METROPOLIS

Sempat Dirawat Warga, Bayi Orang Utan di Kutim Diserahkan ke BKSDA

Bayi orang utan bernama Loli yang sempat dirawat warga sebelum diserahkan ke BKSDA Kaltim. (Foto: BKSDA Kaltim)

SAMARINDA, Kate.id – Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) menerima penyerahan seekor bayi orang utan berjenis kelamin jantan. Orang utan itu diterima dari warga Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Bayi orang utan tersebut selanjutnya akan direhabilitasi untuk kemudian dilepasliarkan ke habitatnya setelah kondisinya memungkinkan.

“Kami memberikan apresiasi yang tinggi kepada warga Desa Miau Baru yang telah menyelamatkan bayi orang utan tersebut. Untuk kemudian dengan sukarela dan kesadaran menyerahkannya kepada kami,” kata Kepala BKSDA Kaltim Sunandar, Senin (8/6/2020).

Pihaknya berharap bayi orang utan ini dapat tumbuh dan menjalani proses rehabilitasinya dengan baik. Sebelum akhirnya akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya di hutan yang lebih aman.

Penyerahan ini terjadi atas laporan dari seorang warga sekitar Desa Miau Baru pada tanggal 2 Juni 2020 melalui call center BKSDA Kaltim. Dia melaporkan ada seorang warga yang telah memelihara bayi orang utan selama beberapa waktu.

Bayi orang utan tersebut hendak diserahkan ke pihak yang berwenang secara sukarela karena masyarakat sadar dan memahami bahwa jenis orang utan Kalimantan tersebut merupakan jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia.

“Setelah menerima laporan, saya menugaskan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang terdekat. Yaitu dari tim WRU Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau yang berposisi di Tanjung Redeb, untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut,” beber Sunandar.

Tim WRU BKSDA Kaltim bersama tim medis satwa dari pusat rehabilitasi orang utan (PRO) Center for Orangutan Protection (COP) di Labanan, Berau dan dipandu oleh penunjuk jalan sekaligus penghubung dengan warga yang merupakan personel PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) pun segera bergerak menuju lokasi keberadaan orangutan tersebut.

Orang utan tersebut dapat diamankan sepenuhnya pada siang hari sekitar jam 13.00 Wita dan langsung dilakukan pemeriksaan kesehatan awal. Hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa bayi orang utan tersebut cukup sehat dan diketahui berusia kurang lebih 1 tahun.

Hasil koordinasi lebih lanjut, antara tim WRU BKSDA Kalimantan Timur di lapangan, Kepala BKSDA Kalimantan Timur dan Kepala SKW I Berau, maka diputuskan bahwa bayi orang utan tersebut akan menjalani proses pemulihan dan rehabilitasi terlebih dahulu di Pusat Rehabilitasi Orang Utan COP yang berlokasi di KHDTK Hutan Litbang Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Labanan, Berau.

Sebelum menjalani proses rehabilitasi, bayi orang utan tersebut akan ditempatkan dalam kandang karantina selama kurang lebih 1 sampai 3 bulan, dan menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan lanjutan.

“Sampai saat ini satu-satunya kawasan hutan untuk pelepasliaran berada di Kalimantan Timur adalah kawasan hutan Kehje Sewen yang kapasitasnya juga makin terbatas. Kami berharap dapat memperoleh kawasan hutan yang baru untuk pelepasliaran orang utan Kalimantan di masa yang akan datang,” imbuh Sunandar.

Sementara itu Edwin, seorang Polisi Kehutanan SKW I Berau sebagai ketua tim penyelamatan memberikan informasi bahwa bayi orang utan yang diberi nama Loli tersebut telah diselamatkan dan dipelihara selama empat bulan oleh warga masyarakat Desa Miau Baru. Bayi orang utan ini ditemukan masyarakat di kebun masyarakat di sekitar desa dalam kondisi terpisah dari induknya.

Selama dalam pemeliharaan warga, bayi orang utan tersebut diletakkan pada kandang kayu yang terletak di belakang rumah. “Secara umum kondisinya tampak cukup sehat, tetapi masih memerlukan observasi lebih lanjut dari tim medis satwa,” ungkap Edwin. (lan)

Editor: Jonathan Antonius

Comments

BERITA TERBARU

To Top