SOSOK

Awang Long, Senapati Kutai Kartanegara yang Gagah Berani Melawan Penjajah

Makam Awang Long di Kelurahan Sukarame, Kutai Kartanegara yang dijadikan cagar budaya. (Foto: Fahmi Fajri)

“Aku seorang prajurit. Dan aku tidak mengenal politik. Aku hanya tunduk kepada Duli Tuanku yang Dipertuan. Hidup matiku dan kewajibanku adalah melindungi rakyat dan tanah bertuah Kutai Kartanegara Ing Martadipura!”

–Awang Long–   

AWANG Long bukan nama asing di Bumi Etam. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di beberapa daerah di Kaltim. Namun rupanya, tak banyak yang mengenal sosok sang senapati Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang telah mengorbankan jiwanya demi mempertahankan kemerdekaan bangsa. Hari itu, penghujung 1834 Masehi.

Di usianya yang menginjak kepala tiga, Awang Long dipanggil Sang Sultan, Adji Muhammad Salehuddin. Menghadap Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Awang Long bakal diberi sebuah amanah. Namun dia tak menyangka amanah yang diberikan merupakan amanah dengan tanggung jawab yang begitu besar. Menjadi panglima kerajaan.

Sultan tampaknya terkesan dengan karakter prajurit putra dari mangkubumi, sebutan untuk perdana menteri kesultanan. Besar dalam gemblengan sang ayah, Ni Raden Pati Wangsa, Awang Long memang memiliki sifat pemberani, jujur, dan berwibawa. Maka tak mengherankan bila bungsu dari empat bersaudara itu dipercaya sultan menjabat Panglima Sepangan Raja, pasukan elite kesultanan.

Bukan hanya menjadi panglima, sultan juga memercayakan jabatan menteri pertahanan, Ario Pertahanan kepada Awang Long. Gelar Ario Senopati pun melekat pada nama Awang Long. Awang Long sadar, jabatan tinggi yang dipikulnya bukan untuk bersenang-senang. Bukan pula untuk berpuas diri membusungkan dada. Melainkan, tanggung jawab besar mempertahankan kerajaan dari gempuran musuh serta melindungi rakyat dengan segenap tenaga. Itulah yang dilakukannya tatkala penjajah menginjakkan kaki di tanah Kutai Kartanegara.

Tahun 1844, satu dekade sejak mengemban amanah panglima, ujian terbesar Awang Long tiba. Berawal dari keberhasilan misi perdagangan di beberapa negara Asia dan kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan di nusantara, Belanda mengadakan pameran untuk merayakannya. Seakan ingin menunjukkan kuasanya, Negeri Kincir Angin mengundang empat negara tetangga mereka, Inggris, Perancis, Belgia, dan Portugis.

Pameran kesombongan Belanda itu membuat utusan-utusan negara yang diundang terkagum-kagum. Lantas, Belanda menawarkan kerja sama perdagangan dengan negara-negara itu di beberapa pulau di nusantara. Gayung bersambut, Kerajaan Inggris menunjukkan minatnya. Di tahun itu, Inggris mengirim delegasinya, James Erskine Murray dengan membawa dua kapal menuju Borneo, sebutan untuk Pulau Kalimantan.

Sebelum tiba di Tenggarong, kedua kapal itu lebih dulu berlabuh di Samarinda. Layaknya Belanda, Inggris yang kala itu hampir menduduki 3/4 permukaan bumi, juga datang dengan penuh kepongahan. Tepatnya ketika memasuki perairan Sungai Mahakam yang berada di bawah teritorial Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Tanpa meminta izin dari Sultan Adji Muhammad Salehuddin, Inggris melakukan perdagangan di tanah Kutai. Dengan congkaknya Inggris menekan harga hasil bumi rakyat Kutai dengan sangat murah. Bila rakyat tidak mau menjual hasil buminya, pasukan James Erskine Murray tak segan melakukan intimidasi dan tindakan paksa.

Kabar kesewenang-wenangan Inggris tersebut sampailah ke kesultanan. Darah Awang Long mendidih. Sebagai panglima, dia tak bisa membiarkan orang asing berbuat sesukanya kepada rakyat. Namun sultan belum memberinya perntah. Masih bersabar, Sultan Adji Muhammad Salehuddin memberi peringatan kepada Erskine Murray. Sayangnya, kesabaran sang sultan seakan tak berarti apa-apa. Peringatan itu tak diindahkan Erskine Murray.

Malahan, dengan tanpa tata krama, Erskine Murray menyatakan bakal membeli tanah di Mangkupalas, Samarinda Seberang. Tanah itu hendak digunakan untuk lokasi penumpukan hasil bumi sekaligus benteng pertahanan. Habis sudah kesabaran sultan. Permintaan Erskine Murray ditolaknya dengan keras. Penolakan yang lantas membuat Erskine Murray murka.

Dengan penuh emosi, Erskine Murray memberangkatkan dua buah kapal bersenjata lengkap, berikut pasukan di dalamnya, menuju Tenggarong. Setibanya di Tenggarong, meriam dua kapal itu menembaki kota dengan membabi-buta.

Serangan mendadak itu membuat bangunan dan rumah di Tenggarong porak-poranda. Para penduduk berlarian ke sana ke mari menyelamatkan diri. Tak ayal, Sultan Aji Muhammad Salehuddin berang bukan kepalang. Perintah cepat diberikannya kepada Awang Long yang sudah menghunus senjatanya. Dia berdiri mantap seraya bergerak maju ke depan.

Segera Awang Long memimpin para prajurit Sepangan Raja melakukan perlawanan dan mengusir armada Inggris itu. Pertempuran sengit tak terelakkan terjadi di tengah dan tepian Sungai Mahakam. Banyak korban berjatuhan, baik dari pihak Inggris maupun dari para prajurit Sepangan Raja.

Meski menggunakan persenjataan tradisional, namun prajurit-prajurit elite Kutai itu tak gentar melawan Inggris yang memiliki persenjataan lebih modern. Menyaksikan keberanian para prajurit Sepangan tersebut, nyali pasukan Inggris menjadi ciut. Erskine Murray lantas memerintahkan kapal-kapalnya memutar haluan, mundur.

Tak goyah, Awang Long dan para Prajurit Sepangan mengejar dua kapal itu. Malapetaka terjadi ketika dua kapal itu tiba di perairan Samarinda. Di sana kapal Inggris diserang pasukan Kutai yang didukung orang-orang etnis Bugis dari Mangkupalas. Pertempuran tersebut menewaskan James Erskine Murray.

Kematian Erskine Murray membuat mental pasukan Inggris runtuh. Mereka lantas melarikan diri hingga ke Selat Makassar. Pertempuran pasukan Awang Long melawan armada Inggris itu berlangsung selama dua hari, 15 sampai 16 Februari 1844, yang dikenal sebagai pertempuran Tombak Maris.

Mendapati pasukan Inggris melarikan diri, prajurit Kutai terus saja mengejar menggunakan kapal-kapal yang lebih sederhana. Sesampainya di perairan Muara Sungai Mahakam, mereka menemukan sebuah kapal yang kandas. Kapal itu dikira milik pasukan Inggris yang melarikan diri. Tanpa ampun, mereka menyerang dan membunuh awak kapal. Lantas menguras barang-barang sebagai rampasan perang dan membakar kapal.

Setelah semuanya terjadi, barulah diketahui kapal tersebut bukan milik Inggris. Melainkan milik perusahaan dagang asal Belgia pimpinan De Charles. Dengan menggunakan sekoci, beberapa awak kapal Belgia yang selamat melarikan diri hingga ke Makassar.

Di Makassar, awak kapal Belgia bersama pasukan Inggris yang kalah melapor kepada Gubernemen Hindia Belanda. Kepala Letnan Laut T Hooft kemudian diperintahkan memimpin armada Belanda yang diperkuat tujuh kapal perang untuk menghukum Kesultanan Kutai. Pihak kesultanan dianggap telah melakukan perampokan dan mencemarkan nama baik Pemerintahan Hindia Belanda.

Sementara itu di Kesultanan Kutai, Aji Muhammad Salehuddin memerintahkan Awang Long tetap siaga berjaga. Sultan dan petinggi kesultanan yakin, Inggris bakal balas dendam, kembali dengan armada dan pasukan lebih besar. Menyadari kemungkinan itu, kesultanan lantas memperkuat pasukan. Rakyat diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Sedangkan Sultan Aji Muhammad Salehuddin berikut keluarganya diungsikan ke Kota Bangun dengan pengamanan seribu orang prajurit. Awang Long sang senapati sendiri berjaga-jaga di Samarinda dan Tenggarong dengan kekuatan pasukan dan persenjataan yang cukup besar. Mengetahui pertempuran yang akan dihadapi bisa menjadi pertempuran terakhirnya, Awang Long menghadap sultan dan bersumpah.

“Aku seorang prajurit. Dan aku tidak mengenal politik. Aku hanya tunduk kepada Duli Tuanku yang Dipertuan. Hidup matiku dan kewajibanku adalah melindungi rakyat dan tanah bertuah Kutai Kartanegara Ing Martadipura!” begitu bunyi sumpah setia sang panglima di depan sultan dan para petinggi kesultanan.

Yang dikhawatirkan ternyata terbukti. Namun yang datang bukan armada perang Inggris. Melainkan sembilan armada perang Kerajaan Belanda pimpinan Letnan Laut T Hooft. Di awal kedatangannya, T Hooft memberikan seruan kepada Awang Long dan pasukannya untuk menyerah. Dengan gagah berani, Awang Long menolak seruan Hooft.

Amanah yang diembannya sebagai pemimpin pasukan kesultanan membuatnya tegar mempertahankan tanah Kutai dari ancaman penjajah. Panglima perang ini malah menembakkan meriam ke arah kapal perang Belanda. Meriam sang senapati berbalas meriam bertubi-tubi dari kapal Belanda. Pertempuran dahsyat pun tak bisa dihindarkan.

Sayangnya, persenjataan yang tidak seimbang membuat perjuangan Awang Long berikut pasukan Kutai tak bisa berbicara banyak. Pasukan kerajaan ketar-ketir dihajar serangan meriam dan senjata dari armada Belanda.

Benteng Kesultanan Kutai pun runtuh tak mampu menahan dahsyatnya luncuran peluru-perlu meriam. Salah satu dindingnya runtuh meluncur tak terelakkan ke arah Awang Long. Tertimpa reruntuhan benteng, hari itu Awang Long gugur sebagai kusuma bangsa. Dia telah memenuhi sumpahnya melindungi rakyat dan tanah air dengan segenap jiwa raga hingga embusan napas terakhir.

Kegigihan sang panglima terus dikenang masyarakat Kaltim, diabadikan menjadi nama jalan dan nama batalion infanteri di teritorial Kaltim. Makamnya di Tenggarong juga ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya.

Masih Simpang Siur

Kisah perjuangan Awang Long di atas dicuplik dengan izin dari buku “Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kalimantan Timur”. Buku yang disusun oleh dua jurnalis senior Kaltim, Hamdani dan Johansyah Balham tersebut berisi beberapa kisah perjuangan kemerdekaan di Kaltim, salah satunya kisah Awang Long.

Terkait kisah Awang Long yang disajikan, dua penyusun ini merujuk pada buku-buku sejarah Kaltim lainnya. Menariknya, dalam penyusunan kisah Awang Long, terdapat perbedaan dalam riwayat Awang Long bila merujuk sumber-sumber yang digunakan. Salah satunya yaitu kepastian kapan tanggal lahir Awang Long.

Buku “Dari Swapraja ke Kabupaten Kutai” yang diterbitkan 1975 oleh Pemkab Kutai kala itu, menulis kelahiran Awang Long pada 28 September 1771. Sedangkan buku “Awang Long Gelar Pangeran Ario Senopati, Kiat-kiat Pemimpin Perlawanan Daerah di Kutai, Menentang Kekuasaan Inggris dan Belanda tahun 1844”, Awang Long disebut lahir 28 September 1804.

Yang menarik, kedua buku ini ditulis orang yang sama yaitu M Aslie Amin. Diketahui bila penulis tersebut memakai narasumber yang berbeda untuk masing-masing buku.

Dalam buku “Dari Swapraja ke Kabupaten Kutai”, dikatakan pada pertempuran melawan Belanda, Awang Long jatuh tertimpa tembok benteng yang terbuat dari kayu besi atau ulin. Karena usianya memang sudah lanjut yaitu 73 tahun, Awang Long tidak sanggup menahan penderitaan itu sehingga pada 12 April 1844 dia meninggal dunia.

Usia Awang Long ini lantas disangkutpautkan dengan usia ayah Awang Long, Ni Raden Pati Wangsa yang kala itu menjabat mangkubumi. Bila di 1844 Awang Long yang merupakan anak keempat berusia 73 tahun, maka usia Raden Pati Wangsa tentu jauh lebih tua dari Awang Long, bahkan mungkin sudah uzur.

Teori yang menyebut Awang Long lahir di 1804 mendapat dukungan dari sumber lainnya, yaitu buku “Suluh Sedjarah Kalimantan” yang disusun Amir Hasan Bondan. Dari buku tersebut dijelaskan bahwa usia ayahanda Awang Long hanya berkisar sekira 69 tahun (1777-1846).

Buku ini menjadi sumber kajian M Aslie Amin dan Amir Hamzah Idar yang menyusun buku “Awang Long Gelar Ario Senopati,Kiat-Kiat Pemimpin Perlawanan Daerah di Kutai, Menentang Kekuasaan Inggris dan Belanda tahun 1944”. Narasumber buku yang ditulis Hamdani sendiri lebih condong pada kelahiran 28 September 1804. Hal ini mengingat jabatan Awang Long saat itu adalah panglima, pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik untuk menahan gempuran musuh di medan laga.

Namun demikian, sangat perlu dilakukan kajian akademik mengenai kelahiran Awang Long. Selain memuat informasi kelahiran Awang Long, Suluh Sedjarah Kalimantan juga dengan jelas mengupas dari sisi silsilah keturunan Awang Long.

Disebutkan, Awang Long berasal dari kalangan ulama Arab Solok bernama Syech Abdurrahman Al Magribi. Ulama ini adalah bapak Raja Solok, Syech Abdurrasjid Al Magribi, Raja Tarakan 1594-1631 yang bergelar Raja Laut (Singa Laut Tua) dan bapak dari Datuk Muharram. Ni Raden Wangsa, ayah Awang Long merupakan keturunan dari Syech Abdurrasjid Al Magribi.

Konon gelar Awang itu muncul ketika Raja Kutai Kartanegara ke-2, Aji Batara Agung Paduka Nira menikah dengan Aji Paduka Suri. Dari turunan inilah terlahir gelar Awang sebagai panggilan terhormat sang raja kepada kerabat kerajaan yang umurnya lebih tua. Gelar ini juga merupakan panggilan kakak kepada kerabat kerajaan yang lebih tua.

Sejauh ini kisah pertempuran Tombak Maris merupakan kisah Awang Long yang paling dikenal. Kisah ini beberapa kali diulang kembali dalam buku-buku sejarah Kalimantan. Sayangnya, selain media buku, tak banyak rujukan tentang perjuangan sang panglima yang bisa ditemukan.

Baik makam Awang Long di Kelurahan Sukarame maupun koleksi yang ada di Museum Mulawarman, keduanya tak memiliki rincian riwayat sang panglima. Akan tetapi diabadikannya nama Awang Long sebagai nama jalan dan satuan militer, setidaknya menunjukkan bahwa perjuangan sang senapati akan selalu dikenang. (luk)

Editor: Lukman M Fathony

Comments

BERITA TERBARU

To Top