NASIONAL

Karhutla Kerap Terjadi, Orangutan Semakin Tersisih

Induk orangutan lindungi anaknya dari kepungan pemburu. (Foto: Four Paws/AP)

Kate.id – Kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) yang kerap terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam tiga bulan terakhir bukan hanya meresahkan manusia. Melainkan juga membuat satwa liar di antaranya orangutan semakin tersisih karena habitat mereka semakin rusak.

“Kebakaran lahan itu membuat orangutan masuk ke kebun warga karena relatif lebih aman dari kebakaran lahan dan masih terdapat tanaman yang bisa mereka makan meski beberapa. Seperti umbut sawit itu sebenarnya bukan makanan utama orangutan,” kata Muriansyah selaku Komandan Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng Pos Sampit, Ahad (8/9/2019), dikutip dari Kantor Berita Antara.

Muriansyah menjelaskan, selama musim kemarau dan marak kebakaran lahan, BKSDA menerima sejumlah laporan terkait kemunculan satwa liar seperti orangutan, beruang, bekantan dan lainnya. Kemunculan satwa-satwa dilindungi itu di sekitar kebun warga diduga karena ingin mencari makan lantaran cadangan makanan di habitat mereka makin sulit didapat atau akibat habitat mereka rusak oleh kebakaran lahan dan alih fungsi lahan.

Seperti pada 1 dan 2 September lalu, BKSDA melakukan penyelamatan tiga orangutan di Desa Bagendang Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Lokasinya sama, yakni sekitar kebun sawit milik warga bernama Tri yang sebelumnya melaporkan kejadian itu. Minggu dini hari itu, tim BKSDA mengevakuasi seekor orangutan dengan berat 90 kilogram. Perlu dua jam bagi petugas untuk melumpuhkan dan mengevakuasi orangutan jantan berusia 25 tahun tersebut.

Siang harinya, petugas kembali menerima laporan dari Tri bahwa ada orangutan lainnya yang terlihat di sekitar kebun karet dan sawitnya. Kali ini orangutan berjumlah dua ekor yang merupakan induk dan bayinya.

Induk orangutan itu berusia 15 tahun, sedangkan bayi orangutan berusia enam bulan. Penyelamatan dilakukan oleh tim BKSDA setelah mereka membawa orangutan seberat 90 kilogram yang dievakuasi sehari sebelumnya ke kantor SKW II BKSDA di Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat.

“Di sekitar lokasi masih terjadi kebakaran hutan dan lahan. Ini bisa disebut, dampak dari kebakaran hutan dan lahan sehingga orangutan masuk ke kebun untuk menyelamatkan diri dan mencari makan dan minum,” bebernya.

Menghadapi kondisi ini, translokasi menjadi pilihan untuk menyelamatkan orangutan dengan memindahnya ke tempat yang lebih baik. Ketiga orangutan tersebut telah dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Lamandau.

Terkait masalah ini, Muriansyah meminta masyarakat melaporkan jika melihat kemunculan orangutan dan satwa dilindungi lainnya. Sehingga pihaknya bisa segera mengevakuasinya dengan cara yang benar agar satwa tersebut tidak mati atau terluka dan tidak sampai terjadi konflik dengan manusia.

SALAT ISTISQA MINTA HUJAN

Para santi melaksanakan salat istisqa meminta hujan.

Lama tak turun hujan, para santri Pondok Pesantren Darul Amin Sampit, Kotim menggelar salat istisqa. Tujuannya meminta agar Allah menurunkan hujan supaya kebakaran lahan dan kabut asap yang saat ini terjadi bisa berakhir.

“Salat istisqa ini memang dianjurkan dalam Islam ketika sedang terjadi kemarau seperti sekarang. Apalagi di daerah kami ini sedang dilanda kebakaran lahan dan asap yang sangat mengganggu. Mudah-mudahan Allah segera menurunkan hujan,” harap ustaz Taufikurrahman.

Sesuai aturan, shalat istisqa dilaksanakan di tanah lapang. Shalat dipimpin ustaz Mahyudin sebagai imam dan ustaz Taufikurrahman sebagai khatib yang menyampaikan khotbah dan memimpin doa. Ratusan santri dan santriwati khusyuk mengikuti salat sunat dua rekaat tersebut. Selama kabut asap yang terjadi, mereka juga merasakan dampak buruknya.

Menurut Taufikurrahman, asap kebakaran lahan sangat berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat. Termasuk di pondok pesantren yang terletak di Jalan HM Arsyad Sampit tersebut. Saat pagi dan sore, lingkungan Pondok Pesantren Darul Amin dilanda asap. Asap tersebut diduga merupakan kiriman akibat kebakaran lahan yang terjadi di beberapa lokasi yang tidak terlalu jauh dari pondok pesantren.

Sejumlah santri menderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat terhirup asap. Bahkan, beberapa santri terpaksa tidak bisa hadir ke sekolah karena sakit dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk ikut belajar seperti biasa.

“Saat kabut asap parah tahun 2015 lalu, kami sempat beberapa kali meliburkan proses belajar mengajar. Mudah-mudahan kondisi seperti itu tidak sampai terulang lagi. Kasihan masyarakat, khususnya anak-anak kita,” ungkap Tafikurrahman.

Dia juga mengajak masyarakat bersama-sama melakukan introspeksi diri dan bertobat. Tidak menutup kemungkinan, kebakaran lahan dan kabut asap merupakan teguran dari Allah atas kesalahan dan kelalaian yang dilakukan manusia selama ini.

LAHAN KERING, MUDAH TERBAKAR

Sementara itu Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya memperpanjang status siaga karhutla hingga akhir September 2019. Hal ini dilakukan karena wilayah Palangka Raya yang sempat tak ada kabut asap, kembali dilanda kebakaran lahan dan kabut asap.

Supriyanto selaku Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Palangka Raya menyatakan, saat ini kebakaran lahan di Palangka Raya kembali marak akibat tiga pekan lebih hujan tak turun. Akibatnya lahan yang didominasi gambut itu kembali kering.

“Karena kering lahan yang ada kembali mudah terbakar. Kecamatan Sabangau dan Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah yang paling rawan dan banyak lahan terbakar,” urai Supriyanto.

Supriyanto mengungkapkan Pemkot Palangka Raya hingga periode 28 Agustus telah menggelontorkan Rp 2,3 miliar untuk menangani karhutla. Dari total anggaran Rp 2,7 miliar yang disediakan. Penggunaan anggaran itu di antaranya untuk pembentukan tim satuan tugas karhutla termasuk tahapan penanggulangan kebakaran lahan.

Dia menerangkan, anggaran tersebut berasal dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan masuk dalam pos belanja tidak terduga (BTT). Sisa anggaran yang tidak digunakan kemudian dikembalikan ke kas daerah dan akan digunakan jika nantinya terjadi musibah atau kejadian tak terduga terkait kebencanaan.

“Saat ini anggaran penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang dilakukan pemerintah kota dikembalikan kepada masing-masing organisasi perangkat daerah. Menyesuaikan program kerja masing-masing,” sebut Supriyanto. (*)

Comments

BERITA TERBARU

To Top