program pendidikan inklusi khusus anak berkebutuhan khusus selama sebelas tahun dan program Tilawati Quran sejak 2013.

Perjalanan karier Suwarni di bidang pendidikan cukup panjang dan mengharukan. Pertama kali mengabdi sebagai guru honorer di Jawa dengan gaji Rp 10 ribu/bulan. Selanjutnya dia merantau ke Kukar tahun 1990, mengajar di SDN 013 Filial Dusun Lembu Lompat, Desa Jembayan Dalam, Kecamatan Loa Kulu milik perusahaan perkebunan PT Haspram.

Suwarni mengenang pertama kali mengajar di sana dia mendapatkan honor dari PT Haspram sebesar Rp 25 ribu/bulan. “Jarak dari sekolah Induk SDN 013 Loa Kulu ke tempat mengajar membutuhkan waktu perjalanan selama dua jam dengan berjalan kaki dan pulang mengajar juga memakan waktu dua jam,” ucap Suwarni, Selasa (8/12/2020) siang.

Kecilnya bayaran yang diterima kala itu disyukuri Suwarni. Dia punya prinsip serendah apapun gaji yang diterima, karena senang mengajar, maka harus dijalani dan jangan mengeluh. “Di waktu luang terkadang saya isi dengan kegiatan menanam kopi dan cabai,” kisahnya.

Nasib mujur lantas mendatanginya di 1993. Suwarni mengikuti tes seleksi PNS dan akhirnya lolos. Tugas pertamanya sebagai seorang guru ditempatkan di SMP Terbuka Dusun Lempatan cabang SMPN 02 Loa Kulu. Sebelum menjabat Kepala SDN 03, Suwarni pernah menjabat Kepala SDN 019 Dusun Jongkang, Loa Kulu.

Mengenai sekolah inklusi yang menampung anak berkebutuhan khusus, sejak dibuka 2009 dan menerima SK program 2014, sudah mendidik 37 murid. Ada yang berasal dari Tenggarong dan Loa Janan. Saat ini sisa murid yang masih ditangani sebanyak 20 siswa yang semuanya berasal dari Loa Kulu.

“Setiap tahun ajaran baru, kami hanya terima empat orang saja karena keterbatasan tenaga pengajar,” pungkasnya. (hik)

Editor: Lukman M Fathony

Comments

BERITA TERBARU

To Top