METROPOLIS

Penerjun Pertama Asal Kalteng Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Prosesi pemakaman Serma (Purn) Imanuel Nuhan di Taman Makam Pahlawan, Sanaman Lampang, Palangka Raya, Sabtu (12/10/2019). (Foto/ANTARA/Rendhik Andika)

PALANGKA RAYA, Kate.id – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) akan mengusulkan almarhum Serma (Purn) Imanuel Nuhan selaku salah satu penerjun pertama asal Kalimantan Tengah (Kalteng) mendapat gelar Pahlawan Nasional. Hal ini lantaran Imanuel dianggap layak menjadi sosok pahlawan nasional, mengingat jasa-jasanya saat menjalankan tugas sebagai anggota TNI AU yang saat itu masih bernama AURI.

“Kita akan kita usulkan dari TNI AU. Akan diusulkan ke Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional,” kata Marsekal Muda TNI Eris Widodo Yuliastono selaku Komandan Korps Pasukan Khas (Dankopaskhas) di Palangka Raya, Sabtu (12/10/2019), dikutip dari Kantor Berita Antara.

Menurut dia, almarhum Imanuel Nuhan layak menjadi sosok Pahlawan Nasional. Salah satu jasa yang menjadi bagian sejarah terutama bagi TNI AU karena pria kelahiran 1 Januari 1924 merupakan salah satu dari 13 penerjun pertama yang melakukan penerjunan di daerah Sambi, Kotawaringin Barat, Kalteng pada 17 Oktober 1947.

Pernyataan itu diungkapkan usai memimpin pemakaman almarhum Serma (Purn) Imanuel Nuhan di Taman Makam Pahlawan, Sanaman Lampang, Palangka Raya. “Pada hari ini khususnya TNI AU berduka dengan berpulangnya Serma (Purn) Imanuel Nuhan. Semangat dan ketokohan beliau masih kami teladani dan akan kami teruskan khususnya kami dari koprs baret jingga,” sebut Eris.

Acara pemakaman itu sendiri dihadiri sejumlah pejabat pemerintahan dan tokoh masyarakat serta unsur Forkopimda di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Sekda Provinsi Kalteng, Fahrizal Fitri pun mengajak seluruh masyarakat di provinsi setempat meneladani dan mengamalkan semangat almarhum untuk memajukan pembangunan daerah.

“Untuk Pemerintah Kalteng sendiri, dalam rangka menghargai dan untuk mengenang beliau berencana mengabadikan namanya menjadi nama jalan,” kata Fakhrizal. Pihaknya turut mendukung upaya TNI AU yang mengusulkan almarhum Emanuel Nuhan sebagai Pahlawan Nasional dari Kalteng.

DIANGGAP BERJASA BESAR

Prosesi pemakaman Serma (Purn) Imanuel Nuhan di Taman Makam Pahlawan, Sanaman Lampang, Palangka Raya, Sabtu (12/10/2019). (Foto: ANTARA/Rendhik Andika)

Pria kelahiran Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Kalteng yang memiliki jasa yang cukup besar bagi negara dan TNI AU menghembuskan nafas terakhir pada malam hari itu, membuat korps TNI AU berduka cita sedalam-dalamnya. Termasuk masyarakat Kalteng dimana sang pejuang tersebut di lahirkan di tanah Borneo yang kaya akan hasil alamnya itu.

“Pesan beliau kepada pimpinan Korem 102/Panju-Panjung apabila cucu dan cicitnya ingin menjadi TNI sama seperti dirinya, agar bisa dipermudah,” kata Hernison Nuhan.

Lebih lanjut, sambungnya, dalam kesehariannya sebelum wafat penerjun pertama AURI yang pernah pertama kali mendarat di Desa Sambi, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalteng bersama 12 orang rekannya pada 17 Oktober 1947 silam.6

Kisah bermula dari surat Gubernur Kalteng Pangeran Mohammad Noor tentang permintaan kepada AURI, agar dapat mengirimkan pasukan penerjun payung ke Kalimantan. Untuk membentuk serta menyusun geriliyawan dalam membantu perjuangan rakyat daerah itu, dengan mendirikan stasiun radio induk untuk keperluan membuka jalur komunikasi antara Kalimantan dengan Yogyakarta serta menyiapkan daerah penerjunan (dropping zone) bagi penerjun selanjutnya.

Permintaan tersebut disambut Kepala Satuan Angkatan Udara (Kasau) saat itu, Komodor Udara Suryadi Suryadarma. Dia kemudian memerintahkan Mayor Udara Tjilik Riwut untuk mempersiapkan prajurit-prajurit AURI yang akan diterjunkan di Kalimantan.

Pada 17 Oktober 1947 dini hari, pesawat Dakota RI-002, dengan pilot Bob Freeberg dan co-pilot Opsir Udara III Suhodo takeoff dari Pangkalan Udara Maguwo, terbang menuju Kalimantan dengan melintasi lautan dan menelusuri hutan belantara. Ketiga belas prajurit AURI berhasil diterjunkan di daerah Sambi, Kotawaringin Barat, Kalteng. Mereka adalah Heri Hadi Sumantri, FM Suyoto, Iskandar, Ahmad Kosasih, Bachri, J Bitak, C Willem, Amirudin, Ali Akbar, M Dahlan, JH Darius dan Marawi, serta Imanuel Nuhan.

“Bapak pernah cerita saat mendarat di Sambi itu mereka terpisah dengan rekan-rekannya, bahkan ia tersangkut di atas pohon bahkan mencari makan di dalam hutan belantara untuk bertahan hidup. Hal itulah yang tidak banyak diketahui oleh orang banyak kecuali menceritakan kepada anak-anaknya semasa pejuangan,” ungkapnya.

Kemudian itu patut diketahui, para penerjun tersebut tercatat belum pernah mendapat pendidikan terjun payung secara sempurna. Kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat atau ground training. Itu adalah operasi lintas udara pertama dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sebelum meninggal dunia, Imanuel Nuhan merupakan satu-satunya dari para penerjun pertama RI yang masih hidup.

“Bahkan bapak sebelum wafat beberapa tahun yang lalu sering menulis tentang masa perjuangannya, namun setelah sering ke luar masuk rumah sakit ia jarang menuliskan hal tersebut, hingga beliau meninggal dunia,” tandasnya.

Sekedar diketahui, apabila Imanuel Nuhan di makamkan di Makam Pahlawan Sanaman Lampang maka ia berada satu lokasi dengan rekannya yang wafat terlebih dahulu, yakni J Bitak dan M Dahlan. Bahkan dia juga satu lokasi dengan pimpinannya yaitu Tjilik Riwut yang kala itu ia juga pernah mengabdi kepada pahlawan asal Kalteng tersebut, karena diperbantukan tugas di Pemerintah Provinsi Kalteng. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top