NASIONAL

Tagihan Pelayanan Jantung Tembus Rp 10 Triliun, BPJS Kesehatan Bakal Dievaluasi

Menkes dr Terawan Agus Putranto didampingi Dirut BPJS Kesehatan Fahmi Idris menjawab wartawan usai mengikuti rapt terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (21/11/2019) sore. (Foto: JAY/Humas)

Kate.id – Menteri Kesehatan (Menkes) dr Terawan Agus Putranto mengatakan, akan melakukan koordinasi dengan Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Koordinasi ini untuk menindaklanjuti arahan-arahan yang terjadi diskusi di dalam rapat kabinet, bahwa banyak pelayanan berlebihan yang tidak sesuai dengan literatur.

“Ya contoh pelayanan jantung sampai Rp 10,5 triliun lho tagihannya. Kemudian adanya review dari jurnal-jurnal yang mengatakan bahwa pengobatan dengan obat-obatan apalagi pencegahan itu tidak lebih, tidak efisien dibandingkan stent, operasi, dan sebagainya,” kata Terawan kepada wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas tentang Program Kesehatan Nasional, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (21/11/2019) sore.

Dia meyakini, kalau hal itu bisa diperbaiki itu sehingga betul-betul sesuai diagnosisnya, bisa menurunkan 50 persen pembiayaan. Lantaran tagihan yang ada saat ini tampak tak wajar. Contohnya tagihan Rp 10 triliun tersebut.

“Kalau bisa turun separuh saja itu sudah membuat kita berdua bahagia, Rp5 triliun dihemat,” ucap Terawan.

Dia juga melihat indikasi-indikasi seksio ternyata tagihannya juga mengalami kenaikan luar biasa mencapai Rp 5 triliun lebih. Perbandingannya bahkan mencapai 45 persen sendiri. Hal ini menurut Terawan, menunjukan kondisi pelayanan saat ini tidak dalam grade yang baik.

“Nah itulah yang maksud saya berlebihan. Dan ternyata tidak menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi atau anak secara nasional. Kan percuma duit dikeluarkan,” terangnya.

Karena itu, lanjut Terawan, harus ada upaya yang sifatnya lebih preventif, promotif, dan edukasi pada masyarakat. Menyiapkan sarana-sarana sehingga yang memiliki potensi untuk terjadi kematian bisa diturunkan.

“Kalau ada nanti kami akan pilah-pilah bersama Direktur Utama BPJS mana yang masih di bawah standar kita coba naikkan,” sambung dia.

Terawan mengingatkan, penduduk Indonesia bukan hanya di Jakarta. Melainkan sampai ke Asmat, sampai ujung di Pulau Rote, sampai Sabang. Karena itu harus dilihat apakah perlu di sana itu didirikan pusat-pusat kesehatan lagi. Serta bagaimana seharusnya model pelayanan kesehatan yang ada di sana. Apakah perlu menggunakan sistem rujukan, atau sistem telemedicine, atau bahkan menggunakan alat-alat canggih seperti drone dan sebagainya.

“Ya nanti kami lihat, kami evaluasi bersama,” tegas Terawan. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top