INTERNASIONAL

Indonesia Takkan Pernah Akui Nine Dash Line Tiongkok

Menlu Retno Marsudi menjawab wartawan mengenai perkembangan di Natuna usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/1/2020) sore. (Foto: JAY/Humas)

Kate.id – Posisi Indonesia terkait pelanggaran Tiongkok di Perairan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri) akhir 2019 disebut sudah sangat jelas. Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menegaskan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menyampaikan kembali bahwa pelanggaran itu dilakukan oleh kapal-kapal Tiongkok.

Untuk itu Retno mengingatkan, sebagai negara yang menjadi parties/ anggota United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memiliki kewajiban untuk mematuhi apa yang ada di UNCLOS.

“Nah, apa yang ada di antara lain mengatur mengenai masalah ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif, Red.) dan sebagainya. Sehingga penarikan-penarikan garis yang terkait dengan ZEE dan sebagainya yang di Indonesia itu sudah sesuai. Kita hanya ingin Tiongkok mematuhi hukum internasional termasuk di UNCLOS,” kata Retno kepada wartawan usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/1/2019) siang.

Terkait dengan Nine Dash Line  yang diklaim Tiongkok, dia menegaskan sampai kapanpun juga Indonesia tidak akan mengakuinya. Retno menegaskan pernyataan Jokowi bahwa itu bukan hal yang harus dikompromikan karena sudah jelas hak berdaulat.

“Ini hak berdaulat ya, hak berdaulat kita. Sudah jelas, sudah sesuai dengan hukum internasional UNCLOS. Kita hanya ingin RRT sebagai anggota dari UNCLOS itu untuk mematuhi apa yang ada di UNCLOS. Jadi intinya itu seperti yang sudah kita sampaikan,” ujar Retno.

Namun demikian, saat ini pemerintah terus melakukan komunikasi. Bahwa apa yang disampaikan ini adalah hal-hal yang sifatnya prinsipil yang pasti akan didukung oleh dunia internasional karena prinsip-prinsip tersebut diadopsi oleh Konvensi PBB.

“Merupakan kewajiban terutama bagi parties dari convention tersebut untuk tunduk mengimplementasikan artikel-artikel, prinsip-prinsip yang ada di UNCLOS 1982,” terang Retno. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top