HUKUM & KRIMINAL

Hasil Lelang Aset First Travel Diserahkan ke Negara, Para Korban Penipuan Agen Umrah Tak Ikhlas

Korban First Travel dalam pertemuan dengan anggota dewan. (Foto: ANTARA/RENO ESNIR)

Kate.id – Upaya penyelesaian kasus penipuan agen umrah First Travel tampaknya mengecewakan para korban. Korban First Travel diketahui tidak ikhlas apabila uang hasil lelang seluruh aset dan barang bukti kasus tersebut bakal diserahkan kepada negara.

Sudah bergulir sejak 2017, kasus penipuan ini hingga kini belum menemui titik terang. Para korban diperkirakan tidak akan menerima kembali uang yang mereka setor kepada First Travel. Hal ini lantaran Kejaksaan Negeri (Kejari) Depok menyatakan uang hasil lelang dari barang sitaan kasus tersebut akan diserahkan kepada negara.

Salah seorang korban yang merasa kecewa dengan putusan tersebut adalah Qomar. Dia mengaku dirugikan oleh Fisrt Travel hingga Rp 420 juta. Malahan, terdapat 26 anggota keluarganya yang terdaftar sebagai jemaah First Travel.

“Secara pribadi sebagai korban, saya 26 orang, sekira Rp 400 juta sekian (kerugian). Kalau untuk aset first travel yang kemarin sudah inkrah (berkekuatan hukum tetap) yang dirampas oleh negara, secara pribadi saya tidak ikhlas,” katanya, dilansir tayangan YouTube KOMPASTV, Minggu (17/11/2019), dikutip dari Tibun News.

Meskipun merasa tidak ikhlas jika kerugian uangnya tak dikembalikan kepada dirinya, Qomar mengaku tidak akan melakukan upaya banding. Dalam hal ini dia berharap ada bantuan dari pemerintah yang membantu dan meringankan para korban.

“Untuk berikutnya kami tidak akan melakukan upaya hukum lagi. Kami hanya berharap pemerintah hadir disitu,” ujarnya.

Kejari Depok sendiri akan segera segera melelang barang bukti bernilai ekonomis penipuan umrah tersebut. Hal itu dilakukan setelah putusan atas kasus ini berkekuatan hukum tetap. Namun semua hasil lelangan itu nantinya akan disita negara dan tidak dikembalikan kepada korban.

Kepala Kejari Depok, Yudi Triadi mengatakan, pihaknya telah mencoba mengakomodasi para korban first travel. Dalam hal ini pihaknya mencoba mengakomodasi para korban First Travel tersebut. “Kami mencoba melakukan upaya hukum kembali, biar bisa mengembalikan hak-hak para korban First Travel ini,” ungkapnya.

Majelis hakim berpendapat akan terjadi ketidakpastian hukum jika aset dikembalikan kepada calon jemaah yang merupakan korban. “Kemudian Mahkamah Agung juga menolak, itu sudah upaya hukum kita secara maksimal dalam tahap kasasi,” lanjut Yudi.

Saat ini seluruh barang bukti perkara berupa kendaraan bermotor masih terlihat di halaman Kantor Kejari Depok. Seluruh barang bukti ini belum dilakukan eksekusi karena para korban masih melakukan gugatan perdata di pengadilan.

Sementara itu, pengacara korban, M Lutfi Yazid mengatakan, pernyataan Kepala Kejari tersebut bisa menimbulkan keributan. Menurutnya para korban diminta untuk mengikhlaskan uang hasil lelang yang diambil oleh negara tersebut.

“Dia sebagai Kajari (Kepala Kejari, Red.) baru yang ditugaskan di Depok Jawa Barat tidak mengikuti perkara ini dari awal. Sehingga ia tidak paham persoalan tersebut seutuhnya,” beber Lutfi.

“Kedua, sebagai seorang penegak hukum dan pemimpin di sebuah lembaga penegakan hukum yang dengan entengnya mengatakan ‘ikhlaskan saja uang jemaah’. Ini menandakan dia tidak memiliki sensitivitas,” ujar Lutfi dalam keterangan resminya, Jumat (15/11/2019). (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top