SOSOK

Sarwo Edhie Wibowo, Sang Komandan Penumpas Pemberontakan PKI

Sarwo Edhie Wibowo. (Foto: istimwa)

NAMA Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo lekat dengan perjuangan penumpasan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia PKI (G30SPKI). Pasalnya mertua Presiden ke-6 RI tersebut punya peran besar dalam penumpasan upaya kudeta berdarah PKI dalam posisinya kala itu sebagai panglima RPKAD (sekarang Kopassus).

Sarwo Edhie lahir pada 25 Juli 1927 di Desa Pangenjuru, Purworejo dari Pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga PNS bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Awalnya dia hanya diberi nama Edhie. Namun karena sering sakit-sakitan, maka sesuai dengan adat Jawa nama Edhie ditambah Dengan Sarwo. Dan akhirnya namanya menjadi Sarwo Edhie, bahkan setelah menikah namanya menjadi Sarwo Edhie Wibowo. Nama itu sesuai pesan ayahnya dengan harapan kelak dia memiliki kewibawaan.

Meski berdarah bangsawan, Edhie tak segan-segan mengikuti permainan anak desa. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan perbedaan kedudukan dengan orang lain.

Sebagai seorang anak, dia belajar silat sebagai bentuk pertahanan diri. Saat dia tumbuh, Sarwo Edhie membentuk kekaguman terhadap Tentara Jepang dan kemenangan mereka melawan Pasukan Sekutu yang ditempatkan di Pasifik dan Asia.

Pada 1942 ketika Jepang menguasai Indonesia, Sarwo Edhie pergi ke Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA). Kala itu PETA merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.

Sarwo Edhie kecewa karena tugas-tugasnya selama periode ini sebagian besar hanya memotong rumput, membersihkan toilet, dan membuat tempat tidur bagi perwira Jepang. Apalagi ketika dia berlatih, Sarwo Edhie harus menggunakan senjata kayu.

Sarwo Edhie Wibowo (foto: Dok AHY)

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Sarwo Edhie bergabung dengan BKR, sebuah organisasi milisi yang akan menjadi cikal bakal ABRI (sekarang TNI) dan membentuk batalion. Namun usaha itu gagal dan batalion bubar.

Teman satu kampung halamannya, Ahmad Yani yang mendorongnya untuk terus menjadi seorang tentara dan mengundangnya untuk bergabung dengan Batalion di Magelang, Jawa Tengah.

Karier Sarwo Edhie di ABRI terbilang cemerlang. Dia pernah menjadi Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945—1951), Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951—1953), Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959—1961), Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962—1964), dan Komandan RPKAD (1964—1967).

RPKAD adalah usaha Indonesia untuk menciptakan sebuah unit pasukan khusus (yang kemudian akan menjadi Kopassus). Pengangkatan Sarwo Edhie sebagai komandan unit elit ini terjadi berkat Ahmad Yani. Pada tahun 1964, Yani telah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan menginginkan seseorang yang bisa dia percaya sebagai Komandan RPKAD.

Selama Sarwo Edhie menjadi Komandan RPKAD, G30SPKI terjadi. Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, enam jenderal, termasuk Ahmad Yani diculik dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Sementara proses penculikan sedang dieksekusi, sekelompok pasukan tak dikenal menduduki Monumen Nasional (Monas), Istana Kepresidenan, Radio Republik Indonesia (RRI), dan gedung telekomunikasi.

Hari dimulai seperti biasanya bagi Sarwo Edhie dan pasukan RPKAD yang sedang menghabiskan pagi mereka di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta. Kemudian Kolonel Herman Sarens Sudiro tiba. Sudiro mengumumkan bahwa dia membawa pesan dari markas Kostrad dan menginformasikan kepada Sarwo Edhie tentang situasi di Jakarta.

Sarwo Edhie juga diberitahu oleh Sudiro bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat. Setelah memberikan banyak pemikirannya, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa dia akan berpihak dengan Soeharto.

Sarwo Edhie (kanan) bersama Soeharto. (Foto: ist)

Setelah Sudiro pergi, Sarwo Edhie dikunjungi oleh Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa. Sabur meminta Sarwo Edhie untuk bergabung dengan Gerakan G30S. Sarwo Edhie mengatakan kepada Sabur dengan datar bahwa dia akan memihak Soeharto.

Pada pukul 11.00 siang hari itu, Sarwo Edhie tiba di markas Kostrad dan menerima perintah untuk merebut kembali gedung RRI dan telekomunikasi pada pukul 06.00 petang. Itu merupakan batas waktu di mana pasukan tak dikenal diharapkan untuk menyerah.

Ketika pukul 06.00 petang tiba, Sarwo Edhie memerintahkan pasukannya untuk merebut kembali bangunan yang ditunjuk. Hal ini dicapai tanpa banyak perlawanan, karena pasukan itu mundur ke Halim dan bangunan diambil alih pada pukul 06.30 petang.

Dengan situasi di Jakarta yang aman, mata Soeharto ternyata tertuju ke Pangkalan Udara Halim. Pangkalan Udara adalah tempat para jenderal yang diculik dan dibawa ke basis Angkatan Udara yang telah mendapat dukungan dari gerakan G30S.

Soeharto kemudian memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut kembali Pangkalan Udara. Memulai serangan mereka pada pukul 2 dinihari pada 2 Oktober, Sarwo Edhie dan RPKAD mengambil alih Pangkalan Udara pada pukul 06.00 pagi.

Setelah mengambil alih Pangkalan Udara Halim, Sarwo Edhie bergabung dengan Soeharto karena keduanya dipanggil ke Bogor oleh Presiden Soekarno. Sementara Soeharto diperingatkan oleh Soekarno karena mengabaikan perintahnya, Sarwo Edhie terkejut dengan ketidakpekaan Soekarno dengan kematian enam Jenderal.

Sarwo Edhi bertanya “Di mana para Jenderal?”, Sukarno menjawab “Bukankah ini hal yang normal dalam revolusi?”.

Pada 4 Oktober 1965, pasukan Sarwo Edhie memimpin penggalian dari mayat para jenderal dari sumur Lubang Buaya.

Pada tanggal 16 Oktober 1965, Soeharto diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat oleh Soekarno. Pada saat itu PKI telah dituduh sebagai penyebab dari G30S dan sentimen anti-Komunis telah membangun cukup untuk mendapatkan momentum.

Sarwo Edhie (tengah) bersama keluarga. (Foto: Thomas Ramelan)

Pada tahun 1967, Sarwo Edhie dipindahkan ke Sumatra dan menjadi Panglima Kodam II/Bukit Barisan. Sarwo Edhie juga ikut berperan dalam kembalinya Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia ketika dipindahkan ke Irian Barat untuk menjadi Panglima Kodam XVII/Cendrawasih. Dia memimpin di sana hingga terselenggaranya Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera).

Selain kiprahnya di militer, Sarwo Edhie juga pernah menjabat juga sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan serta menjadi Gubernur AKABRI.

Sarwo Edhie menikah dengan Sunarti Sri Hadiyah. Dari pernikahannya tersebut, dia mempunyai tujuh anak yaitu Wijiasih Cahyasasi, Wrahasti Cendrawasih, Kristiani Herrawati, Mastuti Rahayu, Pramono Edhie Wibowo, Retno Cahyaningtyas dan Hartanto Edhie Wibowo. Susilo Bambang Yudhoyono, presiden keenam RI adalah menantunya yang menikah dengan Kristiani Herrawati.

Sarwo Edhie meninggal pada 9 November 1989 pada usia 64 tahun karena penyebab alami. Dia dimakamkan di daerah asalnya di Ngupasan, Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah. (luk)

Editor: Lukman M Fathony

Comments

BERITA TERBARU

To Top