INTERNASIONAL

Arab Saudi Klaim Pulihkan Pasokan, Harga Minyak Dunia Anjlok

Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman (tengah) mengunjungi kilang Saudi Aramco, Ahad (15/9/2019), sehari setelah serangan di Abqaiq. (Foto: Saudi Press Agency)

Kate.id – Arab Saudi menyatakan sudah berhasil memulihkan pasokan minyak ke tempat mereka berdiri. Setelah sebelumnya terjadi serangan akhir pekan terhadap fasilitas minyak tersebut yang menutup lima persen dari produksi minyak global. Meski demikian, harga minyak anjlok sekitar enam persen pada akhir perdagangan Rabu (18/9/2019) setelah pengumuman tersebut.

Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman dalam konferensi persnya, Selasa (17/9/2019) mengatakan, kerajaan telah memulihkan pasokan dengan menyedot persediaan, dan kehilangan produksi minyak 5,7 juta barel per hari (bph) pada akhir September.

Sebelumnya, serangan pada Sabtu (14/9/2019) meningkatkan momok guncangan pasokan besar di pasar yang dalam beberapa bulan terakhir disibukkan dengan kekhawatiran permintaan dan pelambatan pertumbuhan global. Minyak sempat melonjak sebanyak 20 persen pada Senin (16/9/2019) setelah serangan tersebut.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November dikabarkan jatuh USD 4,47 atau 6,5 persen, menjadi ditutup pada USD 64,55 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun USD 3,56 atau 5,7 persen, menjadi menetap di USD 59,34 per barel. Selama konferensi pers, Brent tenggelam lebih dari tujuh persen.

“Berita terbaru berarti bahwa kita tidak akan terburu-buru untuk merevisi perkiraan harga minyak kita US 60 dolar per barel pada akhir 2019. Itu mengatakan, masih ada beberapa pertanyaan penting yang harus dijawab tentang serangan, yang mungkin berarti bahwa kita harus mempertimbangkan premi risiko yang lebih tinggi secara permanen dalam perkiraan harga kami,” kata Caroline Bain selaku Kepala Ekonom Komoditas Capital Economics.

Produsen minyak milik negara, Saudi Aramco mengungkapkan kepada beberapa perusahaan penyulingan Asia, bahkan pihaknya akan memenuhi komitmen minyaknya, meskipun dengan perubahan, kata sumber. Serangan terhadap fasilitas pemrosesan minyak mentah di Abqaiq dan Khurais mengakibatkan gangguan pasokan tunggal terbesar dalam setengah abad, dan mempertanyakan status Arab Saudi sebagai pemasok pilihan terakhir ketika yang lain tidak bisa memenuhinya.

Prospek pelepasan dari cadangan minyak strategis di Amerika Serikat, dan negara industri lainnya yang disarankan oleh Badan Energi Internasional (IEA), seperti Jepang, telah membebani harga. Tetapi ancaman pembalasan secara geopolitik menyebabkan kekhawatiran.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan Amerika Serikat sedang meninjau bukti yang menunjukkan Iran berada di balik serangan itu. “Kami sedang mengevaluasi semua bukti. Kami berkonsultasi dengan sekutu kami. Dan presiden akan menentukan tindakan terbaik di masa mendatang,” sebut Pence.

Menurut salah seorang pejabat Amerika Serikan, Washington meyakini bahwa serangan itu berasal dari Iran barat daya. Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah memburuk sejak Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir Iran tahun lalu dan menerapkan kembali sanksi terhadap ekspor minyaknya.

Teheran sendiri menolak tuduhan di balik serangan itu dan pada Selasa (17/9/2019) mengesampingkan pembicaraan dengan Trump. Raja Saudi Salman meminta pemerintah-pemerintah dunia untuk menghadapi ancaman terhadap pasokan minyak.

Persediaan minyak mentah AS naik 592.000 barel dalam pekan yang berakhir 13 September menjadi 422,5 juta barel, berdasarkan data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan pada Selasa (17/9/2019). Para analis memperkirakan penurunan 2,5 juta barel. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top