MIMBAR JUMAT

Bolehkah Kurban Secara Patungan Beramai-ramai? Ini Jawabannya!

ilustrasi.

Pertanyaan:

Bapak Ustaz sebagaimana yang sering kita saksikan, sebuah institusi, perusahaan atau sekolah terkadang mengerjakan ibadah Kurban. Mereka menyerahkan hewan Kurban kepada masjid atau panitia Kurban atas nama perusahaan/ institusi tersebut.

Untuk sekolah misalnya, para siswa disekolah tersebut mengumpulkan sejumlah uang bersama-sama (patungan) kemudian dibelikan hewan Kurban. Bagaimana hukumnya tentang hal ini ? Apakah sah disebut Kurban, bila tidak sah statusnya apa ?

Dijawab oleh Ust. Ahmad Syahrin Thoriq, Pengasuh Ponpes Subulana Bontang.

Ibadah Kurban termasuk salah satu dari sekian ibadah mahdhah (ritual), yang karena itu aturannya tidak boleh ditambah atau dikurangi sedikitpun, sebagaimana halnya ibadah mahdhah lainnya seperti shalat, zakat, haji dan lain-lain. Kalau toh kemudian ada semacam kreasi atau penambahan dalam sebuah ibadah mahdhah, maka itu hanya terkait masalah teknis ibadah.

Dalam ibadah Kurban di antara ketentuannya adalah seekor kambing hanya untuk Kurban satu orang, seekor sapi boleh menjadi hewan Kurban dari orang-orang yang berserikat hingga tujuh orang , dan satu unta sepuluh orang.

Ketentuan ini selamanya akan tetap seperti ini, tidak boleh sedikitpun diubah, dikurangi atau ditambah. Karena aturan ini digariskan oleh nas syariat yang jelas. Bila ada seseorang yang sengaja menyalahi aturannya, maka konsekuensinya bisa menyebabkan ibadah Kurbannya tidak sempurna bahkan tidak sah.

Maka kasus yang ditanyakan tentang Kurban yang dilakukan oleh instansi, lembaga, perusahaan atau pun sekolah-sekolah yang menyalahi ketentuan diatas, jelas jawabannya, statusnya bukan hewan Udhiyah (Kurban), melainkan sekadar sedekahan biasa. Ia tidak ubahnya seperti acara baksos, sedekah, atau acara pemberian santunan. Mungkin yang sedikit membedakannya adalah karena yang dibagi-bagikan daging dan waktunya ikut mendompleng hiruk pikuk hari raya Iduladha.

Tentu saja ‘berkurban’ dengan model seperti ini tidak ada kaitannya sedikit pun dengan ibadah kurban yang ditujukan untuk taqarrub atau mendekat kepada Allah. Sekali lagi ia sebuah acara yang wujudnya lain. Yang boleh jadi bila tetap dipaksakan dianggap dan dikait-kaitkan dengan ibadah Kurban, akan menjatuhkan pelakunya kepada bid’ah yang menyesatkan. Karena telah merubah, menambah atau membuat hal baru dalam syariat agama.

Apakah salah ? Salah sih tidak, karena sebenarnya ketika lembaga, perusahaan, atau khususnya sekolah-sekolah mengadakan patungan Kurban seperti itu, tentu dengan niatan dan tujuan yang baik. Paling tidak mereka hendak berbagi atau bertujuan mengajari anak didiknya untuk mengenal syariat Kurban sejak dini.

Tentu saja, hal seperti ini memang patut diberikan apresiasi, namun bukan berarti tidak boleh untuk dikoreksi ataupun dikritisi. Apalagi tujuan koreksi tersebut, adalah untuk perbaikan dan kebaikan kita bersama.

Adakah solusi dalam hal ini ?

Ibadah Kurban adalah ibadah terbaik yang paling dicintai oleh Allah ta’ala, sebagaimana hadits Rasulullah beliau bersabda : “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Iduladha yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (Kurban).” (HR. Tirmidzi)

Dan tentunya pula bersedekah membantu orang beramal dengan amalan terbaik, jauh lebih utama dibanding dengan sekadar sedekah bagi-bagi daging. Bahkan sebagian ulama mengatakan nilai sedekah yang jauh lebih besar namun tidak berwujud Kurban di bukan Dzulhijjah, tidak lebih dicintai oleh Allah dari Kurban itu sendiri.

Sehingga amat merugi seorang muslim yang diberikan kemampuan lantas menyia-nyiakan kesempatan setahun sekali untuk meraup pahala besar lewat hewan Kurban.

Sebenarnya masalah ini bukan tanpa solusi. Bila kita mau sedikit saja menyiasati masalah diatas, perusahaan, instansi, lembaga atau sekolah yang menyembelih hewan dan hanya bernilai sedekah biasa itu, bisa menjadikan sembelihannya tetap bernilai Udhiyah/Kurban.

Caranya adalah dengan menghadiahkan hewan atau dana hewan Qurban itu kepada individu tertentu.

Kita ambil contoh, bila suatu perusahaan akan menyembelih 10 ekor sapi. Maka 10 ekor sapi itu bisa dihadiahkan sebagai kurban kepada 70 karyawan yang dipandang memiliki dedikasi dan prestasi yang baik. Keuntungannya, perusahaan sebagai pihak yang memberi hadiah/sedekah tetap bisa menyelenggarakan pemotongan hewan di lingkungannya, dan karyawan yang menerima hadiah Kurban mendapat pahala berkurban. Plus dagingnya tetap bisa disantap dan dimakan bersama-sama sebagai daging yang penuh keberkahan.

Demikian setiap tahun, hadiah Kurban bisa digilir. Maka dengan cara ini perusahaan tetap bisa menyelenggarakan potong- memotong hewan, karyawan juga senang, karena merasa diperhatikan. Dan ini tentu akan memberikan sumbangan positif bagi kedua belah pihak.

Untuk sekolah, para siswa yang patungan dana bisa menghadiahkan dana Kurbannya kepada salah seorang guru. Tentu ini akan memberikan nilai lebih. Guru senang karena mendapatkan perhatikan para siswa, dan siswa-siswa tetap ikut senang karena tetap bisa kecipratan nikmatnya sate dan gulai daging Kurban.

Hanya saja yang perlu diingat. Sesuatu yang sudah dihadiahkan, maka ia menjadi hak sepenuhnya orang yang menerimanya. Kalau toh perusahaan atau sekolah berkeinginan agar hewan yang dihadiahkan itu disembelih di lingkungan mereka, paling jauh ia hanya bisa mengimbau. Karena hak itu sudah beralih menjadi milik orang-orang yang dihadiahkan. Terserah dia, mau berqurban di lingkungannya atau di tempat lain.

Penutup

Bila solusi ini juga tidak mau ditempuh. Ya silakan saja. Tidak ada yang melarang aktivitas potong-memotong hewan lalu acara ditambah dengan makan-makan bersama. Hanya saja kalau boleh kami menyarankan, mungkin waktunya bisa diundur sedikit, paling tidak sampai selesai hari tasyriq, supaya mendapatkan harga yang sudah sedikit lebih murah, lumayan lebih irit, daripada memaksa membeli disaat harga masih selangit.

Semoga bermanfaat. (AST)

Comments

BERITA TERBARU

To Top