MIMBAR JUMAT

Waktu yang Tepat untuk Memperbaiki Diri

ilustrasi

Khotbah Jumat pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَ مَنْ اِتَّقَى بِمَحَبَّتِهِ وَأَوْعَدَ مَنْ خَالَفَهُ بِغَضَبِهِ وَعَذَابِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ الله وَخَيْرِ خَلْقِهِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin, jama’ah shalat Jumat hafidhakumullah.

Puji syukur hanyalah milik Allah, Dzat yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesehatan bagi kita semua. Shalawat dan salam kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad saw, panutan hidup terbaik bagi umat manusia.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri kami pribadi, dan umumnya kepada jama’ah kesemuanya untuk senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah ta’ala, yakni dengan cara senantiasa menjalankan perintah-Nya, serta menjahui larangan-Nya.

Hadirin, sidang Jumat yang dimuliakan oleh Allah ta’ala.

Setiap bertemu dengan tahun baru, orang-orang pada umumnya bergembira ria dan bersuka cita. Berbagai acara diselenggarakan sedemikian rupa demi menyambut momen tahunan tersebut, yang notabene tidak lebih dari sekadar perayaan yang penuh dengan hura-hura: hiburan musik, tarian, tiupan trompet, dan sejenisnya. Kecenderungan seperti ini berlangsung tentu bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia.

Memang sah-sah saja orang menyambut tahun baru dengan cara tersebut. Namun, sesungguhnya ada yang lebih penting atau subtansial dari sekadar perayaan seremonial seperti itu, yakni bagaimana menjadikan tahun yang baru lewat itu sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri (muhasabatun nafsi) untuk selanjutnya melakukan perbaikan diri (ishlahun nafsi) di tahun baru.

Di satu sisi, dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Baik dalam ranah sosial, budaya, ekonomi, politik, dan keamanan. Terkait yang terakhir, acaman penyebaran doktrinasi intoleran, radikalisme, dan ekstrimisme nampak semakin vulgar di ruang publik dan di media sosial.

Contoh konkretnya adalah maraknya penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech). Imbasnya adalah mudahnya masyarakat saling buruk sangka dan kurang dewasa dalam menghadapi perbedaan. Jika hal ini tidak disadari bersama, sudah barang tentu, keragaman Indonesia akan mudah dibenturkan.

Dari titik inilah, penting kiranya kita sebagai warga negara untuk introspeksi diri. Apakah sikap dan karya hidup kita selama ini sudah selaras untuk kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), atau sebaliknya, berpotensi merusaknya.

Ma’asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah ta’ala.

Dalam bahasa Arab ada ungkapan yang sangat terkenal mengenai formula perbaikan diri, yaitu sebagai berikut:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أًمْسِهِ فَهُوَ خَاسِرٌوَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ هَالِكٌ

Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, ia orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, ia orang yang merugi; dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia orang yang celaka.

Sudah genap satu tahun kita lewati terhitung dari awal Januari tahun lalu hingga Januari tahun baru ini. Selama kurun waktu tersebut tentu telah banyak yang kita lakukan dan kita alami dengan berbagai situasinya. Saatnya kini kita merenungkan dan kemudian mengevaluasi segala karya kita sebagai bahan untuk memulai aktivitas di tahun baru 2020.

Menyitir formula perbaikan diri yang kami sebutkan tadi, agaknya kita memang mesti pandai-pandai menyiasati perjalanan hidup ini, mau dibawa ke manakah diri kita sebenarnya? Sudah pasti, jika setiap orang ditanya, jawabannya ingin menjadi orang yang termasuk jenis pertama: hari ini lebih baik dari kemarin. Inilah orang yang beruntung dalam hidupnya.

Jika di tahun 2019 catatan perjalanan hidup kita kurang baik, sudah sepatutnya kita meningkatkannya menjadi lebih baik di tahun 2020. Apabila rekam jejak muamalah kita, baik secara vertikal maupun secara horizontal, kurang mengesankan, seyogianya kita berusaha agar lebih mengesankan. Dalam hal ini, kita mesti mempergunakan waktu yang sebaik-baiknya untuk perbaikan diri.

Bukankah setiap orang dari kita tidak mau hidup stagnan atau berjalan di tempat, tidak maju meski juga tidak mundur? Memang tidak buruk, namun demikian, kita juga tidak mengalami peningkatan sama sekali. Inilah jenis orang yang hari ini sama dengan hari kemarin. Orang dengan karakter seperti ini disebut merugi.

Mengapa merugi? Untuk lebih mudah memahami, kita ambil saja contoh seorang pedagang. Jika yang diperolehnya selama berdagang hanya kembali modal, maka sebenarnya ia rugi. Ia memang tidak rugi dalam pengertian kehilangan modal dagangnya, namun sebenarnya ia telah merugi dalam arti yang lain. Ia jelas sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaga, tetapi hasilnya tidak sepadan.

Celakanya, ia tidak memiliki semangat untuk melakukan perbaikan diri. Ia menerima saja dengan kondisi yang ada. Di situlah terletak kerugian yang paling nyata. Mungkin saja ada orang yang memegang prinsip “asal tidak rugi”, sehingga mereka tidak begitu terdorong untuk memperbaiki diri. Padahal kalau direnungkan secara mendalam, prinsip “asal tidak rugi” sesungguhnya sebuah “kerugian”. Saat orang-orang lain, yang notabene rivalnya, berlomba-lomba untuk meraih keuntungan berdagang, maka mereka yang berprinsip asal tidak rugi akan ketinggalan.

Paling buruk dari itu semua adalah orang yang digolongkan ke dalam jenis: hari ini lebih buruk dari yang kemarin. Tidak tanggung-tanggung formula perbaikan diri tadi menyebutnya sebagai orang yang celaka. Bagaimana tidak celaka, hidupnya benar-benar terdegradasi jika yang dilakukannya saat ini malah lebih buruk dari kemarin.

Bayangkan saja, jika kita seorang mahasiswa atau pelajar. Di semester kemarin, misalnya, nilai-nilai kita rata-rata A dan B, lalu di semester ini banyak dihiasi nilai-nilai C dan D. Pasti kita merasa kecewa, tersiksa, atau bisa-bisa frustasi. Kita akan merasa sebagai orang yang paling tidak berguna dan berharga.

Demikian pula dengan para pedagang, baik besar maupun kecil, pegawai kantoran, para pekerja lepas, buruh, dan berbagai profesi lainnya. Mereka akan merasa sebagai orang yang celaka jika apa yang mereka lakukan sekarang justru lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. Mereka akan seperti orang-orang yang kehilangan arah, tidak tahu harus pergi ke mana dan melakukan apa.

Dan yang lebih fatal lagi adalah dalam kehidupan keagamaan. Misalnya sepanjang tahun kemarin amaliah ubudiah kita terhadap Allah swt kurang maksimal atau banyak bolongnya. Ternyata di tahun ini justru lebih banyak lagi bolongnya, entah karena kesibukan yang melalaikan atau karena karena faktor kemalasan diri. Maka, jika demikian, kita termasuk orang yang benar-benar celaka.

Hadirin, sidang Jumat hafidhakumullah.

Oleh karena itu, seyogianya kita yang masih diberikan kesempatan hidup sampai saat ini oleh Allah swt hendaknya berusaha untuk selalu melakukan perbaikan diri. Dari waktu ke waktu kita harus terus berupaya untuk menjadi lebih baik. Memang mungkin kita tidak selalu mendapatkan hasil yang lebih baik, tetapi setidaknya kita telah berusaha dengan keras menuju ke sana.
Ingatlah bahwa setiap kita diminta untuk selalu mempersiapkan hari esok secara lebih baik. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَه وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر: 81)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Hasyr: 18)

Kata “Hari esok” pada ayat yang khatib bacakan tadi umumnya ditafsirkan sebagai hari akhirat, tetapi bisa juga sebagai hari esok dalam pengertian hari setelah hari ini. Baik dalam konteks hari esok biasa maupun hari akhirat, kita sebagai hamba Allah dituntut untuk selalu mempersiapkan diri menyongsongnya. Dan itu dilakukan dengan cara selalu memperbaiki diri, dari waktu ke waktu, sampai hari akhir benar-benar tiba.

Sebagaimana telah kami singgung sebelumnya, dalam beberapa tahun terakhir, tantangan masyarakat Indonesia berupa maraknya ujaran kebencian, berita bohong, ektrimisme, radikalisme, hingga terorisme, perpecahan, perang, bahkan perang antar saudara, harus dapat dijawab secara nyata oleh umat Islam. Dengan senantiasa berintropeksi diri dan memperbaiki diri, masyarakat Muslim Indonesia harus aktif mengambil peran dan inisiasi untuk mendakwahkan keluhuran ajaran agama.

Keragaman Indonesia harus dijadikan sebagai titik pijak untuk berlomba-lomba mewujudkan keadaban dan peradaban. Oleh karena itu, masyarakat Muslim Indonesia yang setidaknya memiliki dua momen libur tahun baru, yakni tahun baru Masehi dan Hijriyah, sudah sepantasnya dapat merengkuh kedua momen tersebut sebagai media untuk selalu memperbaiki diri.

Dengan harapan, akan senantiasa memiliki arti hidup. Menjadi manusia yang beruntung, yakni individu yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan sesuatu yang positif, serta menebar kebaikan untuk sesama.
Semoga langkah kita senantiasa dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Amin ya rabbal’alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Jumat kedua

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُوْلُه سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآله وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا وَأَمَرَ عِبَادَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَبِالسَّلاَمِ تَسْلِيْمًا. فَقَالَ عَزَّ مَنْ قَائِلٌ «إِنَّ الله وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً ». اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

الله اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيـَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَـرُ.

*Khutbah jumat ini diolah dari Buku Khutbah Jumat Populer terbitan The Political Literacy Institute, Convey Indonesia, PPIM UIN Jakarta, dan UNDP, disalin dari islami.co.

Comments

BERITA TERBARU

To Top