KESEHATAN

Lima Penyakit yang Bisa Disebabkan Kabut Asap

Tim Medis TNI memberikan bantuan oksigen kepada seorang anak yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap karhutla di posko kesehatan Kodim 0301 Pekanbaru, Riau, Minggu (15/9/2019). (Foto: ANTARA/Rony Muharrman)

Kate.id – Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak langsung pada kesehatan, khususnya gangguan saluran pernapasan. Asap mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang mengganggu pernapasan seperti sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), formaldehid, akrelein, benzen, nitrogen oksida (NOx) dan ozon (O3). Material tersebut memicu dampak buruk yang nyata pada manula, bayi dan pengidap penyakit  demikian pula pada orang sehat.

Berikut ini lima penyakit yang bisa disebabkan kabut asap, sebagaimana dipaparkan Kepala Bidang Evaluasi dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ira Cyndira pada konferensi pers penanganan bencana garapan Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Serba Guna dr Sutopo Purwo Nugroho, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta:

Infeksi Saluran Pernafasan Atas

Polusi udara yang parah, ditambah dengan  melemahnya sistem kekebalan tubuh bisa mengakibatkan gangguan pernafasan  dan mempermudah terjadinya ISPA. Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi terutama pada anak-anak dan kaum lansia.

Asma

Asma juga dapat disebabkan oleh buruknya kualitas udara. Kabut asap yang saat ini merajalela membawa partikel berukuran kecil yang masuk melalui saluran pernafasan dan menyebabkan gangguan layaknya asap rokok. Penduduk yang mengidap Asma, terutama anak-anak adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kabut asap.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik

Kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan bisa berakibat fatal pada penderita PPOK, karena mengurangi/memperburuk kinerja paru-paru. Semakin lama pasien terpapar kabut asap, semakin besar juga risiko kematiannya.

Penyakit Jantung

Kabut asap membawa partikel mini yang dapat masuk ke dalam tubuh lewat saluran pernafasan. Sebuah studi oleh California Environmental Protection Agency tahun 2014 membuktikan, pasien yang terpapar kabut asap dalam waktu lama menggandakan risiko terkena serangan jantung atau strok.

Iritasi

Kabut asap bisa menyebabkan iritasi pada mata, tenggorokan, hidung serta menyebabkan sakit kepala atau alergi. Asosiasi Paru-paru Kanada mengingatkan, masker wajah tidak melindungi tubuh dari partikel ekstra kecil yang dibawa kabut asap.

Adapun yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkitnya penyakit-penyakitnya tersebut bagi warga masyarakat yang berada di kawasan terdampak di antaranya:

  • Menghindari atau mengurangi aktivitas di luar rumah atau gedung. Terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernapasan.
  • Jika terpaksa pergi keluar rumah atau gedung, sebaiknya menggunakan masker.
  • Bagi yang telah mempunyai gangguan paru-paru dan jantung sebelumnya, berkonsultasilah kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi.
  • Selalu melakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS) seperti makan makanan bergizi, tidak merokok, dan istirahat yang cukup.
  • Minum air putih lebih banyak dan lebih sering.
  • Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah, sekolah, kantor, dan ruang tertutup lainnya.
  • Penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik.
  • Sayuran dan buah-buahan dicuci sebelum dikonsumsi. Begitu pula dengan bahan makanan dan minuman, perlu dimasak dengan baik. (*)
Comments

BERITA TERBARU

To Top