HUKUM & KRIMINAL

Diiming-imingi Mobil dan Rumah Mewah, Korban Money Game Sampai Makan Nasi Garam dan Utang ke Rentenir

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban berbincang dengan korban money game. (Foto: Tribratanews.id)

Kate.id – Ramainya di media sosial tentang dukungan netizen tentang pengungkapan bisnis “Money Game” QNET, akhirnya mengakibatkan MK (48) warga Desa Singgahan Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun ditangkap Tim Cobra Polres Lumajang, Rabu (3/9/2019).

Ia sendiri merupakan salah satu orang penting dalam bisnis QNET. Bahkan banyak ditemukan video di youtube dengan konten ajakan si MK, di mana ajakan tersebut mengiming iming pasti menjadi orang kaya. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya, banyak korbannya terpengaruh ingin kaya, tapi malah buntung. Bahkan Ada yang sampai menjual sawah, menjual sapi bahkan ada pula yang sampai harus berutang kepada rentenir.

Ironisnya, adalah salah satu korbannya yang sampai makan dengan nasi dan garam gara-gara selama berada di bisnis ini. Sebagaimana diungkapkan Muhammad Deni (19) warga Desa Tanggung Kecamatan Padang kepada Tribrata News.

“Di sana saya hanya dikasih makan nasi sama garam pak. Kami selalu diawasi sama senior, makanya pada malam hari saya lompat melalui jendela bersama teman saya. Karena tidak punya uang, saya naik truk hingga Lumajang,” ungkap Deni, Kamis (5/9/2019).

Lain lagi yang dialami Sariono (54) warga Desa Kalisemut kecamatan Padang. Dirinya sampai meminjam uang ke rentenir agar sang anak yang bernama Taufik (18) bisa ikut bisnis di Q-Net. “Saya sampai pinjam ke rentenir Pak. Ini demi anak saya yang katanya bisa membuat anak saya kaya. Sekarang saya dikejar sama rentenir, sampai sekarang ternyata anak saya juga enggak kaya,” kisah Sariono.

Serupa pula dengan Zainul (pria, 19 th) warga Desa Kalisemut Kecamatan Padang sampai menjual sapi milik orang tuanya agar bisa bergabung di Q-Net. “Ya bagaimana Pak, saya pengin punya kerja. Ya terpaksa saya jual sapi milik bapak di rumah. Sekarang saya bingung pak harus gimana, uang saya hilang,” kata Zainul.

Dalam pernyataannya, Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban mengatakan mereka dicuci otak sedemikian rupa. Sehingga meyakini bahwa mereka akan sukses di kemudian hari dengan diiming-imingi akan memiliki mobil mewah bahkan rumah mewah hanya dalam tempo singkat. Tanpa disadari mereka terperangkap dalam satu bisnis money game dan ikut terlibat dalam menipu teman-temannya.

“Bahkan mereka juga berani memaksa orang tuanya mengirim sejumlah uang. Meskipun mereka sadar uang tersebut sangat sulit didapatkan oleh orang tuanya. Banyak dari mereka yang menjual sapi, menjual sawah, motor bahkan meminjam uang ke rentenir,” terang Arsal.

AWALNYA PUNYA BENGKEL MOBIL

Kapolres Lumajang menginterogasi tersangka dalam dugaan kejahatan money games yang terungkap dari laporan anak hilang. (foto: istimewa)

Sebagian besar warga Desa Singgahan, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, sempat menjadi member MLM QNet karena terpengaruh ajakan MK. Tetapi, mereka tidak bertahan lama menjadi member QNet. Hal ini diungkapkan Sekretaris Desa Singgahan, Joni Anwar. Kata dia, MK telah menjalani bisnis QNet ini sejak 2004 silam. Saat itu, selain bisnis QNet, warga asli Singgahan itu membuka bengkel mobil.

“Dahulunya MK itu punya bengkel mobil. Kemudian beralih ke bisnis QNet itu,” ujarnya Joni saat ditemui wartawan di Kantor Desa Singgahan, Rabu (4/9/2019).

Diterangkan, saat awal-awal berbisnis MLM itu, sebagian besar warga Singgahan diprospek oleh MK. Alhasil kala itu banyak warga yang tertarik untuk ikut menjadi member QNet. Namun, mereka tidak lama menjadi member bisnis MLM itu dan kemudian berhenti.

Joni menyebut bila warga yang pernah ikut mengaku kesulitan untuk mencari member baru. Sehingga mereka tidak mendapatkan penghasilan. “Saya dahulu juga sempat diprospek. Tapi saya bilang tidak mau. Kalau warga sini memang banyak yang ikut, tapi ya enggak lama,” kata dia.

Dijelaskan, selama ini banyak warga dari luar daerah yang datang ke rumah MK untuk ikut QNet tersebut. Biasanya, calon member baru tersebut ditempatkan di gedung pertemuan milik MK yang lokasinya sekitar 50 meter dari rumah MK. “Calon member biasanya ikut seperti seminar di gedung pertemuan. Bukan di rumahnya,” beber Joni.

Sejak penggeledahan rumah MK itu, aktivitas di rumah tersebut tidak seperti biasanya. Tidak banyak orang yang datang ke gedung pertemuan milik MK. Aset MK yang ada di desa ini, kata dia, tercatat hanya rumah mewah dan gedung pertemuan. Sedangkan aset lain, ia mengaku tidak mengetahuinya. (*)

Editor: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top