HUKUM & KRIMINAL

Sanksi Berat Menanti Napi Asimilasi yang Langgar Aturan

ilustrasi napi. (foto: shutterstock)

Kate.id – Sanksi berat menanti narapidana (napi) atau Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Kalimantan Barat (Kalbar) yang menerima asimilasi darurat virus corona baru (Covid-19). Sanksi diberikan apabila napi tersebut melakukan pelanggaran hukum atau aturan.

“Ketentuan dan syarat jelas kami berlakukan kepada penerima asimilasi. Asimilasi itu kami berikan kepada WBP yang tidak kena leter F (pelanggaran). Dan kepada yang bersangkutan sebelum ke luar lapas harus membuat surat pernyataan yang isinya kalau melanggar akan kena sanksi yang lebih berat lagi,” ungkap Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Barat, Suprobowati, Rabu (15/4/2020).

Dijelaskan, hingga saat ini ada sebanyak 833 WBP yang menerima asimilasi dan penerima integrasi terkait pandemi Covid-19. Mereka berasal dari 13 lembaga pemasyarakatan (LP) di Kalbar.

“WBP dibebaskan ini merupakan narapidana perkara pidana umum. Warga binaan yang dibebaskan itu tidak berstatus bebas murni. Sehingga masih harus mengikuti bimbingan dan pengawasan dari Balai Pemasyarakatan,” sebutnya.

Suprobowati menyatakan, ketentuan tersebut sudah sesuai dengan SK Permen Nomor 10 tahun 2020. Penerima asimilasi adalah narapidana yang telah menjalankan setengah dari masa pidananya.

“Jika para WBP berperilaku baik, maka mereka akan mendapat program integrasi atau pembebasan bersyarat. Akan tetapi jika kembali melakukan kejahatan, maka otomatis asimilasinya dicabut dan akan kembali ke lapas untuk menjalani masa hukum kesalahan yang lama dan ditambah dengan kesalahan yang baru,” bebernya.

Pemberian asimilasi dan integrasi itu sendiri menurutnya sudah melalui pendataan secara selektif. Sehingga ditetapkan dengan sebanyak 833 napi atau WBP yang menjalani asimilasi.

Sebelumnya Polda Kalbar meringkus tiga pelaku kasus pencurian dengan pemberatan (curat) di wilayah Kabupaten Kubu Raya. Satu pelaku di antaranya seorang napi asimilasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pontianak, 6 April 2020 lalu. Ironisnya, sejak dibebaskan pelaku telah empat kali mencuri. (***)

Comments

BERITA TERBARU

To Top