KULINER

Dayok Nabinatur, Kuliner Ayam Sarat Filosofi dari Simalungun

Dayok Nabinatur. (Foto: Akuntt.com)

TIDAK kalah dengan Toba, Simalungun di Sumatera Utara (Sumut) juga kaya akan pesona kuliner. Salah satu yang paling populer adalah kuliner Dayok Nabinatur. 

Dikutip dari laman indonesia.go.id, dalam bahasa Simalungun dayok artinya ayam, sedangkan nabinatur maknanya yang diatur. Jika diterjemahkan, Dayok Nabinatur berarti ayam yang dimasak dan disajikan secara teratur.

Hingga kini, masyarakat Simalungun terus mewariskan kuliner satu ini dari generasi ke generasi. Sehingga orang-orang Simalungun yang berdiam di perantauan umumnya masih tahu cara menyajikan dayok nabinatur dan paham petuah-petuahnya.

Disebut nabinatur, karena pengerjaannya musti dilakukan dengan cermat, runut, dan teratur sejak proses pemotongan mengikuti alur anatomi ayam, sampai penghidangannya. Saat hendak dihidangkan, daging ayam disusun secara teratur di atas talam dan ditata menyerupai wujud ayam tersebut ketika masih hidup.

Di zaman Kerajaan Simalungun, kuliner satu ini disajikan hanya untuk raja-raja Simalungun dan kaum bangsawan. Kokinya juga harus laki-laki. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, makanan ini kini sudah bisa dinikmati oleh rakyat jelata. Dan perempuan pun sudah bisa meraciknya.

Dewasa ini, dayok nabinatur kerap disajikan pada acara-acara adat Simalungun, acara gereja (pembaptisan anak, angkat sidi, memasuki rumah baru), dan acara penting keluarga seperti perayaan ulang tahun, memberangkatkan anak merantau, atau mendapat pekerjaan, wisuda dan lainnya.

Orang Simalungun percaya, dayok nabinatur menjadi sarana menyampaikan doa berkat. Secara filosofis, orang yang menikmati dayok nabinatur akan menerima berkat dan menemukan keteraturan dalam hidup. Tak heran ketika menyerahkan dayok nabinatur, orang tua menyertainya dengan doa-doa dan umpasa (petuah) yang berisi petuah-petuah agar si anak hidup teratur di tanah rantau menjunjung kesantunan dan etika.

Makna petuah dari dayok nabinatur amat berharga baik dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Termasuk di dalamnya, petuah untuk memahami posisi serta tanggung jawab baik sebagai bapak, ibu, anak, orangtua, mertua, sahabat, petani, pedagang, buruh, pegawai, atau berbagai profesi.

Orang harus pandai menempatkan dirinya dan menjalan fungsinya seperti unsur-unsur dalam tubuh yang saling bekerja sama, berkoordinasi, dan bersinergi. Tubuh akan bekerja optimal jika setiap unsur bekerja menjadi satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh.

Itu sebabnya, saat proses pemotongan ayam dan memasaknya, tidak boleh bersifat kemaruk. Orang yang memotong ayam dan memasak kuliner dayok nabinatur musti jujur pada dirinya sendiri. Tidak boleh menyembunyikan sepotong daging pun dan diharamkan mencicipinya saat masih dimasak.

Hindari saling menghujat, provokator negatif, saling mencari kelemahan orang lain, saling fitnah, saling curiga, menang sendiri, dan menghalalkan segala cara merupakan petuah dari simbol makanan adat Simalungun Dayok Binatur.

Menyajikan dayok nabinatur diupayakan agar bagian-bagian tubuh ayam yang layak dimakan itu tetap utuh (tidak hilang), karena akan menjadi sarana penyampaian pesan luhur secara simbolik. Dalam masa sekarang ini, pemberian dayok nabinatur mengajarkan generasi kita untuk tidak menjadi provokator, pemecah belah, dan penyebar hoax. Agar hidup teratur, maka saling menghargai, saling membantu, saling mengutamakan menjadi kunci.

Inti dari petuah dayok nabinatur adalah hidup yang bermanfaat bagi masyarakat, mau berbagi, sedia menyebarluaskan perbuatan yang baik, dan saling mengasihi dalam kelemahan.

Bahan baku dayok nabinatur biasanya ayam kampung jantan. Ayam itu kemudian diolah dengan dua proses memasak, yakni dipanggang dan digulai. Kenapa ayam jantan? Menurutnya, ayam jantan diyakini sebagai simbol kekuatan, kegagahan, semangat, kerja keras, tahan banting, dan pantang menyerah.

Orang Simalungun layak bersyukur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia menetapkan makanan khas Simalungun, Dayok Nabinatur, sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Ini menegaskan sebuah penghargaan yang setinggi-tingginya atas daya cipta leluhur orang Simalungun.

Dengan diakuinya dayok nabinatur sebagai warisan budaya tak benda, semoga bangsa kita yang berbilang kaum ini semakin bangga atas keragaman budaya, bahasa, seni dan kulinernya. Mewariskan bahasa, budaya, seni dan makanan harus terus digalakkan dari generasi ke generasi agar kekayaan keragaman budaya kita tetap lestari dan menjadi kekuatan menangkal serangan budaya yang destruktif dari luar. (indonesia.go.id)

Comments

BERITA TERBARU

To Top