METROPOLIS

Cara Wali Kota Samarinda Jual Bawang Putih di Tengah Kelangkaan

Walikota Samarinda Syaharie Jaang saat menyambut tim rombongan TPID eks Karesidenan Pekalongan yang datang ke Samarinda. (Dok. DIskominfo Samarinda)

SAMARINDA, Kate.id – Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang punya cara ampuh dalam mengatasi inflasi yang terjadi di ibu kota Kalimantan Timur (Kaltim) ini. Malahan, cara yang diterapkannya sukses membawa Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda meraih penghargaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terbaik untuk kali ketiga.

Menurut Jaang, prestasi ini bukan lantas menunjukkan Tim TPID yang dipimpinnya paling bagus. Melainkan adalah komitmen bagaimana caranya warga Samarinda ketika menginginkan kebutuhan barang pokok selalu siap sedia dan mudah terjangkau dengan harga yang murah. Bahkan saat terjadi kelangkaan harga bawang putih di pertengahan tahun, dia meminta Kepala Dinas Perdagangan dan Lurah untuk turun langsung ikut jualan bawang putih.

“Caranya kami datangkan stok bawang putih dari luar Kaltim dengan harga terjangkau. Lalu kami jual langsung ke setiap rumah tangga melalui Kelurahan dan RT dengan harga murah. Hasilnya pedagang di pasaran yang sebelumnya memainkan harga bawang kewalahan dengan strategi pasar yang kami mainkan,” ungkap Jaang saat menyambut tim rombongan TPID eks Karesidenan Pekalongan yang datang ke Samarinda.

Hal senada turut dilakukan ketika terjadi kelangkaan gas epiji tabung 3 kilogram atau gas melon yang menjadi ranah Pertamina. Dalam hal ini, pemkot tak segan untuk memainkan skema yang sama apabila terjadi spekulan untuk tabung gas ukuran melon.

Sementara, terkait masalah PDPAU sendiri, Walikota menambahkan kini di bawah kepengurusan yang baru. Perusahaan Daerah milik Pemkot Samarinda ini tengah mengembangkan unit usahanya di berbagai bidang, mulai dari memasarkan rumah susun sederhana siap huni, hingga menggeluti penjualan ayam beku yang disuplai ke rumah makan siap saji hingga restoran.

“Ya alhamdulillah efeknya terasa, kini Perusda kita sudah mulai bangkit dengan unit usaha yang mereka kembangkan sesuai keinginan pasar. Padahal sebelumnya sempat ada wacana PDPAU ini mau kita tutup karena dianggap terlalu membebani APBD, tapi akhirnya semua terjawab,” beber Jaang. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top