HUKUM & KRIMINAL

Sindikat Kerah Putih Bisnis Q-NET Diungkap, Belasan Orang Ditetapkan Tersangka

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban bersama Tim Cobra menunjukkan barang bukti kejahatan sindikat Q-NET. (Foto: Polres Lumajang)

LUMAJANG, Kate.id – Tim Cobra Polres Lumajang mengungkap sindikat ‘white collar crime’ alias kejahatan kerah putih dalam bisnis QNet yang telah merugikan banyak pihak. Penipuan investasi berkedok money game dengan sistem piramida ini dijalankan oleh tiga perusahaan yaitu PT QN
International Indonesia (QNII), PT Amoeba Internasional dan PT Wira Muda Mandiri.

Dilansir dari Tribrata News Polri, ketiga perusahaan ini disebut berbagi peran dan bertanggung jawab atas penipuan investasi yang dilakukan selama kurang lebih 21 tahun di Indonesia. PT QNII selaku pemilik brand Q-NET berperan mengurus legalitas perusahaan dengan memanfaatkan celah hukum yang berada di Indonesia. Sehingga pada akhirnya mampu masuk dalam keanggotaan Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) dan memiliki surat izin usaha perdagangan langsung yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag).

BACA JUGA: Diiming-imingi Mobil dan Rumah Mewah, Korban Money Game Sampai Makan Nasi Garam dan Utang ke Rentenir

Sedangkan PT Amoeba Internasional berperan untuk mendistribusikan barang tersebut kepada customer dengan metode atau sistem cuci otak supaya member mau mengeluarkan uang meskipun tak membutuhkan barangnya. Doktrinnya yang terkenal adalah “UGD”, yang merupakan kepanjangan dari Utang, Gadai, Dol (jual). para calon member dipaksa untuk mencari utangan ke teman, kesaudara atau bahkan ke bank. Kalau tidak dapat utangan, mereka diajarkan untuk menggadaikan atau menjual harta benda yang mereka miliki, dengan iming-iming akan berlipat ganda harta yang mereka dapatkan.

Sedangkan PT Wira Muda Mandiri bertugas untuk menampung dana dari customer baru yang ingin bergabung. Pembayaran-pembayaran oleh member yang baru bergabung ditransfer kepada senior membernya dan dari senior membernyalah yang akan mentransfer ke PT Wira Muda Mandiri. Dari sini Tim Cobra menemukan keanehan mengapa dana tersebut tidak ditransfer langsung ke rekening PT QNII.

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban menerangkan, saat ini pihaknya telah menetapkan 14 tersangka dalam sindikat white collar crime yang dijalankan oleh PT QNII, PT Amoeba Internasional dan PT Wira Muda Mandiri. Sangat jelas ketiga perusahaan tersebut berbagi peran dalam penipuan investasi yang mereka jalankan di Indonesia.

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban menunjukkan barang bukti kejahatan sindikat Q-NET. (Foto: Polres Lumajang)

“Berbagai macam barang yang mereka jual dengan harga mahal, tetapi sebenarnya tidak ada khasiat dan manfaatnya. Hanya dijadikan kedok untuk menyiasati aturan hukum,” kata Arsal.

Lebih lanjut alumnus S3 Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu menjelaskan, perusahaan ini sebenarnya perusahaan money games yang berganti-ganti baju. Sekira 20 tahun yang lalu mereka menggunakan brand Gold Quest dengan menjual koin emas berisi gambar tokoh dunia yang katanya dicetak terbatas dan kelak menjadi buruan investor sehingga akan berharga mahal. Tapi kenyataanya sampai saat ini tidak ada yg membutuhkan koin tersebut.

“Karena itu hanya akal-akalan mereka saja. Setelah Gold Quest bermasalah mereka berganti baju menjadi Quest Net. Saat Quest Net ramai persoalannya di media, mereka berganti baju lagi menjadi Q-NET,” tutur Arsal.

Terungkap pula bila produk yang mereka jual seperti Amezcua cakra, geometri maupun bio disc, diklaim dapat membuat badan bugar karena dapat meningkatkan tingkat energi pada tubuh. Juga diklaim dapat melawan dampak negatif medan elektromagnetik serta dapat menyembuhkan dari berbagai macam penyakit. Barang tersebut dijual dengan harga yang sangat mahal yakni berkisar Rp 7 juta sampai dengan 10 juta Rupiah. Anehnya lagi produk yang mereka jual tidak memiliki izin edar dari pihak Kementerian Kesehatan, padahal sudah masuk dalam kriteria alat kesehatan.

“Ini jelas bentuk akal-akalan mereka untuk mengelabui hukum yang ada di Indonesia. Untuk itu para pelaku harus mempertanggungjawabkan tindakannya karena telah memperdaya masyarakat kecil, yang sampai menjual harta benda satu-satunya yang mereka miliki karena diiming-imingi cepat menjadi orang kaya,” tands pria asal Enrekang, Sulawesi Selatan ini. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top