NASIONAL

Listrik Padam, Separuh Pulau Jawa Lumpuh

Petugas Dishub sedang mengatur lalu lintas akibat traffic light yang tak berfungsi lantaran listrik padam. (Foto: EPA)

Kate.id – Ahad (4/8/2019) menjadi momen yang sangat mengejutkan bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa. Khususnya di bagian barat Jawa, yang meliputi Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Juga sebagian Jawa Tengah. Lantaran, listrik yang selama ini selalu menemani keseharian mereka padam begitu saja. Bukan hanya sejam-dua jam, melainkan aliran listrik tak dapat dinikmati selama setengah hari, bahkan ada yang mencapai seharian penuh pada daerah tertentu.

Petaka black-out, bahasa Inggris untuk listrik padam tersebut dimulai sekira pukul 12.00 WIB. Tanpa ada peringatan apapun, tiba-tiba lampu mati, semua peralatan elektronik mati. Publik Jakarta dan Jawa yang selama ini tak pernah lepas dari listrik untuk keperluan sehari-hari pun terperangah. Hidup tiba-tiba terasa berat, begitu yang tergambar dalam unggahan, cuitan, dan komentar-komentar di media sosial. Padahal, sehari dua hari sebelumnya masyarakat sudah cukup dikejutkan dengan gampa bumi yang sama seperti listrik padam ini, datang tanpa permisi.

Awalnya, masyarakat masih bisa mengakses jaringan telekomunikasi dan internet pada awal-awal listrik padam. Namun perlahan, akses telekomunikasi itu tak bisa dilakukan, lantaran sinyal yang ikut padam menyusul listrik. Tanpa akses listrik dan telekomunikasi, masyarakat seakan tak bisa berbuat apa-apa.

Sebagaimana yang dialami Giman, salah seorang warga Jakarta Timur. Dia tengah mengerjakan sesuatu di komputernya ketika listrik tiba-tiba padam. Dia kesal, namun bukan karena listrik yang padam. “Saya kesal karena pekerjaan saya di komputer belum saya save,” tuturnya kepada Kate.id.

Giman lantas membuka ponselnya untuk sekadar membuka media sosial. Mencoba menghilangkan kekesalannya lantaran jerih payahnya yang dia buat di komputer lenyap seketika bersamaan dengan padamnya listrik. Namun belum lama dia mengakses internet, sinyal perlahan menghilang. Tak ada jaringan, begitu bunyi tulisan yang ada di layar ponsel pintarnya.

“Akhirnya saya tidur di kamar sampai sore. Alhamdulillah sore sudah menyala lagi,” kisah pria 31 tahun itu.

KRL Lumpuh, Ribuan Penumpang MRT Dievakuasi

Padamnya listrik ini berimbas pada lumpuhnya transportasi massal yang bergantung pada energi ini. Kereta Rel Listrik (KRL) misalnya, operasionalnya berhenti total sekira pukul 12.00 WIB siang itu. Petugas di stasiun pun mengarahkan penumpang untuk menggunakan moda transportasi yang lain. Beberapa kali pihak stasiun memberikan pengumuman lewat pengeras suara.

Namun begitu, masih banyak penumpang yang menunggu di stasiun hingga KRL beroperasi kembali. Hindun salah satunya, tetap tinggal di stasiun lantaran tidak tahu moda transportasi selain KRL untuk mencapai destinasi tujuannya.

“Takut saya. Enggak tahu harus naik yang mana, ke arah mana,” tutur Hindun yang datang ke Jakarta untuk menjenguk saudaranya, sebagaimana dilansir dari Jawa Pos. Perempuan 46 tahun berkata, sudah berada di stasiun sejak sekira pukul 13.00 WIB. “Kata petugas sekitar pukul 17.00 bisa, ya saya tunggu saja,” tambahnya.

Selain KRL, Operasional Moda Raya Terpadu (MRT) juga sempat berhenti selama kurang lebih sembilan jam. MRT mandek sejak pukul 11.50 WIB dan kembali beroperasi normal pukul 20.00 WIB.

Penumpang MRT menunggu di luar stasiun. (Foto: EPA)

Tim operation control center (OCC) MRT mendeteksi empat kereta Ratangga yang terhenti di antara stasiun bawah tanah. Yakni, pada lintasan antara Bendungan Hilir-Istora, Istora-Bendungan Hilir, Lebak Bulus-Fatmawati, dan Fatmawati-Lebak Bulus. Penumpang pun keluar setelah pintu platform screen door (PSD) dibuka secara manual untuk proses evakuasi. Selanjutnya, mereka berjalan menuju stasiun terdekat.

“Jumlah penumpang yang dievakuasi dari seluruh stasiun 3.410 orang. Seluruhnya dalam keadaan baik dan selamat,” ungkap Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta M. Kamaludin sembari mengungkap bila Proses evakuasi dilakukan lima menit setelah kereta berhenti.

Dia menjelaskan, MRT Jakarta disuplai penuh dari dua jalur yang bersumber dari 2 subsistem 150 kv PLN yang berbeda. Yaitu, subsistem Gandul-Muara Karang melalui Gardu Induk Pondok Indah dan subsistem Cawang-Bekasi melalui Gardu Induk CSW. Dalam keadaan failure pada salah satu jalur suplai, satu suplai lainnya dapat menggantikan 100 persen kebutuhan daya keseluruhan MRT. “Kasus ini tergolong kejadian luar biasa yang menyebabkan lumpuhnya kedua jalur suplai tersebut,” jelasnya.

Pada moda transportasi udara, langkah tanggap atas terganggunya pasokan listrik dari PLN langsung dilakukan. Dengan begitu, layanan terhadap penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tidak sampai terganggu. “Sempat terkena dampak gangguan dari PLN. Tetapi, langsung ter-back up oleh 17 genset, ” ujar Febri Toga Simatupang selaku Senior Manager of Branch Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Padamnya listrik diketahui lantaran gangguan pada Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran- Pemalang. Gangguan ini tampaknya cukup berat, sehingga proses perbaikan dari PLN agar listrik kembali normal berjalan begitu lama. Dilaporkan, beberapa wilayah tidak mendapat listrik hingga lebih dari 12 jam.

Sementara wilayah yang sudah sempat teraliri listrik pun sempat kembali mengalami pemadaman. Imbasnya, layanan seluler, perbankan, hingga transportasi umum mengalami gangguan.

Pekerja Tewas Tertimpa Pagar Otomatis

Padamnya listrik turut berimbas pada tewasnya seorang pekerjayang tertimpa pagar otomatis di area Kawasan Industri Kota Cilegon. Pekerja itu tewas karena pagar otomatis tak berfungsi saat listrik mati.

Kejadiannya pada Ahad malam, sekiran pukul 21.30 WIB. Pria bernama Doni Kurniawan itu tewas akibat tertimpa pagar otomatis. Seharusnya pagar tersebut terbuka secara otomatis, tapi pagar dibuka secara manual akibat listrik mati.

“Jadi memang semalam ada laka kerja sampai orang meninggal dunia. Mereka sedang menutup pintu depan pabrik yang seharusnya otomatis, tapi karena tidak ada aliran listrik, jadi dibuka secara manual,” kata Kapolres Cilegon AKBP Rizki Agung Prakoso kepada wartawan, Senin (5/8/2019).

Buka-tutup pagar itu dilakukan secara manual. Akibatnya, pagar keluar dari rel dan menimpa tiga pekerja. Satu orang tewas di TKP dan dua lainnya mengalami luka. “Ada minus mungkin karena relnya agak ini dipaksa akhirnya tertimpa, satu korban meninggal dunia, luka di kepala bagian belakang,” ujarnya.

Polisi saat ini masih menyelidiki kasus tersebut. Kronologi kejadian hingga satu pekerja meninggal masih digali. Polisi memeriksa empat saksi untuk mendalami kasus tersebut.

“Sudah ada empat orang yang diperiksa dari pihak perusahaan. Yang jelas, kita sedang melaksanakan pendalaman kenapa pada saat itu yang seharusnya otomatis dilakukan secara manual,” tuturnya. (*)

Editor: Tony Borneo

Comments

BERITA TERBARU

To Top