HUKUM & KRIMINAL

Kasus Atap Sekolah Ambruk, Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Anggota tim labfor Polda Jatim melakukan olah TKP kelas yang ambruk di SD Negeri Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (5/11/2019). Olah TKP tersebut untuk mengetahui penyebab runtuhnya atap gedung yang menewaskan dua orang dan 11 orang lainnya terluka. (Foto: Antara/Umarul Faruq)

SURABAYA, Kate.id – Penyelidikan kasus atas ambruknya atap SDN Gentong, Kota Pasuruan (Jawa Timur) yang mengakibatkan adanya korban jiwa pada Selasa (5/11/2019) terus bergulir. Polda Jawa Timur (Jatim) menetapkan dua orang kontraktor berinisial S dan D sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

“Tadi malam kami pimpin gelar perkara dan sudah ada hasilnya. Kemudian kami amankan tersangka dua orang yaitu inisial D dan inisial S, dari Kota Kediri,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan di SDN Gentong, Kota Pasuruan, Sabtu (9/11/2019) dikutip dari Kantor Berita Antara.

Kapolda mengatakan D dan S berasal dari dua CV berbeda, yakni CV Andalus dan CV DHL Putra. Jenderal bintang dua itu mengaku kecewa atas ambruknya atap sekolah saat kegiatan belajar mengajar hingga mengakibatkan siswa dan guru meninggal dunia.

“Runtuhnya ini sungguh membuat kecewa banyak pihak. Ya harusnya tidak seperti ini. Seandainya murid-murid ini ada di kelas semua, karena sebagian meninggalkan kelas kegiatan olahraga di luar,” ujar Luki.

Mengenai konstruksi bangunan, dari laporan tim Laboratorium Forensik yang dia diterima, konstruksi bangunan memang gagal dan terkesan asal-asalan. “Laporan labfor ini konstruksi bangunan ini sudah gagal konstruksi dan ngawur, tinggal tunggu robohnya. Dan kami dapat laporan dari penerimaan BPK menyampaikan lho seperti ini tidak sesuai, ya ini akibatnya runtuh,” ucapnya.

Selain tindak pidana yang menyebabkan adanya korban jiwa, pihaknya juga menelusuri adanya dugaan tindak pidana korupsi pada proyek pembangunan tersebut. Tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain.

“Ini akan kami kembangkan terus begitu juga dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi. Karena ini menggunakan dana anggaran yang akan kami telusuri, ada satu yang kami dalami untuk bisa dijadikan tersangka,” terang Luki.

Atas perbuatannya, kontraktor berinisial S dan D dikenakan pasal 359 KUHP karena lalai dan mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun. Runtuhnya atap gedung sekolah itu sendiri yang menewaskan dua orang dan 11 orang lainnya terluka. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top