NASIONAL

Mantan Panglima TNI Djoko Santono Meninggal Dunia, TNI Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Prosesi pemakaman Djoko Santoso berlangsung secara militer (Dok. Antara Foto)

JAKARTA, Kate.id – Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso berpulang. Ia meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat TNI Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, (10/5/2020) pagi tadi pukul 06.30 WIB.

Kabar tersebut dibenarkan oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Kolonel Inf Nefra Firdaus. “Innallilahi wainallilahi rojiun, telah meninggal dunia mantan Panglima TNI Jenderal TNI Purn Djoko Santoso pada Minggu pukul 06.30 WIB,” katanya, seperti dilansir dari Antara.

Ia pun berharap agar almarhum Djoko Santoso meninggal dalam keadaan husnul khotimah. “Semoga diampuni semua kekhilafannya dan diterima amal ibadah serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan oleh Allah SWT Tuhan Yang Maha Pengasih. Aamiin,” ujar Nefra.

Kesehatan Djoko Santoso memang sempat menurun usai operasi pendarahan otak dan dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, beberapa waktu lalu. Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 8 September 1952 itu meninggal dunia pada usia 67 tahun. Almarhum meninggal setelah dirawat sejak Sabtu (2/5) lalu karena mengalami stroke berat.

Wakil Kepala RSPAD Gatot Soebroto, Brigjen TNI dr Budi Sulistya mengatakan, bahwa Djoko Santoso meninggal dunia karena stroke. “Beliau  dirawat sejak Sabtu (2/5) lalu karena mengalami stroke. Beliau meninggal bukan karena Covid-19, tetapi karena stroke berat yang dideritanya,” kata Budi.

TNI Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat memimpin upacara pemakaman Djoko Santoso (Dok. Rakyat Merdeka)

Jajaran TNI dan TNI Angkatan Darat mengibarkan bendera setengah tiang sebagai penghormatan terakhir atas meninggalnya mantan Panglima TNI Jenderal TNI Purn Djoko Santoso pada usia 67 tahun.

“Sebagai bentuk penghormatan dan rasa duka cita yang mendalam atas kepergian Almarhum Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, seluruh satuan jajaran TNI/TNI Angkatan Darat mulai hari ini mengibarkan bendera setengah tiang,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Kolonel Inf Nefra Firdaus.

Djoko Santono dimakamkan di Sandiego Hills, Karawang Jawa Barat pukul 14.00 WIB tadi. Proses pemakaman berlangsung secara militer yang dihadiri oleh keluarga besar, jajaran TNI hingga koleganya.

Upacara pemakaman dipimpin oleh Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Prosesi pemakaman Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso tetap mengikuti standart protokol kesehatan, untuk  mengantisipasi dan mencegah penyebaran Covid-19.

Dalam Prosedur Tetap (Protap) Upacara Pemakaman Militer pasukannya berjumlah satu kompi atau 120 personel, namun dengan adanya Covid-19 maka jumlahnya hanya 40 personel dengan jarak antara pasukan peserta upacara yaitu dua meter.

“Saya Panglima Tentara Nasional Indonesia atas nama Negara, Bangsa dan Tentara Nasional Indonesia dengan ini mempersembahkan ke Persada Ibu Pertiwi jiwa raga dan jasa-jasa Almarhum. Semoga jalan Dharma Bhakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua dan arwahnya mendapat tempat yang semestinya di alam baka,” kata Panglima TNI.

Perjalanan Karier Moncer dengan Beragam Penghargaan

Jenazah mantan Panglima TNI Djoko Santoso saat di kediamanmnya. (Dok. Antara Foto)

Dilansir dari Antara, saat masih aktif di militer, Djoko Santoso memiliki karir cukup moncer. Djoko mengawali karier militer usai lulus dari pendidikan Akademi Militer (Akmil) di Magelang tahun 1975.

Selain itu, Djoko juga mengikuti Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (Sussarcabif) pada 1976; Kursus Lanjutan Perwira Tempur (Suslapapur) 1987; Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) 1990; dan Lemhannas pada 2005. Dia juga melanjutkan pendidikan S1 Sarjana Ilmu Politik dan S2 Manajemen Politik di Universitas Terbuka, Jakarta.

Karier Djoko di militer dimulai dengan menjabat sebagai Komandan Peleton 1 Kompi Senapan A Yonif 121/Macan Kumbang. Setelah jadi perwira tinggi dia menjabat Waassospol Kaster TNI (1998), Kasdam IV/Diponegoro (2000) dan Pangdivif 2/Kostrad (2001).

Dia kemudian menjabat Panglima Kodam XVI/Pattimura dan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) 2002-2003. Saat itu namanya bersinar karena berhasil meredam konflik di Maluku.

Setelahnya dia menjabat Panglima Kodam Jaya pada Maret 2003-Oktober 2003. Prestasinya kian melejit hingga menjadi Wakil Kepala Staf TNI-AD (Wakasad) tahun 2003.

Pada Tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengangkat Djoko Santoso sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Dua tahun berselang, Presiden SBY mendampuknya sebagai Panglima TNI untuk menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto pada tahun 2007 hingga Tahun 2010.

Adapun untuk penugasan luar negeri ia pernah ditugaskan ke Malaysia (1990), Australia (1990), Singapura (1991), China (1994), Amerika Serikat (2006), Vietnam (2006), India (2007), Pakistan (2007), Kamboja (2007).

Selama karirnya di dunia militer, Djoko pernah mendapatkan beberapa bintang jasa seperti Bintang Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi Utama, Bintang Bhayangkara Utama, Bintang Pingat Jasa Gemilang, Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama, Bintang Jalasena Utama, dan Medali Sahametrei Tingkat Theoupdin.

Setia Mendampingi Prabowo

Mantan Panglima TNI Jendral (Purn) Djoko Santoso menyampaikan orasi politik mendukung Prabowo-Hatta (Dok. Antara Foto)

Setelah akhir masa jabatannya sebagai Panglima TNI, Djoko Santoso digadang-gadang maju menjadi calon presiden 2014-2019. Namun dia menyatakan dukungannya kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Djoko Santoso pun menjabat sebagai salah satu anggota Dewan Pembina Partai Gerindra sejak 2015. Kesetiaannya pada Prabowo Subianto pun ditunjukannya kembali pada Pilpres 2019-2024. Djoko Santoso didapuk sebagai Ketua Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga.

Tidak hanya di politik, nama Djoko Santoso juga menggema di dunia olahraga. Ia pernah terpilih menjadi Ketua Umum PB PBSI periode 2008-2012 secara aklamasi.

Pria sosok yang tegas dan perhatian terhadap para prajurit ini meninggalkan seorang istri yaitu Angky Retno Yudianti dan dua orang anak yaitu Andika Pandu Puragabaya dan Ardhya Pratiwi Setiowati. (tm)

Comments

BERITA TERBARU

To Top