NASIONAL

Bupati Mimika Imbau Mahasiswa Papua Tak Termakan Isu Eksodus

Massa yang tergabung dalam Mahasiswa Papua melakukan aksi di Jalan Merdeka, Bandung, Selasa (27/8/2019). Mereka menolak pernyataan rasisme terhadap orang Papua serta meminta pemerintah menangkap pelaku pengepungan asrama Papua di Surabaya. (Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi)

Kate.id – Isu eksodus atau kepulangan massal mahasiswa Papua yang belajar di daerah lain mendapat perhatian Bupati Mimika Eltinus Omaleng. Dalam hal ini, Eltinus mengimbau para mahasiswa Papua asal Mimika yang kini sedang menuntut ilmu di luar Papua seperti Jawa, Bali, Makassar dan Manado agar tidak terprovokasi dengan adanya isu eksodus kembali ke Papua tersebut.

Imbauan itu disampaikan Eltinus melalui surat Nomor 420.1/707 tanggal 10 September 2019. Yang ditujukan kepada seluruh mahasiswa asal Kabupaten Mimika di Pulau Jawa, Bali, Makassar dan Manado.

“Mencermati perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi sehubungan dengan permasalahan rasisme kepada mahasiswa Papua di Surabaya, Malang dan Semarang beberapa waktu yang lalu yang memicu terjadinya demonstrasi diikuti tindakan anarkis di Papua dan Papua Barat serta memperhatikan tindakan yang sudah diambil oleh pemerintah terhadap penyelesaian peristiwa dimaksud maka saya menyampaikan agar mahasiswa asal Mimika tetap melanjutkan perkuliahan di tempat studi sebagaimana biasanya sampai dengan selesai,” bunyi imbauan Eltinus, dikutip dari Kantor Berita Antara.

Dia menegaskan, tidak ada sistem pendidikan yang menjamin seluruh mahasiswa Papua dari Mimika yang pulang ke Papua dapat ditampung dan langsung melanjutkan perkuliahan di Perguruan Tinggi di Papua. Bila itu terjadi, katanya, akibatnya dapat mengganggu perkuliahan mahasiswa tersebut selanjutnya. Eltinus menyatakan, Pemkab Mimika tidak menyediakan anggaran bagi mahasiswa yang pulang ke Papua khususnya Mimika maupun yang akan kembali ke tempat studi sehubungan dengan permasalahan dimaksud.

“Pemerintah menjamin keamanan dan kenyamanan mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Mimika di tempat masing-masing. Apabila terjadi hal-hal yang mengintimidasi mahasiswa Papua yang berasal dari Kabupaten Mimika dalam proses perkuliahan selanjutnya maupun aktivitas lainnya sebagaimana biasanya agar segera melaporkannya kepada Bupati Mimika serta kepada pihak berwajib setempat,” sebut Eltinus.

Bupati Mimika, Eltinus Omaleng.

Sementara itu Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan, kepulangan 28 pelajar SMA dan SMP Lokon, Tomohon, Sulawesi Utara, ke Timika akibat terpengaruh oleh isu-isu yang beredar di tempat studi mereka.

“Sebetulnya anak-anak ini pulang ke Timika karena khawatir dengan isu-isu yang berkembang di sekitarnya bahwa ada intimidasi dan lain-lain. Ternyata setelah dicek hal-hal itu tidak pernah bisa dibuktikan, intimidasi dalam bentuk seperti apa. Pemerintah menjamin anak-anak ini kembali ke tempat studinya supaya bisa bersekolah kembali dan menjamin rasa aman mereka selama mengikuti pendidikan di sana,” ungkap Johannes saat menghadiri pertemuan antara orang tua murid dengan pihak LPMAK dan Dinas Pendidikan Dasar serta Kebudayaan Mimika, Selasa (10/9/2019) .

Pemkab Mimika, katanya, akan segera berkoordinasi dengan Pemkab Tomohon maupun Pemprov Sulawesi Utara serta jajaran TNI-Polri di wilayah itu agar memberikan jaminan rasa aman kepada pelajar dan mahasiswa Mimika yang tengah menimba ilmu di wilayah tersebut.

“Kami juga akan ke sana untuk melakukan identifikasi terhadap permasalahan yang terjadi, juga bertatap muka dengan para pelajar dan mahasiswa Mimika serta Pemda setempat. Ini akan kami lakukan dalam waktu dekat,” sebut pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Mimika itu. .

Dia mengharapkan para pelajar Mimika yang pulang dari Sulawesi Utara tersebut segera kembali ke kota studi mereka. “Anak-anak ini merupakan harapan masa depan pemerintah dan masyarakat Mimika. Nasib daerah ini ke depan ada di pundak mereka. Jadi, jangan sia-siakan peluang dan kesempatan yang ada saat ini untuk menimba ilmu setinggi-tingginya,” tegasnya.

MRP TAK PERNAH KELUARKAN MAKLUMAT

Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib menegaskan, majelisnya tidak pernah mengeluarkan maklumat nomor: 06/MRP/2019. Yaitu maklumat yang disebut berisi tentang seruan kepada mahasiswa Papua di seluruh di wilayah Indonesia untuk kembali ke Papua dan melanjutkan studinya di Tanah Papua, bila tidak ada jaminan keamanan dan kenyamanan di tempat studi mereka itu.

MRP tidak pernah mengeluarkan maklumat tersebut, dan menempuh jalur hukum untuk memproses pelaku dan penyebar maklumat palsu tersebut. “MRP sangat menyesalkan beredarnya maklumat yang dikeluarkan tanggal 9 September,” ujar Timotius Murib dalam keterangan pers, di Jayapura, Selasa (10/9/2019).

Dia menyatakan, maklumat tersebut adalah upaya dari pihak-pihak yang mencoba merongrong wibawa lembaga MRP dan memecah belah orang asli Papua. Karena itu, MRP akan menempuh jalur hukum untuk memproses pelaku pembuat dan penyebar maklumat palsu itu.

MRP sebelumnya telah mengeluarkan maklumat 05 tertanggal 21 Agustus terkait upaya MRP menyikapi dan menyelesaikan masalah rasisme, persekusi dan pelanggaran HAM yang dialami mahasiswa Papua yang sedang studi di beberapa kota di Indonesia. Tidak ada tempat untuk kekerasan di Tanah Papua yang masyarakatnya punya jiwa demokratis dan beragam, kata Murib.

Ketua MRP itu menyatakan, pihaknya merekomendasikan aparat berwenang untuk terlibat dalam dialog dengan rakyat Papua dan Papua Barat. Mengenai aspirasi dan keprihatinan mereka serta untuk memulihkan layanan internet dan menahan diri dari hal-hal yang berlebihan yang berdampak pada pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

MRP menilai penutupan akses internet bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan membatasi komunikasi dapat berdampak pada memperburuk ketegangan situasi di Tanah Papua. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top