KESEHATAN

Permintaan Masyarakat Tinggi, Bajakah Masih Perlu Diteliti Lagi

Seorang pria memegang tanaman Bajakah. (FOTO: ist)

PALANGKA RAYA, Kate.id – Viralnya kabar tanaman tradisional Kalimantan Tengah (Kalteng), Bajakah sebagai obat kanker berimbas pada tingginya permintaan masyarakat terhadap tanaman ini. Sebagaimana diungkapkan Komandan Korem 102 Panju Panjung, Kolonel Arm Saiful Rizal yang menyatakan, saat ini permintaan terhadap Bajakah sangat tinggi. Bahkan ada yang memesan hingga satu ton. Hal ini menyebabkan ramainya perburuan terhadap Bajakah.

Diterangkan, sejak ditemukan tiga siswa SMA bahwa akar bajakah bisa menyembuhkan kanker, banyak pihak berburu akar tumbuhan itu untuk bisa diperjualbelikan. Mereka yang mencarinya bukan hanya dari Kalimantan, melainkan juga datang dari luar Kalimantan.

Atas perburuan ini, Saiful meminta pemerintah daerah segera melakukan upaya pengendalian. Lantara banyak hal yang harus diantisipasi dari perburuan ini. Salah satunya terkait penjualan Bajakah yang keliru, yaitu yang diduga mengandung racun. Pasalnya, Bajakah ternyata memiliki banyak jenis termasuk yang kemungkinan mengandung racun.

“Banyaknya pemesanan terhadap Bajakah, membuat kondisi ini sudah masuk ke ranah bisnis, yakni mencari keuntungan. Untuk itulah semua pihak diminta lebih berhati-hati, apalagi secara medis kasiat Bajakah masih dalam penelitian,” pesan Saiful dikutip dari Kantor Berita Antara.

Menanggapi perburuan ini, Sekretaris Daerah Kalteng Fahrizal Fitri menegaskan, saat ini Bajakah tidak diperbolehkan keluar Kalteng. Tujuannya demi mencegah terjadinya hal-hal negatif yang tidak diinginkan. Bahkan dalam waktu dekat, pihaknya akan menerbitkan surat edaran gubernur untuk menyikapi hal ini.

Fitri mengungkap, Pemprov Kalteng sudah bersurat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng. Agar dapat memperhatikan masalah perburuan Bajakah tersebut. Dalam hal ini pihaknya berharap agar semua pemangku kepentingan berpartisipasi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. “Nantinya setelah surat edaran gubernur keluar, akan langsung kami tujukan kepada semua pihak agar bisa menjadi pedoman,” jelas Fitri.

Sementara itu, Staf BKSDA Kalteng Ettie Tatiana membenarkan apa yang telah disampaikan Sekda Kalteng. Sebab salah satu tugas dan fungsi BKSDA adalah pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL). Sehingga untuk peredaran TSL misalnya perdagangan Bajakah, menjadi ranah BKSDA. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 447/Kpts-II/2003 tentang tata usaha pengambilan atau penangkapan dan peredaran TSL. “Jadi sementara ini kami tidak mengeluarkan izin untuk angkut Bajakah,” sebut Ettie.

Warga menjajakan Bajakah di Palangka Raya. (Foto: Surya Sriyanti/MI)

MASIH HARUS DITELITI LEBIH LANJUT

Akademisi dan praktisi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof dr Ari Fahrial Syam menyatakan, penemuan tanaman Bajakah sebagai obat kanker oleh siswi SMA di Palangka Raya harus ditindaklanjuti dengan penelitian lebih lanjut. Hal ini untuk memastikan kandungan dan khasiatnya secara klinis.

“Penemuan ini harus di-‘follow up’. FKUI punya pengalaman yang cukup banyak dalam meneliti herbal dan melihat dampak kesehatan pada manusia,” sebut Ari Fahrial dalam keterangan tertulis.

Dekan FKUI ini memaparkan, penelitian mengenai tanaman Bajakah masih memerlukan waktu yang panjang. Untuk mengetahui komponen apa dari getah Bajakah yang berefek positif pada sel kanker. Ari berujar, penelitian siswa SMAN 2 Palangka Raya yang menguji kandungan Bajakah di laboratorium dan menguji cobanya pada hewan mencit atau tikus putih merupakan praklinik, baru awal dari banyak tahapan penelitian yang harus dilakukan.

Dijelaskan, saat ini salah satu tim Human Cancer FKUI yang dipimpin Prof Dr. rer. physiol. dr. Septelia Innawati PhD baru saja mendapat tiga paten seputar terapi kanker payudara. Salah satunya paten kerja senyawa bahan alam Andrografolida yang awalnya bersumber dari daun sambiloto. Andrografolida tersebut dapat meningkatkan apoptosis sel punca kanker payudara melalui penekanan protein survivin (studi in silico dan in vitro). Mahasiswa S3 Biomedik FKUI akan melakukan uji in vivo dengan Andrografolida. Proses untuk patennya itu membutuhkan waktu empat tahun.

“Saya tentu berharap terus dilakukan penelitian untuk melihat kandungan apa yang ada pada getah Bajakah ini, dilakukan isolasi dan setelah ditemukan komponen aktifnya dilakukan penelitian in vitro di tingkat sel. Dan jika terbukti efektif, lanjut ke penelitian in vivo dengan animal,” terang Ari.

Dia mengurai, setelah penelitian getah Bajakah lolos pada uji praklinik, bisa berlanjut ke uji klinik. Uji Klinik sendiri akan melakukan empat tahap dimulai dari orang normal sampai dampak obat ini setelah sampai di pasar. “Butuh waktu. Kalau kita fokus dan memang menghasilkan sesuatu tentu ini akan membawa manfaat untuk penemunya dan bermanfaat untuk orang banyak,” sebut Ari.

Adapun terkait temuan siswa SMAN 2 Palangka Raya yang mendapatkan medali emas pada kompetisi internasional World Invention Creativity Olympic (WICO) di Korea atas penelitian tanaman Bajakah yang terbukti menghilangkan sel kanker pada hewan percobaan, Ari memberikan apresiasi. “Saya sebagai akademisi dan peneliti mengapresiasi penemuan siswa ini. Tentu ini membawa kebanggaan tersendiri buat kita semua,” tandasnya. (*)

Editor: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top