INTERNASIONAL

Penembakan di Amerika Serikat, Trump Salahkan Video Game

Donald Trump. (Foto: Win McNamee/Getty Images)

Kate.id – Insiden penembakan brutal kembali terjadi di Amerika Serikat. Kali ini di El Paso, Texas dan Dayton, Ohio. Sebanyak 30 orang meninggal dunia dan lebih dari 50 orang luka-luka. Menanggapi peristiwa ini, Presiden Amerika Serikat Donald menyalahkan video game sebagai biang kerok dari serentetan kasus penembakan yang kerap terjadi di negara adidaya tersebut.

Dilansir dari PCGamer, Trump menyatakan video game saat ini telah menjadi barang umum di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Katanya, video game telah mengubah budaya negara dan menjadi salah satu faktor yang mendukung sifat kekerasan di kalangan anak muda.

Untuk itu, sambung Trump, Amerika Serikat harus segera menghentikan atau setidaknya mengurangi peredaran video game mengandung kekerasan secara signifikan. Meski begitu, menurutnya perubahan budaya bukan hal mudah. Namun setiap masyarakat dapat memilih untuk membangun budaya yang mewakili nilai serta martabat kehidupan manusia.

Bukan hanya pada video game, Trump juga menyalahkan internet secara keseluruhan. Dia mengatakan, bahaya media sosial dan internet tidak dapat dan tidak akan diabaikan. Sehingga orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut telah meminta agensi federal dan perusahaan media sosial, untuk mengembangkan alat berkemampuan mendeteksi penembakan massal sebelum terjadi.

Trump mengaku telah mengetahui pelaku penembakan di El Paso mengunggah manifesto yang dikonsumsi oleh kebencian dan rasisme secara online. Pelaku juga menyerukan agar warga Amerika Serikat untuk mengutuk rasisme dan menyebut bahwa kebencian tidak memiliki tempat di negara itu.

Akan tetapi, manifesto tersebut tidak menyebutkan kontribusi yang dilakukan Trump sama sekali. Terhadap peningkatan rasisme berbahaya dan kekerasan yang tengah berlangsung di Amerika Serikat. Menurut laporan BBC, penembak di El Paso berkata serangannya merupakan respons dari invasi Hispanik di Texas.

Sebagai informasi, invasi Hispanik di Texas merupakan istilah yang digunakan Trump secara berulang dalam hasutan rasisme terhadap kemarahan antiimigran di media sosial. Menurut data Facebook, Trump memiliki sekitar 2.200 unggahan sejak Mei 2018 yang mengandung kata “invasi”.

Telaah lebih lanjut yang dilakukan oleh peneliti Natalie Martinez untuk Media Matter, mengungkapkan, seluruh unggahan Trump ini terkait dengan imigrasi. Pelaku penembakan El Paso juga mengungkapkan dukungannya untuk pelaku penembakan di Christchurch, New Zealand, yang menyebabkan 51 orang meninggal dunia pada Maret lalu. (*)

Writer: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top