METROPOLIS

Hingga Akhir Oktober, Seratusan Ribu Hektare Lahan di Kalbar Terbakar

ilustrasi

PONTIANAK, Kate.id – Seratusan ribu lahan di Kalimantan Barat (Kalbar) terbakar hingga Oktober. Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur KalbarRia Norsan saat Rapat Evaluasi Operasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan, Selasa (12/11/2019).

Dijelaskan, berdasarkan perhitungan satelit landsat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas lahan terbakar di Provinsi Kalbar sampai dengan 31 Oktober 2019 mencapai 127.462 hektare. “Untuk luasan lahan yang terbakar akibat karhutla di Kalbar tahun ini cukup besar, mencapai 127.462 hektare,” ungkap Ria, dikutip dari Kantor Berita Antara.

Sementara berdasarkan pantauan Satelit LAPAN di Provinsi Kalbar sampai 31 Oktober 2019 terpantau 25.858 hotspot. Adapun empat Kabupaten dengan jumlah titik panas terbanyak berturut-turut yaitu Kabupaten Ketapang sebanyak 11.840 titik, Kabupaten Sintang sebanyak 2.624 titik, Kabupaten Sanggau sebanyak 2.237 titik, dan Kabupaten Kubu Raya sebanyak 1.724 titik.

Ria yang juga menjabat Dansatgas Karhutla Kalbar menjelaskan, terjadi peningkatan hotspot dan luas luas lahan terbakar bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal tersebut dipicu kondisi kemarau panjang yang melanda lndonesia.

“Kondisi kemarau panjang mengakibatkan bahan bakaran api (gambut, semak dan pohon) menjadi sangat kering dan dimanfaatkan segelintir oknum untuk membersihkan lahan,” urainya.

Dalam hal ini, pemerintah baik Pusat maupun Daerah telah bekerja keras untuk mengurangi atau mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk Satgas Gabungan Karhutla berjumlah 1512 personel yang terdiri dari 1.000 orang personil TNI, 205 orang personel Polri, 102 orang anggota BPBD dan 205 orang anggota masyarakat dan ditempatkan di 100 desa/kelurahan rawan kebakaran hutan dan lahan.

“Program ini diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan melibatkan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten I Kota, TNI, Polri dan Masyarakat,” sebut Ria.

Menurut dia, penanganan karhutla terbantu dengan adanya Satgas Gabungan Karhutla. Satgas tersebut telah berperan dalam pencegahan dan pengendalian karhutla. “Apabila tidak ada Satgas Gabungan Karhutla, saya yakin kejadian Karhutla di Provinsi Kalimantan Barat akan semakin parah,” sambung Ria.

Ke depannya, dia berharap semua Lembaga atau Instansi dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dapat melaksanakan tupoksinya dengan baik. Sebagaimana yang telah tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top