EKONOMI & BISNIS

Tingkatkan Cadangan Gas, PHM Mulai Proyek Peciko 8A Senilai USD 15,3 Juta

Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas Luky Yusgiantoro, Head of Division Engineering Contruction and Project PHM Jarot Wahyudianto, dan Direktur PT Asta Rekayasa Unggul Suyono Hartowo daat acara seremonial. (Dok. Humas PHM)

BALIKPAPAN, Kate.id – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) selaku operator Wilayah Kerja Mahakam, dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia selaku induk perusahaan, mengumumkan dimulainya salah satu tonggak sejarah (milestone) di proyek pemasangan booster compressor dan penambahan deck (deck extension) di anjungan SWP-G di Lapangan Peciko di lepas pantai dengan nama Proyek Peciko 8A

Hal tersebut sebagai bagian dari upaya PHM memaksimalkan produksi migas dari sumur-sumur tua di Wilayah Kerja Mahakam. Milestone tersebut adalah kegiatan first steel cutting, seremoni pemotongan plat baja pertama, sebagai tanda dimulainya tahap konstruksi proyek Peciko 8A yang dilakukan di fasilitas PT Asta Rekayasa Unggul, di Senipah, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim, (31/10) lalu.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas Luky Yusgiantoro, Head of Division Engineering Contruction and Project PT Pertamina Hulu Mahakam Jarot Wahyudianto, dan Direktur PT Asta Rekayasa Unggul Suyono Hartowo.

Kegiatan tersebut bagian dari proyek senilai 15,3 juta USD yang dikerjakan oleh kontraktor asli Kalimantan Timur, PT Asta Rekayasa Unggul. “Basic engineering sudah mulai dikerjakan sejak kuartal pertama 2018, sementara pengerjaan proyek diharapkan selesai di kuartal ketiga 2020,” kata General Manager PHM John Anis.

Pemotongan plat baja pertama sebagai tanda dimulainya tahap konstruksi proyek Peciko 8A (Dok. Humas PHM)

Objektif dari proyek ini, kata dia, diharapkan adanya penambahan cadangan di Peciko sebesar 7,3 miliar standar kaki kubik (billion standard cubic feet, BSCF) gas dan 34 ribu barel (kbbls) kondensat, dengan cara menurunkan tekanan alir kepala sumur ke mode operasi sangat rendah (LLP – Low Low Pressure) untuk sumur-sumur di platform SWP-G.

Selanjutnya proyek-proyek booster compressor sejenis sedang dipersiapkan untuk beberapa platform di  lapangan Peciko untuk penambahan cadangan di lapangan tersebut. “Lebih jauh, booster compressor sedang dikaji untuk diterapkan juga pada lapangan offshore lainnya yaitu lapangan Sisi Nubi dan South Mahakam,” jelasnya.

Menurutnya, proyek ini merupakan brown field atau pengembangan dari fasilitas yang sudah ada, pertama di PHM. Keberhasilan proyek ini diharapkan akan menjadi standar untuk pelaksanaan proyek brown field selanjutnya.

“Kami terus berupaya tanpa henti untuk mengembangkan potensi-potensi yang masih ada di Wilayah Kerja Mahakam. Dan kami mengerahkan segala daya upaya dan terus mencari berbagai terobosan dan inovasi dalam upaya menahan laju penurunan produksi alamiah, namun dengan tetap mengutamakan keselamatan, efisiensi, dan pengambilan risiko yang terukur“, jelasnya.

John Anis juga menggarisbawahi bahwa pengerjaan proyek dengan nilai yang cukup besar oleh kontraktor lokal merupakan bentuk kepercayaan PHM terhadap kemampuan perusahaan yang berada di sekitar wilayah operasi. “Sekaligus sebagai wujud nyata komitmen pemberdayaan masyarakat setempat,” ungkapnya. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top