CATATAN

Jangan Biarkan Perjuangan Awang Long Terlupakan

Lukman Maulana. (Foto: Fahmi Fajri)

Oleh: Lukman Maulana*

HARI Pahlawan 10 November diperingati merujuk pada peristiwa heroik pertempuran arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu yang membonceng pasukan Belanda di 1945. Meski begitu, hari ini secara umum diperingati sebagai penghargaan terhadap para pahlawan yang telah berjuang dalam melawan penjajahan dalam upaya meraih kemerdekaan.

Kita mengenal sederet nama pahlawan nasional yang disebut telah memberikan sumbangsih besar dalam kemerdekaan Indonesia. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dengan beragam latar belakang. Mulai dari pangeran atau sultan, dokter, politisi, aktivis, pemimpin ormas, hingga jurnalis.

Nama-nama seperti Pangeran Diponegoro dari Jawa Tengah, Teuku Umar dari Aceh, Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan, hingga Pattimura dari Maluku. Tokoh-tokoh tersebut diabadikan dan dikenal secara luas melalui beragam media, mulai dari pelajaran sejarah, gambar di mata uang, poster, hingga film.

Sayangnya, di antara nama-nama populer tersebut, belum ada satu pun pahlawan nasional yang berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim). Padahal Bumi Etam sejatinya juga memiliki sederet nama-nama tokoh yang nilai perjuangannya patut diteladani dan kisahnya perlu diketahui.

Memang bukan suatu keharusan, namun alangkah baiknya bila terdapat tokoh Kaltim yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Mengingat Kaltim merupakan salah satu daerah yang punya peran besar bagi bangsa Indonesia, yang berlangsung sejak masa penjajahan hingga masa sekarang. Apalagi Kaltim telah ditetapkan sebagai calon ibu kota negara.

Memang bukan perkara mudah menetapkan seseorang menjadi pahlawan nasional. Ada sejumlah kriteria yang diperlukan dan butuh banyak kajian serta tahapan. Meliputi syarat umum, syarat khusus, syarat administrasi, makalah-makalah, hingga dokumen-dokumen pendukung yang ada sampai pada tahap pengusulan.

Pemerintah daerah di Kaltim sendiri bukan diam dalam hal mewujudkan representasi pahlawan nasional asal Kaltim. Setidaknya saat ini ada dua nama yang diusulkan menjadi pahlawan nasional oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim pada Agustus silam. Keduanya dianggap punya peran besar dalam perjuangan kemerdekaan di Kaltim.

Dua nama tersebut yaitu Haji Abdoel Moeis Hassan, Gubernur Kedua Kaltim dan tokoh pemuda pergerakan kebangsaan di Samarinda pada masa 1940–1945. Dia juga dikenal pemimpin perjuangan diplomasi politik untuk kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Kaltim pada masa 1945–1949.

Nama kedua yaitu Sultan Aji Muhammad Idris, sultan ke-14 dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang memerintah mulai 1735 hingga 1778. Sultan Aji Muhammad Idris merupakan sultan pertama yang menggunakan nama Islam sejak masuknya agama Islam di Kesultanan Kutai Kartanegara pada abad ke-17.

Sultan Aji Muhammad Idris dengan kesadaran penuh, meninggalkan tahtanya demi membantu mertuanya, La Maddukelleng yang ketika itu diperhadapkan pada situasi sulit. Sang sultan membantu membebaskan Kerajaan Wajo yang kala itu dalam cengkeraman Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Perjuangan Aji Muhammad Idris ini telah menjadi satu model baru dalam melihat bagaimana kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara di masa lalu, membangun kerja sama dalam mengusir penjajah. Sehingga Sultan Aji Muhammad Idris bisa menjadi pahlawan nasional yang jejak sejarahnya pun telah ada.

Selain dua nama tersebut, masih banyak tokoh Kaltim yang meski mungkin sulit mendapatkan gelar pahlawan nasional, namun perjuangannya patut menjadi teladan. Salah satunya yang telah diulas oleh Kate.id dalam edisi Hari Pahlawan ini, yaitu Awang Long. Rupa-rupanya Awang Long juga pernah diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional, namun belum dapat dipenuhi oleh pemerintah pusat.

Awang Long jelas bukan asing bagi sebagian besar masyarakat Kaltim, lantaran diabadikan sebagai nama jalan. Tetapi meski namanya banyak disebut sebagai alamat, ternyata tidak banyak yang tahu siapa sosok senapati Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini. Padahal panglima di masa pemerintahan Sultan Adji Muhammad Salehuddin ini telah mengorbankan jiwa dan raganya demi mempertahankan tanah air ini dan gugur sebagai kusuma bangsa.

Kisahnya pun terbilang heroik, dengan keberhasilan Awang Long bersama pasukannya memukul mundur armada Inggris yang menyengsarakan rakyat. Juga pertempuran epik Awang Long mempertahankan benteng kesultanan dari gempuran tentara Belanda, yang berujung gugurnya Sang Senapati tertimpa tembok benteng. Setidaknya itu versi yang banyak beredar.

Dari cuplikan satu paragraf itu saja kita bisa memetik nilai kepahlawanan seorang Awang Long yang tidak gentar dalam membela tanah air tetes darah terakhirnya. Kisah ini dalam pandangan saya cukup membuat merinding dan mampu menginspirasi para pemuda kita untuk melakukan yang terbaik dalam mengisi kemerdekaan.

Sayangnya kisah ini seakan terlupakan. Tidak banyak masyarakat Kaltim yang mengetahuinya. Tak mengherankan mengingat masih sedikit buku yang membahas tentang sosok ini. Pun begitu penggalian sejarah akan tokoh ini belum benar-benar mengungkap riwayat yang sebenarnya, khususnya bagaimana rupa dari Awang Long itu sendiri. Sehingga masih sulit untuk bisa mengusulkannya menjadi pahlawan nasional.

Namun tetap saja kisah Awang Long adalah salah satu kearifan lokal Kaltim yang perlu dilestarikan. Apalagi sarat nilai-nilai positif yang dibutuhkan generasi muda saat ini. Sehingga besar harapan saya agar cerita tentang Awang Long ini dapat dimasifkan penuturannya ke masyarakat. Pasti ada alasan mengapa namanya diabadikan sebagai nama jalan bukan?

Bukan hal yang mudah, diperlukan kerja bersama antara pemerintah dengan masyarakat agar kisah Awang Long makin dikenal. Pemerintah daerah misalnya, bisa saja memasukkan kisah Awang Long ini dan pahlawan-pahlawan lokal Kaltim lainnya ke dalam mata pelajaran di sekolah. Bisa juga melakukan penelitian atau penggalian informasi lebih dalam lagi perihal para pahlawan lokal Kaltim.

Pun begitu dengan masyarakat, khususnya generasi milenial, juga bisa berkontribusi dalam mengenalkan Awang Long dan tokoh-tokoh Kaltim lainnya. Kemajuan teknologi informasi bisa dimanfaatkan untuk hal ini, misalnya dengan membuat video, film, dokumenter, atau novel sebagaimana yang sering kita jumpai dewasa ini.

Bukan tidak mungkin dengan berbagai upaya kolaboratif, sosok Awang Long dan tokoh Kaltim lainnya bisa dikenal luas dan bukan lagi sekadar nama jalan, bandara, atau rumah sakit. Bukan mustahil Awang Long sebagai pahlawan daerah Kaltim bisa menasional, bisa sejajar dengan Pangeran Antasari dari Kalimantan Selatan atau Tjilik Riwut dari Kalimantan Tengah.

Memang tidak semua pahlawan daerah bisa menjadi pahlawan nasional. Karena para pahlawan ini sejatinya juga tidak pernah berharap nama mereka masuk dalam daftar pahlawan nasional. Lantaran bukan pamrih yang yang mendasari kepahlawanan mereka, melainkan ketulusan demi pengabdian kepada tanah air tercinta.

Meski begitu setidaknya jangan sampai kisah mereka terlupakan begitu saja. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Karena kemerdekaan yang kita rasakan sekarang ini, tidak terlepas dari peran para pahlawan yang gugur dalam memperjuangkannya. (***)

*Penulis adalah Penasihat Redaksi/Plt Pemimpin Redaksi Kate.id.

Comments

BERITA TERBARU

To Top