EKONOMI & BISNIS

Penyaluran Dana Desa ke Desa Fiktif Diklaim Sudah Disetop

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: istimewa)

Kate.id – Penyaluran dana desa untuk 56 desa fiktif atau desa yang memiliki nama tapi tidak berpenghuni di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) telah dihentikan. Penghentian ini ditegaskan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

“Penyaluran dana desa pada tahap ketiga 2019 untuk ke 56 desa dihentikan seluruhnya,” kata Sri saat mengikuti rapat kerja dengan Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk membahas postur APBN 2020 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/1/2020) dikutip dari Kantor Berita Antara.

Dia mengatakan, penghentian penyaluran dana desa tersebut dilakukan sampai pihaknya mendapatkan kejelasan atas status desa secara hukum maupun secara substansi fisik. “Kami bekerja berdasarkan seluruh evidence dan bukti secara fisik yang memang ada bukti tersebut,” ujar Sri.

Dia menjelaskan kasus itu berawal dari pembentukan 56 desa yang ditetapkan pada Peraturan Daerah Konawe Nomor 7 Tahun 2011 sebagai perubahan Peraturan Daerah Konawe Nomor 2 Tahun 2011. Sebanyak 56 desa tersebut akhirnya mendapatkan nomor registrasi desa dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada 2016 sehingga mulai 2017 desa itu memperoleh alokasi dana desa dari pemerintah.

Di sisi lain, Sri Mulyani menyebutkan penyaluran dana desa untuk empat desa dihentikan pada tahap ke-3 atau triwulan III-2018. Karena terindikasi adanya permasalahan pada administrasinya sehingga pihak Polda Sultra melakukan penyelidikan.

“Ke-56 desa itu mengalami cacat hukum karena Perda itu tidak melalui tahapan di DPRD dan register Perda itu adalah tentang Pertanggungjawaban APBD. Jadi memang tujuannya begitu,” jelasnya.

Menurut Sri, pembentukan desa baru harus memiliki Peraturan Daerah sendiri dan tidak ditempelkan pada Perda tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. “Kalau yang untuk baik-baik saja kan memang harusnya ada Perda sendiri. Ini ditempelkan dengan Perda tentang pertanggungjawaban,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Sri Mulyani meminta kepada Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi serta Kemendagri untuk memperbaiki basis datanya. “Kami akan minta Kemendagri dan Kemendes memperbaiki data basenya. Kita tentu juga berharap agar DPD IV juga mengawasi di daerah masing-masing,” tandasnya. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top