METROPOLIS

Dipimpin Bupati Edi Damansyah, Penanganan Stunting di Kutai Kartanegara Berhasil

Sekda Kukar Sunggono. (Foto: Hik)

KUTAI KARTANEGARA, Kate.id – Keberhasilan penanganan stunting di Kutai Kartanegara (Kukar) di bawah kepemimpinan Bupati Edi Damansyah mencapai 80 persen. Hal ini diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) sekaligus Ketua Tim Konvergensi Percepatan dan Penanganan Stunting (KPPS) Sunggono.

Sunggono mengapresiasi kinerja timnya dalam penanganan stunting. Untuk tahun ini masuk triwulan dua, pencapaian keberhasilannya menembus 80 persen dari 21 Desa yang sudah menjadi lokus stunting tahun 2020.

“Dari 21 desa, kami dorong percepatan penanganan meminimalisasi angka stunting yang berhasil mencapai 17 desa, dengan tingkat keberhasilan penanganan tembus 90 persen. Ini bisa dikatakan cukup berhasil, ” jabar Sunggono di ruang kerjanya, Senin(22/6/2020) sore.

Sunggono melanjutkan, masih tersisa empat desa lagi yang belum berhasil. Penanganan terhadap desa yang belum berhasil bisa dilakukan pembinaan dan pembimbingan oleh tim kabupaten. Karena bagian dari tugas dan kewajiban tim kabupaten untuk melakukan pembinaan.

“Kami sudah telusuri saat rakor Tim KPPS tadi pagi (Senin, Red.) permasalahannya. Banyak kesalahan dari sisi pendataan yang dilakukan desa. Dan pemerintah kecamatan berkomitmen untuk membantu penyelesaiannya dari sisi pendataan,” jelas mantan Camat Muara Badak ini.

Malahan Sunggono memberikan batas waktu pada desa dan kecamatan, perbaikan data harus sudah selesai per tanggal 29 Juni 2020 nanti. Selain persoalan pendataan, kendala lainnya ada pada waktu yang tidak tepat, saat pandemi Covid-19 berlangsung sejak Maret lalu. Berbagai kegiatan tim harus ditunda untuk dilaksanakan.

Sekda Kukar Sunggono didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kukar Martina Yulianti saat menggelar rakor terkait penanganan stunting. (Foto: ist)

“Covid-19 jadi kendala juga menjalankan program pembinaan pembimbingan dan sosialisasi. Karena tidak diperbolehkan mengumpulkan banyak orang. Diperparah lagi kegiatan di 11 OPD yang bersentuhan dengan masyarakat secara langsung terpaksa tertunda demi mendahulukan penanganan Covid-19,” jelasnya.

Kata Sunggono, Kukar punya program keluarga peduli pencegahan dan atasi stunting atau Raga Pantas. Program ini berlangsung di desa yang menjadi lokus stunting, yang diklaim berhasil dan diakui oleh pemerintah pusat. Kabar baiknya desa yang bukan menjadi lokus stunting juga sudah menganggarkan penanganan stunting di Alokasi Dana Desa.

“Raga Pantas bukan hanya menyasar penderita stunting saja, tetapi ada upaya menyasar di keluarganya. Dan bukan hanya penanganan tetapi pencegahan juga. Hasilnya diharapkan jangan ada lagi penderita stunting baru, ” ucapnya.

Sunggono optimistis penanganannya ke depan akan makin bagus. Karena juga melibatkan pihak swasta. Pihaknya mendengar ada dapat kabar sudah ada perusahaan yang komitmen dalam penanganan stunting yang ada di Kukar.

Untuk tahun depan Sunggono memperkirakan ada 25 desa yang menjadi lokus stunting penanganan dan pencegahan. Dengan tolok ukur masih ada orang tua yang tidak aktif mendatangi posyandu demi mengontrol perkembangan tumbuh dan bayi.

“Jika tingkat kunjungan posyandu rendah, tidak sampai 50 persen. Maka perlu ada penanganan khusus pencegahan stunting,” ucapnya.

Sunggono memastikan bahwa penanganan stunting bukan hanya dilakukan satu organisasi perangkat daerah (OPD) saja. Tetapi harus dilakukan bersama-sama lintas OPD. Dan ini jadi komitmen bersama dalam percepatan penanganan stunting yang dilakukan pemerintah kabupaten. (hik)

Editor: Jonathan Antonius

Comments

BERITA TERBARU

To Top