EKONOMI & BISNIS

Nilai Ekspor Pertanian Kalbar Tembus Rp 1,5 Triliun

Pelepasan ekspor komoditas pertanian dari Kalbar. (Foto: Antara)

PONTIANAK, Kate.id – Komoditas pertanian di Kalbar dianggap sudah cukup besar memberikan andil dalam bidang perekonomian khususnya ekspor. Hal itu terlihat dari nilai ekspor yang terus signifikan. Sebagaimana diungkapkan Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Pontianak, Dwi Susilo, Sabtu (31/8/2019). Kata dia, nilai ekspor pertanian di Kalbar sejak Januari hingga Juni 2019 sudah sebesar Rp 1,5 triliun.

Dwi menjelaskan, komoditas ekspor pertanian dari Kalbar tersebut saat ini sudah sekitar 25 jenis. Seperti biji pinang, pisang kepok, berbagai jenis produk dari kelapa, kelapa sawit, kopi bubuk, jeruk, buah mengkudu dan lainnya. “Ada yang bilang kita lebih banyak impor. Itu tentu tidak benar karena kita ada 25 komoditas pertanian yang kita ekspor. Sedangkan yang kita impor hanya 5 komoditas saja seperti kedelai dari Amerika dan beberapa jenis lainnya,” jelasnya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Untuk itu, Dwi mengaku pihaknya akan terus mendorong kegiatan ekspor di Kalbar. Dalam hal ini pihaknya bakal menyampaikan kepada masyarakat bahwa saat ini Kalbar sudah terus maju dalam aktivitas perdagangan luar negeri terutama ekspor pertanian. Malahan baru saja, ungkap Dwi, dilakukan ekspor pisang kepok Kalbar ke Malaysia sebanyak 50 ton. Rupa-rupanya permintaan pisang kepok di Malaysia sudah mencapai sekira 300 ton setiap minggunya.

Selain ekspor perdana buah pisang, Dwi juga menyebut Kalbar telah mengekspor komoditas Palm Fatty Acid Oil, yang merupakan produk samping atau dari kelapa sawit. “Palm Fatty Acid Oil ini sebenarnya bukan merupakan media pembawa. Namun negara tujuan Tiongkok mempersyaratkan komoditas dilengkapi dengan PC, agar komoditas dapat diterima di sana,” terang Dwi.

Dia mengurai, produk Palm Fatty Acid Oil yang diekspor sebanyak 301 ton dengan nilainya sebesar Rp 1,3 miliar. Produk ini di negara tujuannya kelak bakal digunakan sebagai bahan bakar biodiesel. “Ini juga langkah maju yang kita harus apresiasi. Tidak lagi dalam kondisi segar, tapi sudah olahan akhir. Pasti akan berdampak pada nilai tambah yang didapat oleh masyarakat,” tandasnya. (*)

Editor: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top