CATATAN

Pertamina Rugi dan Utang BUMN Meroket, BUMN Lain Rugi?

Iswan Abdullah A Siata. (Foto: FP Iswan Abdullah A Siata)

— Oleh Iswan Abdullah A Siata*

DATA tahun 2004 bahwa Pertamina mendapatkan laba sekitar Rp 8 triliun, tahun 2014 laba Pertamina meningkat tajam sekira Rp 35 triliun dan sementara itu tahun 2004 total laba BUMN Rp 27 triliun dan tahun 2014 laba BUMN Rp 159 Triliun.

Semua mata terbelalak dan kaget setengah mati, orang seluruh dunia ketika pertamina menyatakan rugi sekitar Rp 11,3 triliun. Padahal pertamina sedang membeli harga minyak dunia yang tengah anjlok rata-rata sekira 40 USD/barel sejak bulan Februari 2020 bahkan sempat tembus sekitar 25 USD/barel.

Dan aneh ketika harga beli lagi murah malah pertamina menjual sangat mahal atau bahkan termahal di dunia. Kalau enggak mau dibilang begitu, di tengah hampir seluruh negara di dunia rakyatnya sedang menikmati harga BBM murah kecuali Indonesia tak turun turun harganya bahkan tiba Pertamina menyatakan rugi Rp 11,3 triliun.

Anehnya lagi kerugian ini terjadi ketika Pertamina sedang dipimpin oleh Ahok sebagai Komisaris Utama. Beliau adalah seorang terhebat di dunia yang tidak perlu diragukan lagi sepak terjangnya dengan visi dan misi hebat yang telah diutarakan sesaat ketika dilantik sebagai Komisaris Utama.

Saat ini baru pertamina secara terang-terangan menyatakan kerugian mencapai Rp 11,3 trilun dan kondisi seperti ini tentunya juga akan dan telah menimpa bebarapa BUMN lain ditengah kondisi ekonomi nasional yang sudah memasuki krisis ekonomi. Ditandai dua kuartal berturut turut mengalami pertumbuhan ekonomi yang defisit dan juga kondisi ekonomi global sedang mengalami stagnan bahkan kontraksi (negatif).

Dari data total utang BUMN termasuk dana pihak ketiga di bank adalah tahun 2004 Rp 2.700 triliun, maka di tahun 2020 meningkat tajam meroket tembus galaksi bima sakti Rp 6.000 triliun (sumber Said Didu). Dari data utang BUMN ini maka paling tidak kita berhipotesis bahwa BUMN lain selain Pertamina diperkirakan mengalam kerugian yang sama.

Kita tak perlu menyatakan siapa yang membawa kerusakan ini semua karena kita memiliki kepala Negara dan Kepala Pemerintah yang syah. Mari kita hidup di dunia New Normal biar kita menganggap ini semua normal (wallahu’alam bishawab). (***)

*Iswan Abdullah A Siata, ME adalah VP KSPI/VP FSPMI, pengamat ekonomi dan perburuhan. Tulisan disalin dari halaman FB KSPI dan FP Iswan Abdullah A Siata.

Comments

BERITA TERBARU

To Top