METROPOLIS

Wali Kota Samarinda Sebut Pencegahan Kebakaran Tanggung Jawab Bersama

Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menandatangani MoU Pencegahan Kebakaran, Jumat (11/10/2019). (Foto: Humas Pemkot Samarinda)

SAMARINDA, Kate.id – Kebakaran adalah musibah yang memang kadang kala tidak bisa ditebak dan dihindari. Akan tetapi dapat dicegah dan diminimalisasi dampaknya. Demikian disampaikan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang dalam sambutannya pada acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemkot Samarinda dengan Pemangku Kepentingan di Kota Samarinda tentang Kerja Sama Kemitraan di aula Rumah Jabatan Wali Kota, Jumat (11/10/2019) lalu.

“Tingginya angka kejadian kebakaran juga disebabkan karena sebagian besar kelalaian manusia. Kelalaian tersebut adalah terutama disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan dini kebakaran di lingkungannya sendiri,” ucapnya dalam siaran pers Pemkot Samarinda.

Menurut orang nomor satu di Kota Tepian tersebut, pencegahan kebakaran tidak hanya menjadi tanggung jawab dan tugas pemerintah saja. Melainkan juga tanggung jawab bersama.

“Memang ini salah satu tantangan Kota Samarinda karena sering tertimpa musibah kebakaran. Jangankan kabel yang terbakar, ternyata meteran listrik saja bisa meledak. Oleh sebab itu, diharapkan selalu berhati–hati dengan yang namanya listrik dan api,” terang Jaang.

Ditambahkan Jaang, MoU ini sendiri dibuat untuk menyosialisasikan kepada seluruh masyarakat bagaimana bicara jaringan kabel yang baik dan standar. “Untuk Dinas Pemadam Kebakaran agar selalu menyosialisasikan di lingkungan Universitas, sehingga mahasiswa juga bisa berpartisipasi, baik sebatas bhakti sosial dan sosialisasi itu sangat penting. Persoalan yang sering kita hadapi adalah korsleting listrik sebab kualitas kabel, serta kelalaian manusia karena lupa mematikan kompor,” imbuhnya.

Jadi menurut Jaang, pemeriksaan di rumah–rumah berikut standardisasi kabel yang dipakai itu sangat penting. Sementara Sekretaris Dinas Damkar, Makmur Santoso menjelaskan, Damkar kadang dianggap responnya lambat, karena diakui pihaknya memang kekurangan personel.

“Damkar dianggap lambat karena tenaga, minimal 15 menit kita baru bisa sampai ke lokasi kejadian dan melihat medannya. Kadang kami belum sempat duduk sudah ada informasi kebakaran di daerah lain dan untuk Kota Samarinda 90 persen disebabkan korsleting listrik. Kami mewakili Damkar mohon maaf dan maklum kalau masyarakat menilai kita lambat datang,” urai Makmur.

Ikut dalam penandatanganan MoU antara lain Universitas Mulawarman, Universitas Widya Gama Mahakam, Universitas 17 Agustus 1945, Universitas Muhammadiyah Kaltim, PLN Wilayah Samarinda, Pertamina, PDAM, Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia, (AKLI), PT Konsuil Perdana Indonesia. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top