NASIONAL

Angka Pengangguran Indonesia Tertinggi Kedua Se-Asia Tenggara

ilustrasi. (Foto: SPN.OR.ID)

Kate.id – Angka pengangguran di Indonesia belakangan dilaporkan mengalami penurunan. Tetapi kenyataannya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertengahan tahun ini, tercatat ada 5,01 persen penduduk Indonesia dalam usia produktif yang menganggur. Malahan pengangguran di Indonesia disebut tertinggi kedua di Asia Tenggara.

Dalam data BPS tercatat, Indonesia tertinggal dari Laos dan Kamboja yang secara berurutan mencatatkan 0,60 persen dan 0,10 persen pengangguran. Hal ini menunjukkan bahwa angka pengangguran di Indonesia saat ini menjadi angka terendah dalam sejarah Indonesia, di satu sisi tetap menjadi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. 

Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat beberapa waktu mendatang Indonesia tengah menghadapi periode krusial bonus demografi. Kepala Generasi muda Indonesia (gsm) Muhammad Nur Rizal, jumlah generasi milenial yang berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 juta jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun). 

“Generasi muda Indonesia akan menghadapi persimpangan yang belum pernah ada sebelumnya,” ujar Nur, Jumat (11/10/2019), dikutip dari laman Viva News.

Untuk itu dia menyatakan, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengatasi tantangan zaman yang terus berubah. Khususnya terkait polemik bonus demografi. “Ketika proporsi anak muda Indonesia yang besar itu ternyata tidak cukup produktif atau bermental lemah, maka jumlah besar itu akan menjadi bencana demografi sehingga niat bangsa ini untuk keluar status negara low-middle income akan terhambat,” sebutnya.

Risiko naiknya jumlah pengangguran bisa terjadi dalam konteks ini, apalagi pendidikan kita tidak menyiapkan mereka untuk menghadapi zaman yang kian tak pasti. “Ketika banyak jenis pekerjaan digantikan oleh mesin, serta SDM dihadapkan pada tantangan yang belum pernah ada sebelumnya, mental kuat dan kreativitas menjadi kunci utama untuk sukses,” sambung Nur.

Menurut itu, hal itu berarti pendidikan harus memusatkan perhatian pada pengembangan karakter yang fleksibel dan tahan banting untuk menghadapi transisi yang super cepat di era revolusi
internet. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top