RAGAM

Hari Perawat Internasional di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi perawat Covid-19. (Foto: Paolo Miranda/BBC)

JAKARTA, Kate.id – Tanggal 12 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai hari perawat internasional. Namun peringatan yang didasarkan pada hari kelahiran tokoh perawat dunia Florence Nightingale tersebut pada tahun ini terasa berbeda.

Hal tersebut dikatakan Ketua Tim Penanganan Covid-19 Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) Jajat Sudrajat. Tahun ini dipandang istimewa, karena Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan 2020 sebagai Tahun Perawat dan Bidan.

“Sekaligus menjadi tahun ke-200 peringatan kelahiran Nightingale, sosok pelopor perawat modern,” kata Jajat.

Di sisi lain, dunia sedang dihadapkan pada wabah virus corona baru (Covid-19). Yang mencuat mulai di penghujung tahun 2019, dan kemudian berkembang menjadi pandemi global.

Jajat melihat momentum Hari Perawat Internasional 2020 ini untuk terus meningkatkan kompetensi. Serta adaptasi baru menghadapi Covid-19 yang merupakan fenomena baru.

Termasuk upaya meningkatkan solidaritas profesional, dan kepedulian untuk saling tolong-menolong lintas wilayah, lintas daerah juga dilakukan.

“Saat perawat yang berada di Zona merah, dihadapkan pada peningkatan jumlah pasien yang harus dilayani, maka perawat di Zona hijau lainnya dengan segera menyediakan dirinya menjadi relawan, guna menopang dan menambah barisan kekuatan melawan Covid-19,” ungkapnya.

Kata dia, sampai saat ini tercatat 4.010 data relawan ke DPP PPNI yang berasal dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota dan siap bertugas.

Jajat juga menyebut ada segudang persoalan yang langsung menyentuh perawat selama wabah berjuang di tengah pandemi ini. Seperti minimnya alat pelindung diri (APD) untuk perawat dan tenaga kesehatan lain yang langsung berhadapan dengan pasien Covid-19.

Stigma kepada perawat sebagai pembawa virus dan agen penularan, penolakan terhadap perawat di lingkungan rumah indekos. Bahkan adanya penolakan pemakaman terhadap jenazah perawat yang meninggal karena Covid-19.

“Ini merupakan sejumlah permasalahan yang kontraproduktif dengan berbagai upaya perang melawan virus ini. Kita semua menyadari, situasi ini berat, terlebih sejawat Perawat yang berada di garda terdepan penanganan Covid-19. Mereka berada dalam risiko tinggi terpapar,” urai Jajat.

Meski demikian, tanggung jawab profesional telah menuntun para perawat tetap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Untuk itu dukungan semua pihak perlu terus diberikan, agar perawat dan tim kesehatan lainnya tetap dapat merawat bangsa dengan kondisi aman, tetap sehat, dan sejahtera.

Jajat menyakinkan PPNI terus dan tetap aktif membantu mengatasi sejumlah persoalan yang dialami Perawat dengan menyediakan APD maupun menghimpun donasi.

“Saat ini kita dalam masa sulit. Tetapi kita tetap optimistis dengan kekompakan dan soliditas, serta rasa tanggung jawab semua komponen bangsa, maka akan dapat melewati wabah ini dengan cepat,” tegasnya. (jon)

Editor: Jonathan Antonius

Comments

BERITA TERBARU

To Top