OPINI

Dari yang Terlambat, Menuju yang Tercepat

Presiden RI Joko Widodo saat meninjau MRT. (Dok. MRT Jakarta)

Oleh: Tony Borneo*

MARET 2019, menjadi tonggak sejarah bagi ibu kota Indonesia, Jakarta. Lantaran, sarana transportasi massal, Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT), angkutan cepat terpadu Jakarta akhirnya diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) Bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pasalnya, perjalanan mewujudkan angkutan transportasi cepat kereta rel listrik ini sudah terbilang sangat lama, bahwa melebihi satu generasi.

Diketahui, sejak 1980, lebih dari dua puluh lima studi subjek umum dan khusus telah dilakukan terkait dengan kemungkinan penerapan system MRT di Jakarta. Krisis ekonomi menjadi salah satu alasan mengapa salah satu solusi ampuh mengatasi kemacetan Jakarta ini terkubur dalam-dalam. Khususnya krisis yang terjadi dalam rentang 1997-1998.

Keberadaan MRT jelas merupakan sebuah kebutuhan bagi ibu kota yang berpenduduk sekira Sembilan juta jiwa ini. Perkiraannya, sekira lebih dari empat juta penduduk di daerah sekitar Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) menempuh perjalanan ke dan dari kota pada setiap hari kerjanya. 

Sehingga, tanpa adanya terobosan transportasi utama, kemacetan akan membanjiri kota. Bahkan lalu lintas bisa menjadi sangat parah. Akibatnya, kendaraan tidak bisa bergerak, bahkan terdapat prediksi pada 2020 mendatang, kendaraan tidak bisa bergerak pada saat keluar dari garasi rumah. Kemacetan bakal mencapai depan pintu rumah masing-masing warga Jakarta!

Kemacetan ini, selain sudah menjadi ciri khas Jakarta, juga memunculkan berbagai problem lainnya. Secara logika saja, warga Jakarta meyakini bahwa waktu mereka terbuang percuma di jalan ketika kemacetan parah melanda. Lantaran memang volume kendaraan yang memang sudah begitu tak terbendung lagi jumlahnya. Sehingga, terucaplah anekdot kalau-kalau kemacetan di Jakarta bisa membuat orang tua di jalanan. 

Itu baru imbas waktu yang terbuang, yang kemudian memunculkan dampak turunan pada kegiatan ekonomi yang terhambat. Sebagaimana yang diungkapkan Presiden RI Jokowi, bahwa di setiap tahunnya, pemerintah kehilangan Rp 65 triliun dari kemacetan Jabodetabek. Hal ini tentu sangat disesalkan. Sehingga keberadaan moda transportasi alternatif pengurai kemacetan terus diwacanakan.

Maka kita patut bersyukur setelah beragam upaya yang dilakukan pemerintah, baik Pemprov DKI maupun Pemerintah RI untuk memunculkan moda transportasi tersebut terus dilakukan. Anggkutan-angkutan dalam kota serta Kereta Rel Listrik (KRL) dalam beberapa periode mendapatkan rekan transportasi. Mulai dari bus jalur khusus (busway) Transjakarta hingga kini MRT dan menyusul LRT.

Dua nama yang disebut belakangan, bisa dibilang merupakan moda transportasi yang fenomenal. Lantaran memiliki kemampuan yang lebih unggul bila dibandingkan moda-moda transportasi pendahulunya. Memang masing-masing juga memiliki keterbatasan, akan tetapi kemampuan mengurai kemacetan, dengan estimasi perjalanan yang jauh lebih cepat, tentu menjadi asa bagi lalu lintas Jakarta tanpa kemacetan.

Terkait pembangunan MRT dan LRT ini, sejatinya Indonesia, atau secara spesifik Jakarta sebagai ibu kota, terbilang terlambat bila dibandingkan negara-negara lain, khususnya negara-negara Asia Tenggara lainnya. Singapura dan Bangkok telah lebih dahulu memilikinya, menjadi salah satu moda transportasi pilihan bagi masyarakatnya. 

Maka jangan heran bila kemudian masyarakat Indonesia melihat keberadaan MRT dan LRT sebagai sesuatu yang mengagumkan. Hal ini tercermin dalam uji coba MRT yang mendapat antusias warga untuk ikut menjajalnya. Sayangnya, ada saja ulah tidak terpuji yang dilakukan oknum warga, mulai dari tak mau antre, buang sampah sembarangan, hingga menginjak kursi. Ya walaupun salah dan jelas tidak bisa dibenarkan, anggap saja itu ekspresi kegembiraan yang kebablasan.

Faktanya, keberadaan MRT dan LRT memberikan asa baru bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Transportasi yang cepat tanpa macet sudah di depan mata. Tak sedikit warga yang ancang-ancang meninggalkan kendaraan pribadi bila moda transportasi ini kelak bisa beroperasi dengan maksimal. Tentu ini sebuah harapan yang mesti dijawab dengan cepat pula oleh semua pihak, baik Pemprov DKI maupun Pemerintah RI. 

Jakarta, Indonesia, mungkin terlambat dalam penarapan MRT/LRT dibandingkan negara-negara tetangga. Tetapi lebih elok terlambat, daripada tidak sama sekali bukan. Indonesia memang terlambat, tapi kini bergerak untuk menjadi yang tercepat. (*)

*Tony Borneo adalah Pemimpin Redaksi Kate.id.

Comments

BERITA TERBARU

To Top