NASIONAL

Kenalin Nih, Rektor Asing Pertama di Indonesia dari Korsel

Jang Youn Cho (kiri), profesor asal Korea Selatan (Korsel) yang akan memimpin Universitas Siber Asia. (Foto: RRI)

JAKARTA, Kate.id – Pemerintah serius dalam mendatangkan rektor asing untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi dalam negeri. Malahan, salah seorang rektor asing itu sudah diperkenalkan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. Adalah Jang Youn Cho, profesor asal Korea Selatan (Korsel) yang akan memimpin Universitas Siber Asia.

Kehadiran Cho sebagai rektor asing diumumkan Nasir di depan para rektor perguruan tinggi negeri/swasta, peneliti, dan dosen yang hadir pada pembukaan kegiatan ilmiah Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Grand Inna Beach Hotel, Bali, Senin (26/8/2019). Dijabarkan, Cho pernah menjabat Wakil Presiden Hankuk University periode 2014-2017. Pada periode yang sama, dia juga menjadi Rektor Cyber Hankuk University of Foreign Studies.

“Rektor asing harus pernah memimpin perguruan tinggi. Cho mempunyai pengalaman memimpin Hankuk University. Dan sekarang dia menjadi rektor di Universitas Siber Asia,” papar Nasir, dilansir Jawa Pos.

Dia berharap dengan kehadiran Cho mampu meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di tanah air. Juga diharapkan bisa memunculkan minat mahasiswa-mahasiswi asing untuk kuliah di Indonesia. “Harapan saya mahasiswanya tidak hanya dari Indonesia. Bisa dari Asia maupun Afrika, mudah-mudahan ini bisa jalan,” ujar pria 59 tahun ini.

Merupakan profesor bidang akuntansi, pengalaman akademis Cho banyak didapat dari Amerika Serikat. Dia meraih gelar Ph.D di University of Florida pada 1983, kemudian menjadi asisten profesor hingga menyandang gelar profesor dari Nebraska-Lincoln University pada 1997.

Krisis keuangan yang melanda Asia pada 1997 membuat Cho memutuskan untuk kembali ke Korsel. Dia membantu pemerintah menata administrasi keuangan dan bisnis negara. Dua tahun kemudian, dia menjadi Wakil Ketua Dewan Standar Akuntansi Korsel. Walau begitu, pengalaman kepemimpinan di kampus baru mulai dirasakannya di 2006, ketika dia menjabat Dekan Sekolah Tinggi dan Pascasarjana Bisnis, Hankuk University selama empat tahun.

Dalam visinya, Cho menyatakan ingin fokus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi pada lima bidang. Kelima bidang tersebut meliputi manajemen, akuntansi dan perpajakan, komunikasi, sistem informasi, dan teknologi. “Karena industri 4.0 tidak hanya teknologi. Banyak aspek. Semuanya harus terintegrasi dalam big data,” terang Cho.

Profesor berumur 66 tahun ini mengatakan, era 4.0 terbentuk karena kebutuhan manusia yang ingin semuanya serba cepat, saling terkoneksi, dan tidak ribet. Demi mendukung program tersebut, Cho meminta profesor rekanannya dari Amerika Serikat dan Korsel datang ke Indonesia. “Saya pilih profesor terbaik dari kedua negara itu untuk membuat konten pembelajaran. Tentu juga berkolaborasi dengan profesor Indonesia. Saya yakin program ini akan membawa Indonesia meraih masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

UNIVERSITAS SIBER ASIA

Pada acara itu pula, Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) menerima izin prinsip pendirian Universitas Siber Asia dari Menristekdikti Nasir. Universitas Siber Asia, merupakan universitas swasta berbasis full online learning pertama di Indonesia yang mendapatkan lisensi dari pemerintah. Universitas yang berada dalam satu yayasan dengan Universitas Nasional (UNAS) Jakarta itu akan menjalankan tiga strategi utama. Meningkatkan kuantitas, memberikan fitur-fitur pengajaran yang sesuai era industri 4.0, dan menghadirkan pengajaran dengan kualitas dunia (world class learning).

Ketua Pengurus YMIK Ramlan Siregar dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Kemenristekdikti. Karena telah memberikan lisensi untuk pendirian Universitas Siber Asia. Menurutnya, merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan untuk mewujudkan misi memberikan akses pendidikan tinggi yang merata dan terjangkau kepada generasi bangsa melalui kehadiran kampus ini.

Ramlan menjelaskan, saat ini jumlah penduduk Indonesia usia 19-23 tahun baru 34 persen yang melanjutkan ke pendidikan tinggi. Sementara itu di Malaysia mencapai 51 persen, Singapura di angka 82 persen, dan Korsel sudah 96 persen. Full online learning and management system selaras dengan keinginan pemerintah menjawab tantangan era Industri 4.0.

“Memberikan efisiensi dalam layanan pendidikan tinggi dalam skala tidak terbatas bagi penduduk Indonesia tidak saja di perkotaan namun juga daerah terpencil yang memiliki akses internet. Bahkan dengan biaya pendidikan yang terjangkau, dapat membantu para pekerja dengan penghasilan rendah untuk tetap dapat mengakses pendidikan tinggi,” beber Ramlan.

Namun begitu, Hikmahanto Juwana selaku Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia mengatakan, Universitas Siber Asia berada di bawah naungan YMIK. Artinya, saat ini kampus tersebut belum menerima mahasiswa. Diketahui, Universitas Siber Asia ternyata juga bukan Universitas murni Indonesia. Tapi, merupakan kerja sama antara YMIK dengan Hankuk University of Foreign Studies, Korsel.

Sehingga, Universitas Siber Asia harus berjuang keras untuk memperoleh ranking 100 dunia dalam 5 tahun ke depan. Mengingat, masa jabatan rektor biasanya hanya 5 tahun. “Nah, yang Menjadi pertanyaan, apakah ke depan Universitas Siber Asia akan mampu masuk 100 ranking dunia? Terlebih yang diharapkan Presiden sebenarnya adalah PTN,” tegas Juwana. (*)

Editor: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top