EKONOMI & BISNIS

Sepanjang Tahun 2019, Inflasi di Kaltim Terkendali

ILUSTRASI

SAMARINDA, Kate.id – Kenaikan bahan pokok di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang tahun 2019 relatif terkendali. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi di Kaltim pada 2019 hanya sebesar 1,66 persen (yoy).

Dari data yang sama, Provinsi Kaltim di Desember 2019 terjadi inflasi sebesar 0,40 persen. Untuk dua kota besar di Kaltim, terjadi inflasi 0,19 persen di Kota Samarinda dan inflasi sebesar 0,68 persen di Kota Balikpapan.

Inflasi di Kaltim dipengaruhi oleh peningkatan indeks harga pada kelompok transportasi dan komunikasi mengalami inflasi sebesar 1,26 persen. Diikuti kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi sebesar 1,00 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,15 persen, dan kelompok kesehatan dengan inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara 3 kelompok lainnya mengalami deflasi yaitu kelompok sandang dengan deflasi sebesar -0,20 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,14 persen dan kelompok pendidikan rekreasi dan olah raga dengan deflasi sebesar -0,01 persen.

Dari data tersebut, menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim Tutuk S.H Cahyono, angka inflasi di Kaltim relatif terkendali karena lebih rendah dari tahun 2018 sebesar 3,24 persen. Bahkan angka inflasi Kaltim masih dibawah angka inflasi nasional. “Inflasi tahunan di Provinsi Kaltim yang tercatat 1,66 persen masih di bawah inflasi nasional yang sebesar 2,72 persen (yoy),” katanya,di Samarinda, Jumat (3/1/2020).

Ia menjelaskan, tekanan inflasi Kaltim utamanya berasal dari kelompok transportasi dan komunikasi. Hal ini dianggap wajar karena disebabkan oleh lonjakan tarif angkutan udara, seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari natal dan libur tahun baru.

Sementara itu, untuk indeks harga konsumen (IHK) bulanan Kaltim  pada bulan Desember 2019, mengalami inflasi sebesar 0,40 persen (mtm), atau lebih tinggi ketimbang inflasi bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,21 persen (mtm). Peningkatan inflasi pada bulan Desember juga terjadi di tingkat nasional yang tercatat sebesar 0,34 persen (mtm), lebih tinggi daripada inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,14 persen.

Menurutnya, inflasi Kaltim pad abulan Desember selain karena kenaikan harga pada transportasi dan komunikasi, juga disebabkan oleh kelompok bahan makanan. Diantaranya disumbang oleh komoditas ikan layang/benggol, bawang merah, kacang panjang, dan beberapa sayur-sayuran akibat adanya peningkatan konsumsi masyarakat Kaltim menjelang hari raya natal dan tahun baru.

“Kenaikan harga sayur-sayuran juga disebabkan oleh cuaca yang kurang kondusif sehingga produksi dan distribusi komoditas pangan menjadi terhamba,” ucapnya.

Selain itu, berlanjutnya kenaikan harga jual eceran rokok sebagai dampak antisipatif kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen pada tahun 2020 juga masih menjadi penyumbang tekanan inflasi Kaltim pada bulan Desember 2019.”Namun, tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga komoditas cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam ras,” tukasnya. (lim)

Comments

BERITA TERBARU

To Top