NASIONAL

Buta Aksara di Indonesia Timur Masih Tinggi, Didominasi Kaum Perempuan

Prajurit TNI tengah mengajar warga Papua membaca. (Foto: Korem 172)

MAKASSAR, Kate.id – Angka buta aksara di wilayah provinsi yang ada di Indonesia bagian timur masih tinggi. Hal ini diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy pada peringatan Hari Aksara Internasional di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/9/2019).

“Pemberantasan buta aksara pada segmen populasi ini akan sangat sulit. Tetapi profilnya sudah semakin jelas, yaitu mayoritas berada di Indonesia bagian timur. Tinggalnya di pedesaan dan di kantong-kantong kemiskinan, umumnya perempuan dan umurnya di atas 45 tahun,” sebut Muhadjir dikutip dari Kantor Berita Antara.

Dijelaskan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 masih ada enam provinsi di Indonesia dengan angka buta aksaranya lebih dari empat persen. Keenam provinsi tersebut meliputi Papua (22,88 persen), Nusa Tenggara Barat (7,51 persen), Nusa Tenggara Timur (5,24 persen), Sulawesi Barat (4,64 persen), Sulawesi Selatan (4,63 persen), dan Kalimantan Barat (4,21 persen).

Muhadjir mengatakan, pemberantasan buta aksara di provinsi-provinsi itu akan signifikan menurunkan angka buta aksara di Indonesia.

“Tugas kita bersama untuk menuntaskan buta aksara dan membebaskan bangsa ini dari kebutaaksaraan, harus terus kita lakukan. Jika kita mampu membebaskan diri dari buta aksara secara keseluruhan, maka kita bisa berharap kualitas sumber daya manusia di seluruh Indonesia akan semakin meningkat,” urainya.

Kata Muhadjir, tantangan tantangan masa depan semakin berat. Sehingga bekal kemampuan membaca, menulis, dan berhitung saja tidak akan cukup untuk menghadapinya. Selain keterampilan membaca dan menulis, ada lima literasi dasar lain yang mesti dikuasai, yakni literasi numerasi, literasi digital, literasi finansial, literasi sains, serta literasi budaya dan kewargaan.

“Gerakan Pemberantasan Buta Aksara di seluruh dunia mungkin akan segera bergeser menjadi gerakan penguasaan enam literasi dasar tersebut,” tutur Muhadjir.

Karenanya, dia mengimbau seluruh pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Tanah Air menyelenggarakan peringatan Hari Aksara Internasional di daerah masing-masing. Tujuannya untuk menguatkan kembali komitmen bersama pemerintah dan seluruh komponen masyarakat dalam memberantas buta aksara dan membangun sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.

Mendikbud juga mengimbau seluruh keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan dan menguatkan budaya literasi.

“Orang tua perlu mengenalkan buku sejak dini. Sediakan waktu untuk membacakan buku atau cerita kepada anak-anak. Kemudian sekolah harus berperan aktif mengadakan berbagai kegiatan literasi bersama siswa dan juga masyarakat dapat mengambil peran dengan ikut menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya budaya literasi,” terangnya.

Pusat Data dan Kebudayaan Kemendikbud mengungkap, sebanyak 2,07 persen atau sekitar 3,4 juta dari penduduk Indonesia ternyata masih buta aksara. Dari jumlah tersebut, sekira dua sepertiganya adalah perempuan.

Terkait hal ini, Kemendikbud menyatakan ada sejumlah faktor yang membuat tingkat buta aksara perempuan lebih tinggi. Salah satunya adalah masih adanya keterbatasan akses perempuan dalam mendapat pendidikan di sejumlah daerah.

Karena itu, kementerian memiliki program yang disebut Gerakan Pendidikan Pemberdayaan Perempuan Marjinal (GP3M) untuk memberantas buta aksara. “Ada program kampung literasi juga,” ujar Harris Iskandar selaku Direktur PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud RI, dikutip dari Tempo.

Harris menjelaskan, dalam pengurangan buta huruf ini sebaiknya tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah pusat. Melainkan juga membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah dan masyarakat. Untuk itu dia meminta pemerintah daerah tidak hanya memberantas buta aksara, namun perlu juga membuat program agar penduduk tetap melek aksara.

Sebab, menurutnya, masyarakat yang tadinya dari buta aksara dan menjadi melek aksara, masih ada kemungkinan untuk kembali buta aksara. Oleh karena itu diperlukan adanya program berkelanjutan. “Bisa membuat taman bacaan masyarakat, kan sekarang itu dinamikanya lagi tinggi ya,” sebut Harris. (*)

Editor: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top