POLITIK

Komisi II DPRD Kutai Kartanegara Sambangi Tabang (1): Pantau Irigasi yang Masih Tradisional

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kutai Kartanegara Betaria Magdalena (baju putih) saat menyambangi warga Kecamatan Tabang. (foto: DPRD Kukar)

KUTAI KARTANEGARA, Kate.id – Kecamatan Tabang di Kabupaten Kutai Kartanegara Kukar) merupakan kawasan terujung di kabupaten ini. Lokasinya berada ratusan kilometer dari pusat kabupaten. Dengan jarak tempuh hingga lebih dari tujuh jam perjalanan. Namun, potensi pertanian di kecamatan ini begitu besar.

Pada Selasa (3/3/2020) lalu, anggota Komisi II DPRD Kukar sampai juga di kecamatan Tabang. Setelah menempuh perjalanan seharian melalui jalur darat berjam-jam. Meski suasana hari sedang panas terik, mereka langsung menyambangi dan menyapa warga di Desa Ritan Baru dan Tukung Ritan yang tergabung dalam Kelompok Tani Sinar Jaya Bekeleng (SJB).

Rombongan dipimpin langsung Wakil Ketua Komisi II Betaria Magdalena. Turut ikut dalam rombongan tersebut, Syarifuddin, H Azhar Nuryadi, Ria Handayani, Sopian-Sopian , Hamdiah, Doni Ikhwan dan Firnadi Ikhsan.

Di desa tersebut, Betaria melakukan pengecekan alat serta infrastruktur pertanian. Pasalnya, pertanian menjadi salah satu komoditas unggulan untuk daerah paling ujung di Kukar itu. Salah satunya bedeng sawah sepanjang 300 meter, untuk melihat sistem irigasi sawah yang masih sangat tradisional.

“Kami ingin menyerap aspirasi masyarakat terutama petani, Apa saja infrastruktur pertanian yang sebenarnya mereka inginkan,” ujar Betaria.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kutai Kartanegara Betaria Magdalena (baju putih) saat menyambangi warga Kecamatan Tabang. (foto: DPRD Kukar)

Ketua Kelompok Tani SJB, Yunus Merang mengungkapkan kegembiraannya atas kedatangan legislator Kukar tersebut. Terlebih lagi menurutnya, selama ini kunjungan ke daerahnya terbilang jarang.

Dia menceritakan jika masyarakat suku Dayak di Tabang selama ini bertani selalu berpindah-pindah. Atau biasa disebut dengan sistem lahan berpindah.

“Jadi dari rantau yang satu ke rantau yang lain, namun dengan seiring perkembangan zaman kami berkumpul dan berpikir anak kami ingin bersekolah,” ujarnya.

Sehingga, kini mereka pun memilih menetap di kampung, namun tetap berharap bisa bercocok tanam dengan baik untuk bisa bertahan hidup. Dia menceritakan, pada tahun 1990 membuka lahan tahun. Selanjutnya pada tahun 2015 warga membentuk kelopok tani SBJ berjumlah 96 Kepala Keluarga. Setiap KK kami mendapat lahan 1 hektare. Sedangkan yang masih bertahan kurang lebih 50 KK.

“Kami akui, salah satu kendala yang kami rasakan adalah kami belum tahu cara bertani dengan baik, karena tenaga penyuluh pertanian sangat jarang ke tempat kami. Mungkin karena lokasinya terpencil dan jauh,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kutai Kartanegara Betaria Magdalena (baju putih) saat menyambangi warga Kecamatan Tabang. (foto: DPRD Kukar)

Terlebih lagi, sistem pengairan pun kini masih sangat tradisional. Begitu juga dengan infrastruktur dan peralatan pertanian lainnya. Sistem pengairan masih menggunakan cara tradisional dengan mengalirkan air pada Sungai Long Tahap. Sungai yang ada ini walau kemarau tidak pernah kering

“Yang menjadi kendala utama kami adalah masalah infrastruktur badan jalan untuk menuju masing-masing sawah, memang kami pernah dibantu oleh salah satu perusahan tapi ini sangat terbatas,” lanjutnya.

Dengan kedatangan anggota Komisi II DPRD Kukar ini, dia pun berharap bisa dibantu dalam hal peningkatan Infrastruktur jalan sawah, pembuatan saluran irigasi, percetakan sawah, bantuan bibit, dan bantuan pupuk.

Sementara itu, Betaria memastikan akan memperhatikan masukan dari para petani tersebut. Terlebih lagi hal ini untuk meningkatkan kemandirian serta ketahanan pangan di Kecamatan Tabang bahkan Kukar.

“Pertemuan ini menjadi sangat berharga karena banyak informasi yang kami peroleh dari warga kami di Kecamatan Tabang,” ujar Betaria. (ahy)

Editor: Jonathan Antonius

Comments

BERITA TERBARU

To Top