CATATAN

Tim Sukses = Pembajak Akal Sehat Demokrasi?

Muhammad Saleh. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Muhammad Saleh*

TAHAPAN Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) telah melewati masa pendaftaran calon kepala daerah. Masing-masing pasangan calon telah mendapatkan nomer urut dalam kontestasi yang akan digelar 9 Desember 2020 mendatang. Maka akan sangat menarik menyaksikan para calon berebut simpati masyarakat di masa kampanye ini.

Dalam merebut simpati masyarakat di masa kampanye, tim sukses memainkan peranan penting demi tercapainya keinginan pasangan calon untuk memenangkan kontestasi. Tim sukses yang solid dan profesional adalah kunci keberhasilan pasangan calon dalam merebut simpati masyarakat agar ia bisa dipilih menjadi kepala daerah.

Di hadapan pemilih, seorang calon kepala daerah tampak seperti malaikat berkat tim sukses. Segala kebaikan sang calon dimunculkan bahkan tak jarang dilebih-lebihkan untuk meyakinkan pemilih terhadap calon yang dibawa tim sukses. Sebab, mengumpulkan suara adalah “jalan ninjanya” para tim sukses.

Dalam undang-undang pemilu, keberadaan tim sukses dan kampanye calon adalah sah. Bagaimana mungkin pasangan calon kepala daerah dapat dipilih oleh masyarakat tanpa tim sukses dan kampanye?

Hanya saja yang perlu dicatat, bahwa dalam undang-undang pemilu, kampanye merupakan bagian dari pendidikan politik masyarakat yang dilaksanakan secara bertanggung jawab. Artinya, membangun kesadaran dan meyakinkan dengan alasan yang rasional mengapa masyarakat harus memilih pasangan calon yang diajukan adalah prinsip yang sejatinya harus dijadikan landasan bagi para tim sukses.

Tetapi nyata kebanyakan tidak seperti itu yang terjadi. Kekuatan ‘uang’ masih menjadi hal yang dominan dalam meyakinkan masyarakat. Alih-alih menjelaskan kepada masyarakat tentang visi misi calonnya, tim sukses justru potong kompas dengan menyodorkan sejumlah uang kepada pemilih agar memilih calon yang ia dukung.

Begitu juga soal ‘kampanye hitam/black campaign’ yang kerap kali menghiasi media sosial. Demi menjatuhkan lawan politiknya, tim sukses tidak segan mencari-cari kesalahan calon lain agar masyarakat antipati terhadapnya. Isu SARA biasanya menjadi bahan utama narasi yang muncul dalam kampanye hitam.

Sehingga saya berkesimpulan, jika praktik-praktik negatif semacam ini masih terus dilakukan oleh tim sukses pada proses demokrasi kita. Maka proses demokrasi kita tidak akan berjalan sehat. Mereka (tim sukses) yang seharusnya menjadi media penghubung antara pasangan calon dengan masyarakat, agar masyarakat mengerti apa yang menjadi visi misi sang calon, justru membajak akal sehat masyarakat agar mau tidak mau memilih calon yang didukungnya. (***)

*Penulis adalah pengajar dan pegiat literasi media, juga merupakan pendiri sekaligus ketua komunitas Moderasi di Kabupaten Paser.

**Kate.id menerima kiriman tulisan opini dari pembaca. Kirimkan tulisan disertai identitas lengkap dalam format word, dengan melampirkan file foto berformat landscape melalui email redaksi@kate.id. Hak penerbitan menjadi keputusan redaksi. Tulisan yang terbit telah melalui penyuntingan redaksi tanpa mengurangi maksud pesan penulis. Semua materi tulisan merupakan tanggung jawab penulis.

Comments

BERITA TERBARU

To Top